Tautan-tautan Akses

Tantangan bagi Generasi Muda Muslim Amerika


Remaja Muslim Amerika tetap melakukan olahraga meskipun menjalankan puasa Ramadan di musim panas (foto: dok). Hampir 60 persen Muslim dewasa di Amerika berusia antara 18 sampai 39 tahun.

Remaja Muslim Amerika tetap melakukan olahraga meskipun menjalankan puasa Ramadan di musim panas (foto: dok). Hampir 60 persen Muslim dewasa di Amerika berusia antara 18 sampai 39 tahun.

Hampir 60 persen Muslim dewasa di Amerika berusia antara 18 sampai 39 tahun, yang merupakan kesempatan juga tantangan karena jumlah kelompok usia muda Muslim yang besar.

Survei oleh Pusat Riset Pew yang dirilis bulan Agustus 2011 menunjukkan 59 persen Muslim dewasa di Amerika berusia antara 18 sampai 39 tahun, dibandingkan dengan 40 persen orang dewasa dalam masyarakat Amerika secara umum.

Keterlibatan dua pemuda Muslim dalam pemboman Marathon Boston sekali lagi mengingatkan warga Muslim Amerika bahwa anak-anak muda dalam komunitas mereka dapat disalahgunakan untuk menyebarkan teror dan kekerasan. Banyak pengamat meyakini tokoh masyarakat perlu berperan dalam mencegah anak-anak dari kekerasan.

Imam Johari dari Masjid Dar Al-Hijrah di pinggiran kota Washington mengatakan ia dan para pemimpin lain seperti dirinya menyebarkan pesan non-kekerasan.

"Saya memberitahu generasi muda tentang sejarah warga Afrika-Amerika. Bahwa kita bisa menciptakan perubahan sosial, dan bukan kekerasan yang membebaskan kaum Negro. Itu merupakan kesediaan warga kulit putih, kulit hitam, orang-orang beragama dan pemimpin pemerintahan untuk bekerja sama dan mengatakan sistem ini bertentangan dengan konstitusi Amerika dan Tuhan. Dan kita berhasil melakukannya," kata Johari.

Peter Skerry dari Institusi Brookings baru-baru ini menulis artikel tentang tantangan asimilasi pemuda Muslim.

"Para pemimpin Muslim Amerika tidak memposisikan diri dengan baik untuk berbicara kepada pemuda Muslim Amerika atau Muslim Amerika pada umumnya. Mereka tidak konsisten dan itu hanya merongrong posisi mereka," ujar Skerry.

Tapi Imam Johari mengatakan untuk menjauhkan kaum muda dari kekerasan membutuhkan kerja sama dari seluruh masyarakat.

"Tidak ada yang namanya kanker Muslim, hipertensi Muslim atau kekerasan Islam. Mereka hanyalah pemuda yang terjebak dalam sesuatu yang terkait dengan hubungan pribadi dan masalah emosional mereka sendiri. Kami semua melakukan apa yang kami bisa, tapi kami tidak bisa melakukannya sendiri. Ini merupakan masalah yang harus kita tangani bersama-sama," ungkap Johari.

Para pakar yakin orang tua seharusnya menjadi yang pertama untuk mengetahui apakah anak mereka berhubungan dengan kelompok radikal atau mengikutinya di Internet. Masood Khan dan istrinya memiliki empat anak remaja, dan mengatakan keluarganya menyadari bahaya itu.

"Istri saya sangat keras akan hal ini, dan kita tahu apa yang mereka lakukan. Kami memantau keempat anak kami, dua perempuan dan dua laki-laki, dan apa yang mereka lakukan di internet dan komputer. Kami tahu apa yang mereka lakukan," papar Khan.

Khan mengatakan orang tua harus tetap terlibat dengan anak mereka dan bahwa anak harus didukung dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan keagamaan dan sosial. (Kokab Farshori/VOA).
XS
SM
MD
LG