Tautan-tautan Akses

Teknologi Tidak Bisa Gantikan Silaturahmi Lebaran

  • Nurhadi Sucahyo

Silaturahmi lebaran (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Silaturahmi lebaran (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Kartu ucapan Lebaran langsung tidak digunakan ketika era pesan pendek melalui telepon selular mulai menggantikan perannya. Namun, silaturahmi secara fisik ternyata tetap bertahan, setidaknya hingga hari raya tahun ini.

Ucapan selamat melalui pesan pendek atau situs jejaring sosial kini telah menggantikan kartu Lebaran yang dulu selalu dikirimkan kepada kerabat, teman atau relasi. Namun ternyata kehadiran teknologi tidak serta merta menghapus tradisi saling berkunjung atau silaturahmi. Setidaknya, tradisi itu masih terus dilakukan pada Lebaran tahun ini, oleh sebagian besar keluarga di Indonesia. Adib Sofia, seorang dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta kepada VOA mengatakan, teknologi mempermudah silaturahmi, tetapi bertemu secara fisik tetap tidak dapat digantikan. Baginya, kehadiran telepon pintar atau situs jejaring sosial seperti Facebook, adalah unsur pelengkap saja. Saling berkirim ucapan tidak bisa menggantikan pertemuan, di mana dia dan saudara atau kawan-kawannya dapat bertukar cerita lebih panjang.

Adib Sofia berharap, anak-anaknya dapat memahami peran teknologi seperti pemahamannya saat ini. Karena itulah, dia selalu mengajak anaknya terlibat dalam pertemuan keluarga besar seusai Lebaran. Di lingkungan sahabatnya, kehadiran teknologi juga dimaknai sebagai alat silaturahmi. Situs jejaring sosial diposisikan bukan sebagai pengganti pertemuan fisik, tetapi justru elemen yang membuat perencanaan pertemuan semacam reuni kawan sekolah atau kuliah menjadi lebih mudah dilaksanakan.

Pengamat sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UGM, Dr Hempri Suyatna melihat, kehadiran telepon pintar dan situs jejaring sosial tidak bisa serta merta menghapus tradisi berkunjung dan berkumpul di hari Lebaran. Setidaknya, dalam 10 atau 15 tahun ke depan, tradisi serupa masih akan terus dilaksanakan, terutama di keluarga-keluarga yang melibatkan anak-anak mereka secara aktif. Justru tantangannya saat ini bagi orang tua di Indonesia adalah meneruskan tradisi bertemu secara fisik, agar generasi muda tidak melihat kehadiran teknologi sebagai pengganti acara-acara semacam itu.

Hempri mengatakan, tidak mudah untuk memperkirakan masa depan tradisi berkunjung di hari Lebaran. Barangkali, ketika komunikasi jarak jauh semakin mudah dan situs jejaring sosial memungkinkan pemakainya bertukar cerita setiap saat, pertemuan fisik bisa dianggap tidak diperlukan lagi. Namun, jika para orang tua berkomitmen meneruskan tradisi ini, setidaknya dalam satu generasi ke depan, dia meyakini Lebaran masih akan diwarnai dengan saling berkunjung dan pertemuan keluarga besar.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG