Tautan-tautan Akses

Telah Dirilis Peta Gempa Indonesia Terbaru

  • Wella Sherlita

Lokasi Gempa di Padang, Sumatera Barat tanggal 30 September 2009 yang berkekuatan 7,6 skala Richter (foto: USGS).

Lokasi Gempa di Padang, Sumatera Barat tanggal 30 September 2009 yang berkekuatan 7,6 skala Richter (foto: USGS).

Tim Revisi Peta Gempa Indonesia telah mengeluarkan kajian terbaru mengenai lokasi rawan gempa yang padat penduduk, serta usulan mitigasi untuk mengurangi resiko bencana.

Saat ini Indonesia telah memiliki peta bahaya gempa baru, yang disusun oleh tim revisi peta gempa Indonesia dengan menggunakan pendekatan probabilitas di batuan dasar. Peta baru ini dibuat untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, menyusul sejumlah gempa berkekuatan tinggi dalam enam tahun terakhir, terutama tsunami di Aceh tahun 2004.

Dalam paparannya di Bina Graha, Jakarta, Jumat 16 Juli lalu, Ketua Tim Revisi Peta Gempa Indonesia, Profesor Masyhur Irsyam, menjelaskan peta tersebut akan digunakan untuk memperkirakan besarnya beban gempa dan perencanaan infrastruktur yang tahan gempa. Dengan infrastruktur yang lebih aman, diharapkan dapat mengurangi jumlah korban jiwa dan kerusakan material.

“Kalau kita lihat banyak jumlah korban, sebetulnya bukan gempanya yang mematikan, tetapi bangunan rusaklah yang mengambil korban jiwa. Maka fokus kami pada kualitas bangunan dan besarnya goncangan. Ini dua hal yang saling menentukan. Kita gunakan bangunan tahan gempa. Kedua, tergantung goyangan tanahnya. Ini tergantung jarak dan magnitude gempa serta kondisi geologi,” jelas Masyhur.

Data-data yang digunakan oleh tim perumus peta gempa antara lain berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Mineral, Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Badan Survey Geologi Amerika (USGS). USGS juga ikut menyediakan perangkat lunak untuk pemetaan daerah gempa.

Kabupaten Pariaman Masih Terbengkalai Pasca Gempa.

Sementara itu, setahun setelah gempa di Sumatera Barat, Kabupaten Pariaman masih terbengkalai. Puluhan rumah dan bangunan sekolah yang rubuh masih belum diperbaiki, dan warga tetap kesulitan air bersih. Di Desa Pakasai, Kecamatan Pariaman Utara, 16 kepala keluarga bergantung pada satu instalasi air bersih, yang dibangun atas bantuan lembaga donor internasional. Yuniar, seorang ibu dengan tiga anak, bercerita kepada VOA.

“Sebelumnya kami susah ambil airnya, itu (mata air) ada di bawah sana, susah kalau mau mencuci juga susah, payah kali mendakinya…(Untuk giliran ambil air di instalasi air yang baru) kami kan ramai, jadi ya ganti-gantian ambil airnya (supaya warga semua kebagian)… Ini ada iurannya Rp3000 per bulan. Kami maunya dibangun satu sumur lagi,” kata Yuniar.

Selain air bersih dan pembangunan rumah, warga setempat juga meminta pemerintah memperbaiki jaringan listrik. Hampir setiap rumah di Desa Pakasai mengerjakan kerajinan bordir. Usaha ini tidak mungkin berjalan, tanpa aliran listrik untuk mesin jahit dan bordir.

“Kami banyak rumah ndak ada lampu, jadi ndak bisa kami menjahit ini, kata orang PLN talinya itu harus ditukar…Ini pakainya 900 tapi rata-rata 400 watt, tiap rumah buat mukena, tapi lampu itu tidak cukup api (listrik) nya,” jelas Yuniar lagi.

Oleh karena itu, pembenahan infrastruktur pasca gempa sangat diharapkan oleh masyarakat setempat.

XS
SM
MD
LG