Tautan-tautan Akses

AS

Tantangan bagi Kaum Muda Muslim di Amerika


Remaja muslim dari sekolah Islam Al-Rahmah di Baltimore, Maryland menyambut kunjungan Presiden AS Barack Obama 3 Februari lalu (foto: ilustrasi).

Remaja muslim dari sekolah Islam Al-Rahmah di Baltimore, Maryland menyambut kunjungan Presiden AS Barack Obama 3 Februari lalu (foto: ilustrasi).

Setahun terakhir ini keberadaan warga Muslim di Amerika mendapat sorotan luas. Meskipun warga Muslim hanya satu persen dari total penduduk Amerika, tetapi isu tentang warga Muslim-Amerika hampir menjadi pembicaraan sehari-hari.

Pernyataan-pernyataan kontroversial unggulan calon presiden Partai Republik Donald Trump dan insiden penembakan klub malam di Orlando, Florida kembali menyorot keberadaan warga Muslim-Amerika. Mereka yang anti-Muslim mengatakan Amerika sedang memerangi warga Muslim di dalam dan luar negeri.

Banyak pihak – termasuk media – menyalahgunakan terminologi “Islam radikal” atau “teroris Islam” yang akhirnya menimbulkan stigma tertentu terhadap warga Muslim-Amerika. Walhasil tidak sedikit warga Muslim yang merasa mendapat perlakuan berbeda atau bahkan menjadi korban retorika yang tidak bertanggungjawab itu.

Di sisi lain, Presiden Obama dengan tegas mengatakan bahwa kelompok-kelompok radikal telah menyelewengkan Islam demi untuk menjustifikasi tindakan teror.

Banyak tokoh yang bersuara lantang mengatakan bahwa banyak warga Muslim-Amerika, khususnya anak-anak muda yang bermigrasi ke Amerika ketika masih kanak-kanak atau bahkan dilahirkan di Amerika, justru berjuang dan menghasilkan yang terbaik untuk Amerika.

Dalam diskusi yang dilangsungkan VOA di Newseum – Washington DC Selasa pagi (28/6), Direktur Eksekutif Somali-American Youth Foundation Mohamed Hussein dengan jujur mengakui sulitnya berdamai dengan dirinya sendiri dan juga lingkungan sekitar dengan stigma yang melekat pada warga Muslim-Amerika.

“Ada pergolakan dalam diri saya, tidak saja karena saya warga Muslim-Amerika, tetapi juga karena saya keturunan Somalia, saya berkulit hitam, saya dinilai masih muda dan mungkin kurang berpengalaman. Begitu banyak identitas yang membuat saya harus berdamai dengannya.

"Tapi ini proses yang harus saya pelajari dan jalani seumur hidup. Saya rasa proses ini juga dijalani oleh orang tua saya ketika bermigrasi ke negara ini, dari kelompok mayoritas menjadi kelompok minoritas. Saya juga merasakan hal itu," kata Hussein.

Othman Altalib – anggota dewan di Adams Center – pusat komunitas Muslim terbesar di Amerika Utara mengakui hal ini. Banyak warga Muslim-Amerika, khususnya anak-anak muda, yang datang ke pusat komunitas itu dengan beragam pertanyaan dan kegusaran menghadapi tantangan di sekeliling mereka.

“Sebagai salah satu pusat komunitas terbesar kami merasakan tantangan yang dirasakan anak-anak muda ini. Misalnya saja dalam kasus Omar Mateen – yang melakukan penembakan di klub malam di Orlando, Florida. Ia seorang anak muda Muslim yang dibesarkan di Amerika dan memiliki hasrat homoseksual. Menjadi Muslim dengan hasrat homoseksual saja sudah membuatnya harus berdamai dengan isu itu. Dan hal seperti ini juga dialami banyak orang. Anak-anak muda yang ingin hidup sebagaimana anak muda lain di Amerika, tetapi ada nilai-nilai yang harus mereka junjung sebagai warga Muslim atau sebagai keturunan kelompok atau negara tertentu," ujar Othman.

Tetapi menurut Othman, hanya sedikit yang terpicu melakukan aksi kekerasan karena gagal menyelesaikan pertentangan konflik dalam diri mereka. Mohamed Hussein dengan tegas mengatakan mereka yang melakukan aksi kekerasan justru tidak pernah ke masjid atau bergaul dengan komunitas lain.

“Banyak ekstremis atau mereka yang menimbulkan stigma buruk bagi Islam sebenarnya tidak pernah ke mesjid. Jadi sulit menentukan siapa yang terpapar pada ekstremisme karena mereka memang tidak pernah ke mesjid. Ada yang introvert dan asosial yang lebih memilih baik mendapatkan informasi melalui internet, dan mereka terpapar pada ekstremisme melalui internet atau media sosial. Ironisnya ketika mereka akhirnya terpicu melakukan aksi kekerasan, yang menanggung akibatnya adalah kita semua,” tambah Hussein.

Menurut riset PewCenter terbaru, 30% warga Muslim-Amerika yang berusia di bawah 30 tahun tidak bekerja. Menurut Mohammed Hussein tidak jarang hal ini disebabkan karena stigma buruk yang terlanjur melekat pada mereka.

“Banyak anak muda Muslim yang datang pada kami dan merasa kecewa karena sulit mendapatkan pekerjaan hanya karena mereka berjanggut atau mengenakan pakaian Muslim, atau menjalankan ibadah. Kami senantiasa berupaya mendorong kepercayaan diri mereka, mendengar keluhan-keluhan itu, mencoba mencarikan pekerjaan lain, bahkan tak jarang mendatangi tempat kerja mereka untuk menyampaikan keberatan jika memang isu itu menjadi persoalan besar,” tutur Hussein.

Diskusi VOA yang berlangsung di Newseum ini juga menyentuh banyak isu lain seperti soal upaya mencegah radikalisasi lewat internet, perubahan sikap pasca insiden penembakan atau munculnya pernyataan kontroversial, transisi menuju budaya Barat, partisipasi warga Muslim-Amerika dalam pemilu dan lain-lain. [em/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG