Tautan-tautan Akses

Temuan Baru: Vaksin Meningitis dapat Dikirimkan pada Suhu Ruangan

  • Jessica Berman

Seorang anak menerima vaksinasi meningitis di Nigeria (Foto: dok). Temuan baru menunjukkan vaksin meningitis dapat dikirimkan dan disuntikkan dengan aman pada suhu ruangan.

Seorang anak menerima vaksinasi meningitis di Nigeria (Foto: dok). Temuan baru menunjukkan vaksin meningitis dapat dikirimkan dan disuntikkan dengan aman pada suhu ruangan.

Penelitian baru menunjukkan bahwa vaksin bakteri meningitis kini dapat dikirim dan disuntikkan dengan aman tanpa pendinginan hingga empat hari.

Penelitian baru menunjukkan bahwa vaksin bakteri meningitis, yang sebelumnya harus disimpan dalam suhu dingin saat diangkut ke seluruh Afrika, sekarang dapat dikirim dan disuntikkan dengan aman tanpa pendinginan sampai empat hari. Pakar kesehatan masyarakat menyebut temuan ini berpotensi mengubah upaya imunisasi di negara tropis yang miskin sumber daya.

Fakta bahwa vaksin meningitis A dapat ditarik dari apa yang disebut "rantai dingin" dan dapat diangkut ke seluruh Afrika pada suhu ruangan berarti anak-anak dan remaja yang belum menerima vaksin tersebut, kini dapat memperoleh vaksin yang dapat menyelamatkan jiwa itu.

Terobosan itu diumumkan oleh pejabat kesehatan masyarakat internasional pada pertemuan American Society of Tropical Medicine and Hygiene di Atlanta, Georgia.

Godwin Enwere kepala Proyek Vaksin Meningitis, mengatakan temuan bahwa vaksin bisa diangkut sampai empat hari tanpa mesin pendingin atau bahkan kotak berisi es batu ini muncul setelah data stabilitas dievaluasi kembali secara ekstensif oleh para pengawas obat di India dan Kanada.

Proyek Vaksin Meningitis merupakan kerjasama antara Organisasi Kesehatan Dunia dan Program Teknologi Tepat Guna dalam Kesehatan, atau PATH.

Sebelum adanya temuan tersebut, lembaga obat menyarankan agar vaksin meningitis diangkut pada suhu antara dua sampai delapan derajat celcius. Kemampuan untuk mengangkut dengan aman pada suhu ruangan hingga 40 derajat akan memungkinkan vaksin itu mencapai puluhan ribu anak-anak yang membutuhkannya.

Enwere ingat bahwa selama wabah meningitis tahun lalu di Chad, obat tidak cukup untuk seluruh wilayah, dan pejabat kesehatan masyarakat hanya mampu untuk mengimunisasi anak-anak di tiga kecamatan. Puluhan ribu anak di Chad tidak terlindungi.

“Jadi, ini jelas menunjukkan bahwa bukan hanya kemanjuran vaksin tapi jika sistem sudah berkembang dimana vaksin ini dapat dibawa dan disuntikkan pada temperatur ruangan, cakupan vaksin akan meningkat. Jika kita punya informasi ini tahun lalu, Chad mungkin memberikan vaksin ini ke populasi yang lebih besar dan mungkin mereka tidak mengalami wabah,” ungkap Enwere.

Meningitis A adalah infeksi bakteri yang dapat berakibat fatal yang umum terjadi di daerah miskin sumber daya. Bakteri itu menyebabkan peradangan pada lapisan pelindung otak dan tulang belakang, kadang-kadang menyebabkan otak membengkak, memicu demam tinggi, sakit kepala, dan kebingungan.

Vaksin yang disebut MenAfriVac itu awalnya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan kawasan yang rentan meningitis di 21 negara Afrika. WHO memperkirakan 400 juta orang tinggal kawasan itu, yang membentang mulai dari Senegal sampai Ethiopia.

Sementara harga vaksin kurang dari lima ribu rupiah per dosis dan sangat efektif, hambatan terbesar adalah menjaganya agar tetap dingin dalam pengiriman sehingga tidak rusak sebelum sampai ke tujuan.

Para peneliti sekarang menyelidiki apakah vaksin rantai dingin lainnya dapat dikirimkan pada suhu ruangan. Secara khusus, mereka sedang mempelajari vaksin bakteri pneumonia, penyakit yang membunuh 500 ribu anak setiap tahun.
XS
SM
MD
LG