Tautan-tautan Akses

AS

Profil Susan Rice, Penasihat Keamanan Nasional AS yang Baru

  • Margaret Besheer

Presiden Barack Obama (kiri) saat mengumumkan penunjukan Susan Rice sebagai penasihat keamanan nasional presiden, Rabu (5/6).

Presiden Barack Obama (kiri) saat mengumumkan penunjukan Susan Rice sebagai penasihat keamanan nasional presiden, Rabu (5/6).

Duta besar Amerika untuk PBB, Susan Rice telah ditunjuk oleh Presiden AS Barack Obama untuk menjadi penasihat keamanan nasional presiden, menggantikan Thomas Donilon yang mengundurkan diri.

Pendapat Susan Rice akan didengar Presiden Obama, meskipun para penentang Rice di Kongres awal tahun ini menghambat kesempatannya untuk menjadi menteri luar negeri.

Sebelumnya, Susan Rice pernah terjebak dalam pertikaian antara Gedung Putih dan Kongres yang didominasi Partai Republik, mengenai serangan pada konsulat Amerika di Benghazi, Libya bulan September.

Duta besar Susan Rice bisa dikatakan sudah menjadi orang dalam di Washington sejak lahir. Ia besar di lingkungan orang-orang kaya di Washington sebagai anak perempuan Gubernur Bank Sentral. Pendidikan akademisnya diasah di Universitas Stanford dan menyelesaikan pasca sarjananya di Universitas Oxford di Inggris.

Susan Rice adalah pendukung awal dan penasihat Barack Obama sewaktu masih menjadi calon presiden. Ia menjadi duta besar untuk PBB bulan Januari 2009.

Profesor American University sekaligus pengarang buku, David Bosco mengatakan Susan Rice mempunyai daftar riwayat hidup mengesankan dan hubungan dekat dengan Presiden Obama.

"Ia memahami bagaimana kerja mesin kebijakan luar Amerika dan saya rasa itu sangat bernilai. Hubungannya dengan Presiden Obama juga sangat berarti," ujar Bosco.

Di PBB Rice saling beradu argumen dengan rekannya dari Rusia dan dikenal sebagai perunding yang sangat tangguh. Gaya diplomasinya digambarkan sebagai "tanpa tedeng aling-aling" dan "sangat agresif".

Setelah serangan 11 September pada konsulat Amerika di Benghazi, Rice tiba-tiba mendapati dirinya berada di pusat pertikaian antara Gedung Putih dan Pihak Republik di Kongres.

Rice mangatakan, "Saya bergantung sepenuhnya pada informasi yang disediakan oleh masyarakat intelijen."

Para senator dari Partai Republik, termasuk Senator asal South Carolina, Lindsay Graham menentang pencalonan Rice sebagai Menteri Luar Negeri, menggantikan Hillary Clinton, karena komentarnya lima hari setelah serangan Benghazi yang menewaskan empat warga Amerika, yang dinilai keliru.

"Saya rasa ia tidak berhak untuk dipromosikan. Ada banyak orang yang memenuhi syarat di Amerika yang bisa dipilih Presiden, tapi saya secara tegas akan memastikan kita tidak akan mengangkat siapapun yang berperan penting dalam kekacauan Benghazi," kata Senator Lindsay.

Meskipun saat itu didukung oleh Presiden Obama dan telah bertemu dengan beberapa Senator, tentangan terhadap Rice masih tetap berlanjut di Kongres, sehingga ia menarik diri dari pencalonan sebagai Menteri Luar Negeri.

Obama memujinya, "Susan Rice sangat luar biasa, saya bangga dengan pekerjaan yang dilakukannya."

John Kerry akhirnya yang ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri AS menggantikan Hillary Clinton, dan kini Presiden Obama mengangkat Susan Rice untuk menjadi Penasihat Keamanan Nasional , jabatan yang tidak membutuhkan persetujuan Kongres AS.
XS
SM
MD
LG