Tautan-tautan Akses

Mengabdi untuk Honduras di Tahun Emas

  • Ninie G. Syarikin

Presiden John F.Kennedy (kiri) saat melepas kepergian angkatan pertama Peace Corps pada tahun 1961 di Gedung Putih (foto: dok).

Presiden John F.Kennedy (kiri) saat melepas kepergian angkatan pertama Peace Corps pada tahun 1961 di Gedung Putih (foto: dok).

Di ulang tahun emas Peace Corps, Barbara Joe, 66, membaktikan dirinya bagi peningkatan kondisi kesehatan masyarakat di Honduras.

Peace Corps, organisasi relawan AS untuk dunia, tahun 2011 ini sudah menginjak usia ke-50. Pemerintah federal Amerika Serikat melalui organisasi ini telah merekrut warga Amerika untuk dikirim sebagai relawan ke berbagai negara di seluruh dunia. Sebagian besar relawan yang mendaftar adalah pemuda-pemudi yang baru lulus dari perguruan tinggi. Namun, pemerintah juga gencar merekrut kaum lanjut usia untuk menimba pengalaman dari mereka.

Pada tahun 1960, Senator John F. Kennedy menantang para mahasiswa Universitas Michigan untuk memberikan pengabdian mereka kepada bangsa, dengan tinggal dan bekerja di negara-negara sedang berkembang. Itulah cikal-bakal dibentuknya sebuah badan pemerintah federal yang berfokus pada misi perdamaian dan persahabatan AS kepada dunia. Pada tahun 1961, setelah menjabat sebagai Presiden, Kennedy mendirikan Peace Corps atau Korps Perdamaian, untuk mengemban misi tersebut.

Sebagian besar relawan Peace Corps adalah para pemuda, tetapi Barbara Joe bergabung pada usia 62 tahun. Ia mengutarakan, "Relawan yang berusia lanjut adalah kelompok minoritas, tetapi Peace Corps berusaha meningkatkan jumlah dari kalangan ini, karena mereka ini memiliki ketrampilan yang lebih banyak untuk dapat disumbangkan, dan mereka lebih disegani. Ini juga merupakan peluang bagi warga lanjut usia untuk membagi ketrampilan mereka."

Barbara ditugaskan bekerja di Honduras. “Saya mengabdi di bidang kesehatan. Sebelum bergabung dengan Peace Corps, selama 16 tahun saya bekerja untuk Asosiasi Ahli Terapi Kerja Amerika. Asosiasi ini membantu merehabilitasi para penderita penyakit jiwa, penderita lemah mental, atau orang yang mengalami cedera badani atau penderita sesuatu penyakit", demikian Barbara menceritakan latar belakang kerjanya sebelum bergabung dengan Peace Corps.

Tantangan yang dihadapi relawan Peace Corps di negara yang bahasa dan budayanya berbeda, umumnya cukup besar. Oleh sebab itulah, seorang teman bersikap skeptis bahwa Barbara akan betah, apalagi mengingat usianya. Tetapi ternyata Barbara memperpanjang kontraknya. “Saya beruntung karena saya memang telah sering melawat ke negara-negara Amerika Latin sebelumnya, dan saya mahir berbahasa Spanyol. Tetapi benar pada sebagian relawan, walaupun mereka telah diberi pelatihan dalam hal bahasa dan budaya, mereka masih mengalami gegar budaya, dan sebagian tetap tidak dapat beradaptasi, terutama bagi mereka yang belum pernah ke luar negeri,” begitu ungkap Joe.

Barbara yang selama hidupnya telah bertualang ke 45 negara ini, mengungkapkan, sebuah tragedi membuatnya terketuk hati untuk mengabdi. "Putera saya tewas dalam sebuah kecelakaan sewaktu pulang kantor, dan ini merupakan pukulan keras bagi saya. Selama beberapa waktu saya tidak dapat berbuat apa-apa”, demikian kenang Joe.. Bekerja pada Peace Corps membantunya pulih dari trauma itu.

Ketika ditanya mengenai manfaat program Peace Corps ini bagi para partisipan, Barbara menuturkan, " Yang pertama, baik bagi para relawan itu sendiri. Karena mereka dapat menjadi bagian dari suatu budaya, bahasa dan lingkungan yang benar-benar berbeda. Selain itu, tentu saja bermanfaat bagi negeri tuan rumah. Mudah-mudahan mereka dapat memetikpengetahuan dan keahlian yang kita coba berikan. Jadi program Peace Corpsini menguntungkan kedua belah pihak."

Barbara Joe berumur 66 tahun sewaktu menyelesaikan program Peace Corps di Honduras, setelah mengabdi selama tiga setengah tahun. Selama di sana, dia merasa dianggap sebagai relawan yang paling senior. Tetapi, rupanya, ada lagi relawan wanita yang lebih tua setelah dia, datang ke Honduras. “Sebelum saya pergi, seorang wanita berumur 70 tahun tiba. Dia menjadi relawan di bidang pertanian, sesuatu yang luar biasa bagi seorang wanita. Sebagian besar pekerjaan pertanian di Honduras dilakukan oleh kaum pria. Relawan wanita itu dia berlatarbelakang pengalamannya dalam hal berkebun,” demikian ujar Joe.

Di samping menimba pengalaman dan kemahiran dalam menjadi relawan Peace Corps, pemerintah AS menyediakan beberapa fasilitas untuk tenaga relawan ini. Peace Corps membayar ongkos perjalanan, biaya hidup, asuransi kesehatan, cuti liburan selama pengabdian, dan dana penyesuaian keadaan sekembali dari tugas, sebanyak lebih dari 7.000 dolar AS bagi setiap orang.

Selain itu, Peace Corps menjalin kemitraan dengan 50 perguruan tinggi di seantero AS yang memberikan nilai kredit kepada relawan atas pengabdiannya itu dalam menempuh kuliah untuk meraih gelar Master, sekembalinya ke tanah air. Sejak didirikan pada tahun 1961 hingga kini, Peace Corps telah mengirim lebih dari 200.000 pekerja relawan ke 139 negara.

Barbara Joe yang asal Boston, Massachusetts ini, kini bermukim di kawasan Capitol Hill Washington, DC. Pada usia senjanya kini, 73 tahun, dia terus giat mengabdi sebagai penerjemah dan pengarang. Dia penulis beragam artikel bagi berbagai suratkabar dan majalah, serta beberapa buku teknik. Pengalamannya mengabdi di Honduras, diterbitkannya dalam sebuah buku yang berjudul "Triumph & Hope: Golden Years with the Peace Corps in Honduras."

XS
SM
MD
LG