Tautan-tautan Akses

Tekanan Meningkat bagi Jokowi untuk Ungkap Kasus Munir

  • Kate Lamb

Seorang demonstran membawa poster Munir Said Thalib dalam sebuah demonstrasi di depan kantor Badan Inteljen Negara (BIN) di Jakarta.

Seorang demonstran membawa poster Munir Said Thalib dalam sebuah demonstrasi di depan kantor Badan Inteljen Negara (BIN) di Jakarta.

Sepuluh tahun setelah pembunuhan aktivis HAM Indonesia Munir Said Thalib, kasus itu masih belum tuntas, tetapi tidak terlupakan.

Menjelang pelantikan Presiden terpilih Joko Widodo, tekanan meningkat terhadap Presiden reformis baru itu untuk membuka kembali penyelidikan kasus Munir.

Ketika hak-hak sipil dan kebebasan berbicara ditekan, Munir Said Thalib berjuang keras untuk mengungkap pelanggaran yang dilakukan oleh negara.

Pada awal masa peralihan demokrasi yang bergejolak, Munir membantu mengungkap bukti-bukti keterlibatan militer dalam pelanggaran HAM di Timor Timur dan Aceh. Ia juga menuduh dua tokoh pejabat tinggi Badan Inteljen Negara BIN terlibat dalam dua penumpasan oleh militer yang sangat fatal, termasuk penculikan dan penghilangan aktivis mahasiswa dalam kerusuhan yang mendorong jatuhnya mantan Presiden Soeharto.

Tetapi mengungkapkan kebenaran pada penguasa menimbulkan konsekuensi bagi Munir. Dalam pesawat Garuda Indonesia menuju Amsterdam tanggal 7 September 2004, Munir diracun dengan dosis sangat tinggi dan meninggal sebelum pesawat mendarat.

Belum jelas apakah Munir diracun dalam pesawat Garuda Indonesia itu atau ketika ia transit di Singapura, tetapi banyak pihak yakin orang-orang yang berada di balik kematiannya belum pernah diadili.

Ardi Mantro Aridputra – peneliti di IMPARSIAL – sebuah LSM yang mengawasi pelaksanaan HAM di Indonesia dan dipimpin Munir sebelum ia meninggal, mengatakan kasus itu merupakan ujian bagi Indonesia.

Tiga staf Garuda Indonesia telah divonis terlibat dalam pembunuhan Munir, tetapi diyakini mereka tidak bertindak sendiri.

Sejumlah aktivis menduga orang-orang yang divonis itu bertindak atas perintah yang dikeluarkan oleh Badan Inteljen Negara (BIN), mengutip bukti panggilan telfon dan pertemuan antara seorang tersangka yang kini dipenjara – Pollycarpus Budihari Priyanto dan wakil ketua BIN saat itu. Tetapi dalam sidang pengadilan, para aktivis mengatakan bukti-bukti itu dihilangkan dan saksi-saksi kunci menarik kesaksian mereka.

Dalam kawat diplomatik Amerika tahun 2007 yang dibocorkan oleh WikiLeaks, disebut bahwa beberapa saksi mata menuduh Kepala BIN saat itu – Jenderal Abdullah Mahmud Hendropriyono, “memimpin sejumlah pertemuan yang merencanakan pembunuhan Munir”.

Jokowi, agaknya demi alasan politik telah menunjuk dua tokoh dengan rekam jejak HAM yang dipertanyakan, masuk dalam lingkaran dalamnya, salah satu di antaranya adalah Hendropriyono, tokoh yang disebut dalam kawat WikiLeaks itu.

XS
SM
MD
LG