Tautan-tautan Akses

2014, Tahun Penuh Tantangan Bagi Kebijakan Luar Negeri Obama

  • Luis Ramirez

Foto tertanggal 23/9/2014 ini memperlihatkan pesawat tempur AS terbang di atas Irak, sebagai bagian dari koalisi yang dipimpin AS dalam melawan ISIS. Masalah ISIS menjadi masalah luar negeri pelik bagi AS.

Foto tertanggal 23/9/2014 ini memperlihatkan pesawat tempur AS terbang di atas Irak, sebagai bagian dari koalisi yang dipimpin AS dalam melawan ISIS. Masalah ISIS menjadi masalah luar negeri pelik bagi AS.

2014 memberi Presiden Amerika Barak Obama tantangan kebijakan luar negeri paling sulit dalam masa kepresidenannya. Kinerja kebijakan luar negeri Obama selama 2014 terlihat tidak jelas, kompleks dan acapkali bertentangan.

Isu utama termasuk Ukraina, ISIS, penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan, epidemi Ebola di Afrika Barat, serta pengumumannya yang menggegerkan tentang normalisasi hubungan dengan musuh bebubuyutan Amerika – Kuba. Kinerja kebijakan luar negeri Obama selama 2014 terlihat tidak jelas, kompleks dan acapkali bertentangan.

Invasi Rusia ke semenanjung Krimea yang menjadi wilayah Ukraina merupakan kejutan pertama pada 2014 untuk pemerintahan Obama. Gedung Putih mengeluarkan peringatan keras dan sanksi ekonomi, tetapi tidak mengerahkan pasukan Amerika ke sebuah sebuah konflik yang oleh Gedung Putih dianggap secara strategis tidak penting, meskipun invasi itu melanggar prinsip-prinsip yang selama ini ditegakkan oleh Amerika.

“Biasanya, kritik terhadap kebijakan luar negeri kita diarahkan pada kegagalan penggunaan kekuatan militer. Pertanyaan saya adalah, mengapa kita begitu gandrung hendak memakai kekuatan militer, padahal kita baru saja melewati satu dekade perang yang sangat mahal? Apa sebenarnya yang akan dicapai lewat perang menurut para pengecam kebijakan saya ini?” demikian pernyataan Obama.

Kritik meningkat pada Agustus. Ketika ISIS merebut berbagai wilayah di Suriah, presiden mengatakan, ia masih mengembangkan sebuah rencana untuk menghadapi mereka.

Beberapa minggu kemudian, Obama mengumumkan sebuah rencana yang dinilai kurang tegas, dimana Obama memerintahkan beberapa ratus tentara Amerika kembali ke Irak, memperluas kampanye pemboman di Suriah, dan terpaksa semakin melibatkan Amerika dalam perang yang akan butuh waktu bertahun-tahun untuk memenangkannya.

Keengganan Obama untuk menerjunkan Amerika ke dalam perang yang membuat dirinya konflik dengan tim keamanan nasionalnya, seperti kata analis Michael Rubin, dari American Enterprise Institute, yang mengatakan, “Kita menghadapi sebuah isu mendasar antara seorang presiden yang keyakinan politiknya hendak mencegah pengerahan pasukan versus fihak militer yang profesional yang menilai presiden tidak tepat kebijakannya.”

Meskipun telah dicapai beberapa kemajuan dalam menghadapi ISIS di Irak, kelompok ini masih tetap merupakan ancaman yang signifikan di akhir tahun 2015 ini. Krisis di Suriah dan Ukraina masih belum terselesaikan dan hubungan dengan Rusia, yang hendap diperbaharuinya pada permulaan masa jabatan keduanya, kini berada pada tingkat terburuk seja Perang Dingin berakhir.

Pada akhir tahun, presiden membuat sebuah terobosan baru dengan mengumumkan niatnya untuk menormalisir hubungan Amerika dengan musuh bebuyutannya, yakni Kuba setelah hubungan diplomatik kedua negara diputuskan selama lebih dari 50 tahun.

Presiden Obama berharap 2015 akan membuka bab baru dalam hubungan Amerika dengan sebuah dunia yang pada 2014 secara cepat berubah menjadi sangat kompleks.

XS
SM
MD
LG