Tautan-tautan Akses

TB Banyak Diderita Kalangan Atas di Eropa Abad 18

  • Jessica Berman

Periset menemukan bakteri TB pada mummi warga Hungaria, Terézia Hausmann (foto: dok. Hungarian Natural History Museum).

Periset menemukan bakteri TB pada mummi warga Hungaria, Terézia Hausmann (foto: dok. Hungarian Natural History Museum).

Para periset telah menemukan bakteri tuberkulosis (TB) pada sisa jasad manusia Hungaria yang sudah berusia lebih dari 200 tahun lalu.

Temuan tersebut mengungkap bahwa tuberkulosis (TB) banyak diderita kalangan atas Eropa pada abad ke 18, memberi gambaran berbeda penyakit itu dari masa sekarang.

Saat ini, TB umumnya menjangkiti orang miskin dan mereka yang terinfeksi virus AIDS di negara maju.

Tapi bukan demikian halnya di Eropa 2,5 abad lalu karena kalangan kelas atas juga terkena penyakit paru-paru yang mematikan ini.

Delapan dari 26 mayatyang diawetkan yang ditemukan di peti-peti berhias di Gereja Dominican di Vac (VATS) Hungaria menyimpan gen TB. Ada beberapa virus TB pada lima mummi tersebut.

Mark Pallen dari Universitas Warwick di Inggris mengatakan bukti-bukti menunjukkan, pada jaman tersebut orang umum terinfeksi lebih dari satu virus TB secara bersamaan.

"Pada jaman sekarang biasanya seseorang terkena satu jenis virus dan itulah asumsi kita mengenai TB. Tapi kami mendapati tidak demikian, dan kami menemukan dua atau tiga gen berbeda pada satu orang dari sampel-sampel ini," ujarnya.

Pallen mengatakan periset mendapati seorang ibu dan anak perempuan yang terinfeksi berbagai virus TB dan mungkin saling menularkan.

DNA dengan mudah diperoleh dari sample jaringan mumi tersebut. Tim Pallen menggunakan sebuah teknik yang disebut "metagenomics “untuk mengenali DNA TB langsung pada sampel-sampel jaringan, daripada menggunakan cara yang lebih sulit dengan menumbuhkan bakteri untuk dianalisa.

Karena berbagai virus TB ditemukan dalam lima mummi tersebut periset memperkirakan banyak orang ketika itu terinfeksi TB yang menyebar dengan mudah.

Kini periset mengatakan berbagai infeksi telah ditemukan di Afrika Selatan yang rentan dengan kasus HIV dan kebal anti biotik.

Terinfeksi lebih dari satu bakteri TB menyulitkan perawatan penyakit itu dengan cara-cara lama.

Pallen mengatakan petugas kesehatan mungkin kini mulai punya pendapat lain mengenai diagnosa dan perawatan TB.

"Saya tidak bisa mengklaim telah mengubah bidang penyakit ini, melainkan caraorang berfikir dan membuat orang lebih berhati-hari mengenai asumsi apa yang kita lakukan saat ini," tambahnya.

Pallen mengatakan analisa mutasi dalam sample-sample TB baik yang lama maupun baru menunjukkan bakteri TB sudah ada hampir 6000 tahun lalu sampai periode akhir Romawi.

Artikel mengenai analisa jenazah mumi abad ke 18 itu diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.

XS
SM
MD
LG