Tautan-tautan Akses

Tentara Bakar Markas dan Kantor Polisi di Sumatera Selatan


Humas Mabes Polri Irjen Suhardi Aliyus (kiri) dan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Boy Rafli saat menggelar konferensi pers di Jakarta terkait insiden di Sumatera Selatan, 7 Maret 2013. (VOA/Andylala).

Humas Mabes Polri Irjen Suhardi Aliyus (kiri) dan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Boy Rafli saat menggelar konferensi pers di Jakarta terkait insiden di Sumatera Selatan, 7 Maret 2013. (VOA/Andylala).

Puluhan anggota TNI yang marah atas tewasnya rekan mereka karena ditembak polisi, menyerang dan membakar satu markas kepolisian dan empat kantor polisi lainnya di propinsi Sumatera Selatan.

Puluhan anggota TNI dari Batalyon Armed, membakar kantor Polres Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan Kamis (7/3). Humas Markas Besar Kepolisian Nasional Irjen Pol Suhardi Alius mengatakan empat orang polisi termasuk kepala kepolisian sektor ditikam dalam serangan tersebut.

"Seluruh jajaran Polri sangat menyesalkan sekaligus prihatin dengan kejadian itu. Dimana sedikitnya 90 orang oknum anggota TNI mendatangi kantor polres dan melakukan pengrusakkan tanpa sepengetahuan pimpinannya. Yang dirusak dan dibakar yaitu kantor polres, dua pos polisi, kantor sub sektor polres dan beberapa mobil. Yang luka sementara ini ada empat orang, dua diantaranya dalam kondisi kritis," jelas Suhardi.

Suhardi menambahkan Mabes Polri dan Mabes TNI telah menerjunkan tim untuk menangani kasus pembakaran Polres Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan, untuk melakukan investigasi bersama kasus ini.

"Puluhan oknum anggota TNI yang melakukan penyerangan itu telah ditarik ke markas mereka oleh pimpinannya, karena mereka bergerak tanpa ijin pimpinannya. Mabes TNI telah menurunkan tim hari ini juga. Mabes Polri juga menerjunkan tim investigasi untuk melakukan penyelidikkan bersama. Situasi di lokasi kejadian sudah kondusif," tambahnya.

Dijelaskan Suhardi, tim investigasi dari Polri terdiri dari anggota profesi dan pengamanan (Propam) Mabes Polri dan dari Polda sumatera Selatan. Sementara tim yang diterjunkan Mabes TNI beranggotakan Polisi Militer (POM) TNI.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edi memastikan akan ada tindakan hukum terhadap puluhan oknum TNI yang melakukan penyerangan dan pembakaran kantor Polres Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan.

"Kalau jelas ditemukan dari investigasi itu ditemukan kesalahan, ya dihukum. Hukumannya itu tergantung dari tingkat kesalahan. Tentunya ada sebab mengapa (berbuat) mereka seperti itu," kata Jendral TNI Pramono Edi.

Anggota Komisi III DPR RI Eva Sundari kepada VOA melihat bentrokkan prajurit TNI dan Polri ini bersumber pada arogansi dari oknum TNI yang merasa tidak bisa diproses pidana saat melakukan tindakan yang melanggar hukum. Yang kedua adalah pengamanan sektor strategis yang selalu menjadi rebutan oknum TNI dan Polri.

"Ini kasus yang berulang-ulang ya. Artinya ada problem struktural di sistim politik kita. Saya menyoal soal penolakkan atau boikot dari pemerintah untuk menuntaskan rancangan undang-undang Peradilan Militer itu sebagai pokok masalah. Karena menempatkan argumen bahwa ada superioritas kelompok di dalam sistim hukum kita," kata Eva Sundari.

"Ini konyol. Karena kita tidak sedang berperang, tetapi semua tindak pidana yang dilakukan oknum TNI, tidak mau diproses dalam peradilan umum. Yang kedua, berkaitan dengan bagaimana mendefinisikan bisnis pengamanan sektor-sektor strategis. Ini kan jadi rebutan pihak TNI dengan Polri. Karena memang tidak terdefinisi dengan jelas antara petunjuk pelaksana dan petunjuk tertulis yang mengatur masalah itu," tambah Eva Sundari.

Komisi III DPR bersama Komisi 1 menurut Eva Sundari kemungkinan akan membentuk join komite untuk rapat bersama pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini.

Pembakaran kantor Polres Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan itu, berawal dari aksi unjuk rasa yang dilakukan puluhan anggota TNI di depan kantor polres itu. Mereka protes terkait meninggalnya Prajurit Satu TNI berinisial HO yang diduga ditembak oleh Brigadir Polisi berinisial WJ.

Penembakan tersebut diduga berawal, pada saat pelaku menjalankan tugasnya di depan sebuah pos polisi. Saat itu WJ sedang memeriksa seorang pelanggar lalu lintas. HO yang saat itu melintas mengendarai sepeda motor, tiba-tiba mengeluarkan pernyataannya ke arah WJ yang dianggap menghina. WJ kemudian mengejar HO dan kemudian terdengar suara letusan senjata api. HO tersungkur di jalan dan tewas seketika.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG