Tautan-tautan Akses

Manfaat Medis Ganja Belum Terbukti

  • Associated Press

CEO Klub Cannabis Alaska Charlo Greene menghisap sebuah lentingan ganja di sebuah apotik mariyuana di Anchorage, Alaska. Alaska adalah salah satu negara bagian di AS yang melegalkan mariyuana.

CEO Klub Cannabis Alaska Charlo Greene menghisap sebuah lentingan ganja di sebuah apotik mariyuana di Anchorage, Alaska. Alaska adalah salah satu negara bagian di AS yang melegalkan mariyuana.

Mariyuana untuk kepentingan medis tidak terbukti dapat membantu dengan sejumlah penyakit, menurut analisis komprehensif pertama mengenai potensi manfaat ganja.

Peneliti menemukan bukti kuat bahwa ganja dapat membantu mengurangi rasa sakit yang kronis dan melemaskan otot yang kaku. Namun tidak ada bukti cukup bahwa ganja dapat membantu sejumlah kondisi, seperti kegelisahan, gangguan tidur, dan sindrom Tourette, sehingga peneliti merekomendasikan studi lebih lanjut untuk menetapkan manfaat ganja untuk membantu penyakit-penyakit tersebut. Peneliti mengevalusi 79 studi yang melibatkan 6.000 pasien.

Analisis ini diterbitkan di Journal of the American Medical Association. Dalam edisi yang sama, sebuah artikel lainnya mengangkat studi yang menemukan bahwa berbagai merek produk makanan dari mariyuana tidak mencantumkan dengan akurat daftar bahan aktifnya. Lebih dari separuh di antara mereka ternyata mengandung ganja dalam kadar lebih rendah dari yang tertera di label, yang berarti konsumen tidak akan merasakan efek ganja di dalamnya.

Para ilmuwan yang terlibat dalam analisis ini mengumpulkan hasil dari studi-studi yang menguji mariyuana dan membandingkannya dengan plasebo, perawatan tanpa ganja dan tanpa perawatan sama sekali - jenis metode yang paling ketat. Kebanyakan studi tidak menemukan bukti yang konklusif akan adanya manfaat ganja, selain efek samping yang umum seperti rasa pusing, mulut yang kering dan rasa kantuk. Peninjuan terhadap riset yang lebih sederhana juga menunjukkan hasil serupa.

Masih ada kemungkinan mariyuana benar-benar memiliki banyak manfaat, tapi bukti kuat dari studi berkualitas tinggi masih kurang, menurut penulis kedua artikel.

"Ini bukan obat ajaib tapi pastinya punya sejumlah potensi," kata Dr. Robert Wolff, salah seorang penulis dan peneliti dari Kleijnen Systematic Reviews Ltd., sebuah badan riset di York, Inggris.

Pengujian independen di laboratorium terhadap 47 merek produk makanan dan minuman mengandung mariyuana yang diperoleh dari apotik Los Angeles, San Francisco dan Seattle, menemukan pencantuman kandungan THC yang tidak akurat pada 13 dari 75 produk. THC adalah bahan aktif utama mariyuana. Hampir 25 persen di antaranya mengandung kadar THC yang lebih tinggi dari yang tertera di label, yang dapat menyebabkan efek samping. Sebagian besar memiliki kandungan THC yang lebih rendah. Demikian pula halnya dengan kandungan bahan aktif lainnya. Penelitan tidak menyebut nama-nama merek tersebut.

Peneliti dari Johns Hopkins University Ryan Vandrey, yang menulis artikel, mengatakan ia tidak terkejut dengan temuannya. Walaupun begitu, tim peneliti mencatat, hasilnya boleh jadi berbeda di lokasi lain.

Washington, D.C., dan 23 negara bagian memiliki hukum yang memperbolehkan penggunaan mariyuana untuk kepentingan medis, seperti untuk penyakit Alzheimer, epilepsi, glaukoma, penyakit ginjal, lupus dan Parkinson.

Editorial di jurnal menyebut rancangan undang-undang yang melegalkan mariyuana mengacu pada penelitian-penelitian yang berkualitas rendah, kesaksian dari pasien dan bukti-bukti lainnya yang tidak ilmiah.

Mariyuana ilegal di bawah hukum federal dan sejumlah peneliti menyebut banyak riset terbentur peraturan pemerintah yang menyatakan mariyuana sebagai zat terlarang tanpa memberi perkecualian untuk penggunaan medis. Namun ini boleh jadi akan berubah dengan pengumuman baru-baru ini dari Departemen Kesehatan AS yang menyatakan akan mempermudah birokrasi bagi riset mariyuana yang didanai swasta.

Colorado, salah satu negara bagian yang mengizinkan penggunaan mariyuana untuk keperluan rekreasi, telah menyisihkan lebih dari $8 juta dana bagi sejumlah studi mengenai potensi manfaat mariyuana, termasuk apakah ganja dapat membantu mengendalikan gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder) yang lazim bagi para veteran. Studi ini kemungkinan akan mulai merekrut peserta tahun ini juga, ujar Vandrey, salah satu yang akan memimpin penelitian tersebut.

Vandrey mengatakan para ilmuwan optimis "kita akan mulai melihat landasan ilmiah yang kuat" bagi manfaat penggunaan medis mariyuana.

Tajuk rencana di jurnal yang ditulis oleh dua psikiater dari Yale University mengatakan antusiasme bagi ganja untuk keperluan medis telah bertumbuh lebih cepat dibandingkan riset ilmiahnya, dan menyarankan masyarakat menanti bukti lebih kuat sebelum mulai menggunakan mariyuana. Pemerintah federal maupun negara bagian harus mendukung dan mendorong riset-riset tersebut, ujarnya.

"Mungkin sudah waktunya mengembalikan kuda kembali di depan kereta," tulis Drs. Deepak Cyril D'Souza dan Mohini Ranganathan dalam editorial tersebut.

Mereka mencatat bahwa pengunaan mariyuana untuk hiburan bisa menimbulkan kecanduan dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawah, termasuk seperti apa dampak jangka panjang penggunaan mariyuana bagi kesehatan dan apakah mariyuana aman bagi anak-anak yang - dengan otaknya yang masih berkembang - boleh jadi lebih rentan terhadap dampak zat ini.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG