Tautan-tautan Akses

Suu Kyi Kunjungi Kamp Pengungsi Karen di Thailand


Para pengungsi suku Karen di Mae Sot sedang menunggu kedatangan Aung San Suu Kyi ke kamp mereka (foto. 2/6/2012)..

Para pengungsi suku Karen di Mae Sot sedang menunggu kedatangan Aung San Suu Kyi ke kamp mereka (foto. 2/6/2012)..

Lawatan bersejarah pemimpin oposisi Birma Aung San Suu Kyi ke Thailand berakhir hari Sabtu dengan kunjungan ke kamp pengungsi Karen.

Aung San Suu Kyi mengunjungi kamp pengungsi Mae La di Provinsi Mae Sot, Thailand, hari Sabtu pagi, mengakhiri lawatan ke luar negerinya yang pertama sejak 1988 ketika ia kembali ke Burma dari Inggeris untuk merawat ibunya yang sakit.

Pengamanan yang ketat atas kunjungan yang sudah ditunggu-tunggu itu mengecewakan 50.000 penghuni kamp pengungsi itu, kebanyakan etnis Karen yang mengungsi akibat perang saudara di Negara bagian Karen, Burma. Lapangan sepak bola di kamp itu sudah disediakan, tetapi hanya sekitar 1.000 orang yang diizinkan masuk ke lapangan itu, dan tampak banyak pasukan militer dan keamanan.

Rencana pidato Aung San Suu Kyi dibatalkan, seperti juga halnya pertemuan dengan para pemimpin etnis itu. Namun, Suu Kyi bertemu para pemimpin kamp, dan kemudian menjenguk sebuah klinik di dekat lapangan itu di mana ia berbicara dengan para pasien. Ia berbicara singkat kepada sekelompok kecil orang yang berkerumun di sekitar pagar klinik itu. Hanya sedikit yang bisa mendengar komentar-komentarnya karena ia tidak boleh menggunakan mikrofon.

“Saya tidak akan melupakan kalian. Jangan khawatir, saya akan mengusahakan yang terbaik untuk memastikan kalian bisa segera pulang,” ujar Suu Kyi.

Tun Tun, pemimpin kamp etnis Karen di Mae La, bertemu sebentar dengan Aung San Suu Kyi di kamp itu. Ia mengatakan pemimpin oposisi Burma itu semula berencana meluangkan waktu di kamp itu dan berpidato di depan kerumunan besar pengungsi, tetapi pihak berwenang Thailand tidak menginginkan ia berbicara, ujar Tun Tun, dan Aung San Suu Kyi mengatakan kepada mereka yang bisa mendengarnya,bahwa “Ini bukan negara kami. Kami tidak punya kesempatan untuk melakukan sesuai yang direncanakan.”

Tun Tun menyampaikan kekecewaan atas nama orang-orang yang berkumpul selama beberapa jam di tengah teriknya matahari dan lapangan berlumpur untuk bertemu pemimpin demokrasi itu.

Aung San Suu Kyi tidak memberi komentar mengenai apakah proses perdamaian antara etnis Karen dan pemerintah Burma telah mencapai tahap pada mana para pengungsi bisa mulai pulang ke Burma. Tetapi ia bertemu para wakil dewan perdamaian KNU/KNLA yang ditugasi berunding dengan pemerintah Burma. Timothy Laklem, yang membantu perundingan atas nama etnis Karen, bertemu Suu Kyi dan berbagi keprihatinan mengenai pemulangan paksa sebelum adanya proses perdamaian yang sesungguhnya.

“Kita belum siap untuk mengirim mereka pulang. Pengungsi itu bukan binatang. Ketika mereka diusir, mereka diusir dengan senjata dan peluru serta perang dan pembunuhan, dan sekarang mereka pulang ke tempat yang tidak ada makanan dan infrastruktur yang memadai. Mereka manusia, bukan binatang, jadi kita tidak bisa melakukan itu,” ujar Laklem.

Selagi Aung San Suu Kyi memasuki panggung politik utama, perannya dalam proses perdamaian menjadi lebih kritis, dan banyak pihak merasa nasib para pengungsi yang melarikan diri dari perang sauadara terlama di dunia berada di tangannya.
XS
SM
MD
LG