Tautan-tautan Akses

Tentara PBB Hadapi Tuduhan Baru Pelecehan Seks


Tentara penjaga perdamaian PBB ikut dalam sebuah upacara di Bangui, Republik Afrika Tengah, 15 September 2014. Puluhan tuduhan pelecehan seksual telah dilaporkan sejak misi tersebut didirikan pada April 2014.

Tentara penjaga perdamaian PBB ikut dalam sebuah upacara di Bangui, Republik Afrika Tengah, 15 September 2014. Puluhan tuduhan pelecehan seksual telah dilaporkan sejak misi tersebut didirikan pada April 2014.

Pasukan perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah menghadapi tuduhan baru pelecehan seksual. Tuduhan, yang menjadi masalah berulang bagi misi PBB di Republik Afrika Tengah, itu termasuk perkosaan empat perempuan muda di ibukota, Bangui.

Pasukan penjaga perdamaian PBB dan pasukan internasional di Republik Afrika Tengah dituduh melakukan pelecehan seksual dan perbuatan tak senonoh.

Menurut laporan media, dalam kasus terbaru, tentara dituduh memperkosa, mengeksploitasi secara seksual dan terlibat transaksi seks dengan empat perempuan muda, beberapa dari mereka tinggal dalam kamp pengungsi di ibukota, Bangui. Para korban, semua anak dibawah umur, sudah mendapat perawatan medis dan dalam perawatan UNICEF dan LSM.

Kepala misi penjaga perdamaian PBB, Parfait Onanga-Anyanga, dalam jumpa pers hari Rabu (6/1) mengatakan tidak akan ada "toleransi" dan "tidak ada ampun bagi pelaku."

Onanga mengatakan, tuduhan itu tidak hanya membuat prihatin pasukan PBB, tetapi juga pasukan internasional. Ditambahkan, penyelidikan sedang dilakukan bekerjasama dengan mitra PBB di Republik Afrika Tengah untuk menentukan siapa yang terlibat dan mengakhiri apa yang disebutnya "tindakan memalukan."

Ia mengatakan ketiga negara yang tentaranya terlibat kasus baru, telah diberitahu, tetapi ia menolak menyebut negara-negara itu.

Peta Republik Afrika Tengah

Peta Republik Afrika Tengah

Berdasar aturan PBB, terserah kepada negara asal tentara untuk menyelidiki dan mengadili tentara yang dituduh melakukan pelanggaran saat bertugas dalam misi PBB.

Menurut Onanga, komandan pasukan dan polisi bekerja sama membuat mekanisme untuk mengontrol pasukan internasional dengan lebih baik.

Tuduhan terbaru itu membuat jumlah pelecehan seksual yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian PBB dan pasukan internasional di Republik Afrika Tengah menjadi 26 kasus.

Tahun lalu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon memecat komandan pasukan MINUSCA yang beranggotakan 12.000 orang karena terjadi peningkatan jumlah kasus.

Panel independen bulan lalu menilai reaksi PBB yang terlambat itu sebagai "kegagalan institusi yang memalukan dalam menanggapi tuduhan dengan cara yang berarti." [ka/jm]

XS
SM
MD
LG