Tautan-tautan Akses

Tak Ada Lagi Putri Tak Berdaya dalam Film Adaptasi Dongeng Klasik

  • Penelope Poulou

Putri Salju versi modern ikut bertempur dalam perang dan menyelamatkan pangeran (Foto: VOA).

Putri Salju versi modern ikut bertempur dalam perang dan menyelamatkan pangeran (Foto: VOA).

Film-film yang mengadaptasi dongeng-dongeng klasik baru-baru ini lebih banyak menampilkan karakter-karakter putri yang lebih cerdik dan berani.

Film-film tentang dongeng yang diluncurkan baru-baru ini menampilkan putri-putri yang kuat dan teremansipasi, termasuk film Brave keluaran Disney yang sedang diputar di bioskop-bioskop di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Brave menampilkan putrid Skotlandia bernama Merida, yang menentang tradisi dan menolak pernikahan. Sementara itu, baru-baru ini ada dua versi film non-animasi yang menampilkan Putri Salju, atau Snow White, sebagai putri yang cerdik dan siap bertempur. Pertanyaannya adalah apakah penggambaran yang baru seperti itu dapat memuaskan penonton muda?

Pada 1937, studio Disney meluncurkan Snow White and the Seven Dwarfs (Putri Salju dan Tujuh Kurcaci) yang menangkap imajinasi anak-anak di seluruh dunia. Putri yang karakternya berasal dari dongeng karya Grimm itu digambarkan sebagai rapuh dan tak berdaya, menunggu pangeran menyelamatkannya dari ibu tiri yang jahat.

Namun dongeng-dongeng ini telah diciptakan kembali. Brave, misalnya, membawa kita ke Skotlandia dan berkenalan dengan Merida, putrid yang menolak dinikahkan dan pandai memanah. Pada Mirror Mirror, Putri Salju digambarkan sebagai berani dan cerdas. Ia memang masih berakhir di pelukan pangeran, tapi ia juga mampu memperdaya ratu dan mengambil alih kerajaan.

Versi kedua Putri Salju, Snow White and the Huntsman, memiliki warna yang lebih suram. Sang ibu tiri memiliki jiwa yang kelam, sementara Putri Salju berperang untuk kerajaannya dan bahkan menyelamatkan sang pangeran.

Film-film ini dan film lain yang serupa membangkitkan minat anak-anak untuk dongeng, ujar Wendy Tucker, seorang pustakawati dari sebuah sekolah dasar di daerah Washington.

”Setelah melihat film-film tersebut, mereka jadi ingin membacanya bukunya, yang menurut saya hal yang bagus,” kata Tucker. “Saya mencoba mendorong mereka membaca bukunya sebelum menonton filmnya. Seringkali mereka telah melihat filmnya terlebih dulu dan saya mengatakan bahwa ada bukunya. Mereka terlihat antusias,” tambahnya.

Meski menikmati interpretasi baru dari dongeng-dongeng tersebut, anak-anak rupanya masih mengapresiasi versi klasiknya.

Seorang murid perempuan dari sekolah dasar tersebut mengatakan dongeng klasik memberikan pandangan yang berbeda dari periode-periode waktu yang berbeda dan bagaimana orang-orang bereaksi pada waktu itu. “Dongeng-dongeng itu juga memasukkan unsur sihir dan fantasi,” ujarnya.

Teman perempuannya menambahkan, “Terkadang saya menyukai betapa elegan dan tenang kisah-kisah lama teresebut. Namun terkadang saya ingin melihat produksi yang besar (mengenai dongeng tersebut) di depan saya.”

Pada jaman dulu, para orang tua membacakan dongeng-dongeng tersebut untuk memberi pelajaran pada anak-anak mereka, ujar Wendy Tucker.

“Para orang tua ingin menekankan bagaimana suramnya sesuatu hal supaya kebaikan atau keindahan menjadi bersinar. Banyak dongeng dan fabel diceritakan pada anak-anak sebelum televise dan radio diciptakan sebagai cara orangtua untuk mengontrol anak-anak dan mengajarkan mereka kebaikan melawan kejahatan,” kata Tucker.

Cerita-cerita tersebut masih diajarkan saat ini, namun pelajarannya menjadi lebih modern.
XS
SM
MD
LG