Tautan-tautan Akses

'Tembok Besar Jakarta' Dibangun untuk Atasi Banjir


Proses evakuasi banjir di Jakarta Timur (13/1). (VOA/Iris Gera)

Proses evakuasi banjir di Jakarta Timur (13/1). (VOA/Iris Gera)

Tembok sepanjang 35 kilometer itu merupakan pusat dari proyek yang akan menghabiskan biaya sampai $140 miliar dalam tiga dekade mendatang, dan juga mencakup reklamasi tanah untuk 17 pulau baru.

Jakarta telah meluncurkan skema miliaran dolar untuk membangun tembok laut besar untuk melawan banjir, namun keraguan muncul mengenai peluang keberhasilannya.

Tembok sepanjang 35 kilometer, melintasi Teluk Jakarta di utara, itu merupakan pusat dari proyek yang akan menghabiskan biaya sampai $140 miliar dalam tiga dekade mendatang, dan juga mencakup reklamasi tanah untuk 17 pulau baru.

Keseluruhan proyek ini akan menghasilkan bentuk burung Garuda.

Meski tujuannya untuk mencegah banjir, diharapkan sampai satu juta orang akan tinggal dan bekerja di pulau-pulau ini, dan membantu mengurangi tekanan di Jakarta yang sangat padat.

Para pendukung proyek tersebut, yang secara resmi dimulai minggu lalu dan dikelola oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan para ahli Belanda, mengatakan ini solusi jangka panjang.

"Ini situasi hidup dan mati," ujar Purba Robert M. Sianipar, pejabat senior Kementerian Keuangan yang berperan penting dalam proyek ini, menambahkan bahwa ratusan orang berisiko kehilangan nyawanya akibat banjir parah jika tidak ada tindakan yang diambil.

Namun beberapa pihak ragu apakah rencana ambisius itu dapat dituntaskan, mengingat catatan buruk negara ini dalam proyek-proyek infrastruktur, seperti rencana untuk membangun monorel di Jakarta yang bermasalah enam tahun lalu.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan ketidaksetujuan dengan pemerintahan yang akan datang dapat membuat proyek itu tidak memenuhi jadwal.

Pihak lain mempertanyakan pendekatan proyek, dengan mengatakan skema itu tidak akan menghentikan tenggelamnya kota ini, sementara korupsi juga berbahaya karena para pejabat terkadang memberi tender pada perusahaan yang tidak layak dengan imbalan uang.

Beberapa bagian dari pesisir di Jakarta utara, yang dibangun di atas tanah lempung lunak, setuap tahun turun 14 sentimeter, yang berarti kota ini dapat berada di beberapa meter di bawah permukaan laut dalam beberapa dekade, menurut mereka yang ada di belakang proyek tembok laut.

"Pada dasarnya kita memompa diri ke tanah," ujar Victor Coenen, dari perusahaan konsultansi Belanda, Witteveen and Bos, yang merancang masterplan untuk proyek tersebut.

Penurunan permukaan tanah juga berarti 13 sungai di Jakarta bisa turun di bawah permukaan air laut dan berhenti mengalir, meningkatkan risiko banjir.

Pekerjaan membuat tembok ini akan dimulai dengan tembok utama, yang akan berdiri sepanjang enam sampai delapan kilomter dari pesisir dan tujuh meter di atas permukaan laut.

Konstruksi tembok akan selesai antara 2025 dan 2030, sementara pembangunan pulau-pulau -- yang akan memiliki perumahan mewah sampai sederhana -- dapat menghabiskan satu dekade berikutnya.

Sebuah waduk besar akan dibangun antara pulau-pulau tersebut dan tembok, tempat air dari hujan akan ditampung jadi tidak menggenangi kota, dan tempat aliran sungai akan masuk secara bebas.

Rencana yang sedang dirancang adalah untuk memperlambat penurunan permukaan tanah dengan menyediakan air pipa dari daerah lain ke Jakarta untuk menghentikan ekstraksi air tanah. (AFP)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG