Tautan-tautan Akses

Tenda Ramadhan ala Komunitas Turki di Amerika, Hadirkan Tradisi dan Silaturahmi


Tenda Ramadhan Turki di Washington ini menyatukan komunitas keturunan Turki di daerah ini, sekaligus sarana pertemuan dengan warga setempat dari berbagai latar belakang.

Tenda Ramadhan Turki di Washington ini menyatukan komunitas keturunan Turki di daerah ini, sekaligus sarana pertemuan dengan warga setempat dari berbagai latar belakang.

Tenda Ramadhan menjadi kegiatan khas masyarakat muslim Turki di Amerika dalam merayakan bulan Ramadhan.

Di salah satu sudut di perempatan jalan Old Lee Highway, di kota Fairfax, sebuah tenda putih berukuran kira-kira 15 meter x 15 meter, berdiri di atas lahan yang luas. Di dalamnya terdapat puluhan meja makan yang sangat panjang, yang bisa menampung ratusan orang. Sementara di luar tenda, dua gubuk makanan dipenuhi dengan makanan khas Turki.

Puluhan orang mengantri untuk mengambil makanan yang dihidangkan secara gratis itu. Sementara anak-anak kecil, berebut mendapatkan gulali yang juga dibagikan secara cuma-cuma. Begitu adzan maghrib berkumandang, ratusan pengunjung yang hadir lantas berbuka puasa bersama.

Inilah suasana tenda Ramadhan yang diselenggarakan oleh komunitas Turki yang tinggal di sekitar Washington DC, yang tergabung dalam Asosiasi Persahabatan Turki-Amerika. Tenda Ramadhan yang diadakan selama tiga hari berturut-turut di akhir pekan itu, merupakan acara buka puasa bersama sekaligus silaturahmi.

Ketua Penyelenggara Tenda Ramadhan, Mustafa Akpinar, mengatakan ini adalah kesempatan yang tepat untuk saling mengenal satu sama lain.

Anak-anak dihibur dengan permainan panggung boneka.

Anak-anak dihibur dengan permainan panggung boneka.

“Ini adalah ajang dimana seluruh komunitas berkumpul bersama, tidak hanya warga keturunan Turki, tapi juga tetangga, teman, pejabat setempat. Acara ini juga sejalan dengan arti Ramadhan dimana orang-orang berkumpul bersama, duduk bersama, berbagi makanan di meja yang sama, saling berdialog dengan siapapun dari berbagai latar belakang,” ujar Mustafa.

Mustafa mengatakan sekitar 700 orang hadir malam itu. Mereka semua larut dalam suasana kebersamaan Ramadhan.

Januari Wiryawan, seorang remaja Indonesia berusia 17 tahun, datang bersama ibu dan adiknya. Ini merupakan pertama kalinya ia menghadiri acara Tenda Ramadhan.

“Makanannya enak, senang bisa berkenalan dengan Muslim disini, (Saya) jarang bertemu dengan Muslim karena kan minoritas. Menarik melihat orang-orang Islam yang bukan orang Indonesia, jadi bisa sekaligus mempelajari kultur negara lain,” kata Januari.

Tenda Ramadhan seperti ini sudah merupakan tradisi di Turki, yang 95 persen penduduknya beragama Islam. Setiap bulan puasa, hampir semua kota di negara itu mendirikan tenda besar dan mengadakan berbagai aktivitas Ramadhan di dalamnya.

Mustafa mengatakan, dengan membawa tradisi Tenda Ramadhan ke Amerika, ia sekaligus ingin memperkenalkan kepada masyarakat sekitar mengenai budaya Turki.

Makanan khas Turki dihidangkan untuk buka puasa.

Makanan khas Turki dihidangkan untuk buka puasa.

“Tujuan utama kami adalah menunjukkan bahwa orang Turki umumnya sangat toleran. Kami senang berteman dengan siapapun. Dan lewat acara ini kami mencoba mengedukasi non-Muslim mengenai Islam, mengenai Ramadhan… tidak seperti yang diperlihatkan di televisi,” ungkap Mustafa.

Senator Negara Bagian Virginia, Chap Peterson, menyambut baik acara yang terbuka bagi semua komunitas, baik Muslim maupun non-Muslim seperti dirinya.

“Saya senang teman-teman Muslim saya mengundang saya ke acara buka puasa bersama dan saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini, dan ini membantu saya menghargai kehidupan mereka dan saya harap mereka juga sebaliknya,” kata Senator Peterson.

Menurut Peterson, ini merupakan salah satu cara warga Amerika menghormati satu sama lain.

XS
SM
MD
LG