Tautan-tautan Akses

CPJ: Tahun 2016, Tahun yang Suram bagi Jurnalis di Afrika


Koordinator program Afrika, Komite bagi Perlindungan Wartawan atau CPJ, Sue Valentine memberikan keterangan mengenai kondisi kebebasan pers di Afrika dalam konferensi pers di Kenya (foto: dok).

Koordinator program Afrika, Komite bagi Perlindungan Wartawan atau CPJ, Sue Valentine memberikan keterangan mengenai kondisi kebebasan pers di Afrika dalam konferensi pers di Kenya (foto: dok).

Komite bagi Perlindungan Wartawan atau CPJ mengatakan, tahun ini telah terlihat penurunan pembunuhan wartawan di Afrika, namun terdapat kenaikan jumlah wartawan yang dipenjara, sebuah tren yang terjadi di seluruh dunia.

Tahun 2016 adalah tahun yang suram bagi jurnalisme Afrika, dengan enam wartawan dibunuh dan 41 mendekam di penjara-penjara di seluruh sub-Sahara Afrika, demikian menurut Komite Bagi Perlindungan Wartawan atau atau CPJ. Pada tahun 2015, 14 wartawan dibunuh, dan 34 berada dipenjarakan di Afrika.

Di seluruh dunia, setidaknya 48 wartawan tewas tahun ini, banyak dari mereka di zona konflik Suriah, Irak, Yaman, Libya dan Afghanistan, 90 persen wartawan lokal. Di seluruh dunia ada 259 wartawan dipenjara, angka tertinggi yang didokumentasikan oleh CPJ selama 16 tahun badan itu menyelenggarakan pencatatan.

Negara Afrika yang paling mematikan bagi wartawan adalah Somalia, dengan tiga wartawan tewas di negara pesisir bermasalah yang belum memiliki pemerintah pusat yang stabil selama lebih dari dua dasawarsa itu. Dan dari ke 41 wartawan yang dipenjara, 33 berada di negara-negara tetangga Ethiopia dan Eritrea, dua negara yang pemerintahannya telah dituduh menjadi semakin tidak toleran dengan pers, di tengah meningkatnya ketidakpuasan dengan kekuasaan mereka yang sudah lama.

Direktur Pemantau Media Afrika yang berkantor di Johannesburg, William Bird mengatakan, penangkapan setengah lusin wartawan Ethiopia terjadi seiring dengan munculnya protes anti-pemerintah. Lima dari wartawan ditahan tanpa tuduhan, dan kelimanya melaporkan secara kritis protes yang berlangsung di sana.

"Kami telah melihat, tepatnya pada tahun 2016, tingkat pemberontakan sipil sangat melonjak akibat kurangnya kebebasan di sana dan pemerintah menanggapi dengan penangkapan dan penahanan wartawan. Jadi mereka jelas mengambil pendekatan yang mengatakan, cara terbaik untuk mempertahankan kekuasaan adalah menghancurkan siapa saja yang menentang Anda," ujar Bird.

Mantan jurnalis radio di Somalia, Mohamed Ibrahim Moalimuu, yang menjadi Sekretaris Jenderal Wartawan Uni Nasional Somalia mengatakan, pembunuhan di negaranya untungnya masih lebih rendah dari tahun lalu. Namun dia mengatakan, hal itu bisa dikarenakan begitu banyak wartawan telah terbunuh, ia menghitung setidaknya dua lusin terbunuh, atau melarikan diri ke pengasingan atau dipaksa untuk melakukan sensor dalam pemberitaan yang mereka lakukan.

Moalimuu tinggal di Mogadishu, tetapi berbicara kepada VOA melalui Skype dari Nairobi, di mana ia menghadiri sebuah lokakarya jurnalisme.

"Beberapa rekan kami pergi ke bagian lain dunia, dan mereka melarikan diri dari Somalia untuk keamanan diri mereka sendiri. Jadi itu yang mereka inginkan, itulah yang diinginkan oleh pihak-pihak yang hendak membungkam media," kata Moalimuu.

Dia mengatakan dia hampir mati pada bulan Januari tahun lalu, ketika ia berpura-pura mati untuk menghindari dibunuh ketika militan memilah-milah di antara tumpukan orang-orang yang jatuh dan menembaki orang yang tampak masih hidup. [ps/jm]

XS
SM
MD
LG