Tautan-tautan Akses

Survei: Makin Banyak Orang Mau Membayar untuk Akses Berita


New York Times mendapat 325.000 pembaca digital baru yang bergabung sejak langganan berbayar atau paywall diperkenalkan pada 2011. (Foto: Dok)

New York Times mendapat 325.000 pembaca digital baru yang bergabung sejak langganan berbayar atau paywall diperkenalkan pada 2011. (Foto: Dok)

Penelitian menunjukkan bahwa ternyata semakin banyak pembaca yang bersedia membayar untuk akses berita di Internet.

Para pemimpin surat kabar global mendapati berita baik langka untuk dibagi setelah selama bertahun-tahun menghadapi penurunan penjualan edisi cetak dan penghasilan iklan. Berita baik itu adalah bahwa semakin banyak pembaca yang bersedia membayar untuk membaca berita edisi daring atau online.

Lebih dari 1.000 editor surat kabar dan tokoh media lainnya bertemu di Bangkok minggu ini untuk membahas bagaimana koran terus kehilangan pembaca, paling tidak untuk pangsa pasar usia lebih tua, dan pergeseran ke Internet menarik lebih banyak pembaca namun tarif iklan yang lebih rendah.

Kebebasan pers, keselamatan jurnalis, penggunaan teknologi baru dan tren-tren pada masa yang akan datang dalam hal cetak dan iklan juga akan dibahas dalam Kongres Surat Kabar Nasional tahunan yang berlangsung empat hari sampai 5 Juni.

Isu menarik bayaran dari pembaca untuk konten di Internet merupakan topik paling hangat.

“Kesan umum adalah bahwa mustahil membalikkan budaya konten Internet gratis, bahwa orang tidak akan pernah mau membayar,” ujar Gilles Demptos dari Asosiasi Surat Kabar dan Penerbit Berita Dunia.

“Kabar baiknya adalah bahwa hal itu berubah secara dramatis,” tambahnya, menunjukkan kenaikan pesat dari langganan berbayar untuk jurnalisme “kualitas tinggi” dari New York Times dan Financial Times.

Bulan lalu, New York Times menjadi surat kabar harian kedua yang paling banyak dibaca di AS, dengan sirkulasi lebih dari satu juta, didorong oleh 325.000 pembaca digital baru yang bergabung sejak langganan berbayar atau paywall diperkenalkan pada 2011.

Untuk US$35 sebulan, para pelanggan mendapatkan akses tak terbatas untuk situs-situs New York Times dan aplikasi ponsel, sementara pengunjung biasa hanya bisa membaca 10 artikel secara gratis per bulan.

Tren paywall ini telah menyebar ke seluruh dunia. Demptos mengatakan surat kabar memiliki sedikit pilihan karena para pengiklan terus memprotes biaya iklan di Internet yang ditetapkan para editor untuk mempertahankan jurnalisme berkualitas.

"Seringkali diulang bahwa satu dolar pada edisi cetak menjadi 10 sen untuk edisi daring,” ujar Demptos, dengan menambahkan bahwa penerbit terbesar di AS, Gannett Company, telah memperkenalkan paywall di ke-80 lamannya, sementara akses terbatas telah mengimbangi penurunan iklan di harian Hong Kong, South China Morning Post.

Meski hal itu seharusnya menjadi penanda masa depan yang lebih baik, para analis mengatakan model tersebut mungkin hanya berlaku untuk media-media papan atas seperti New York Times, meski hanya sedikit dari para penggunanya yang membayar konten.

Pengamat media dan blogger, Jeff Jarvis dari City University of New York, mengatakan masalah utamanya sekarang adalah kurangnya keterlibatan media dengan komunitas-komunitas web.

Komunitas-komunitas muda yang melek teknologi itu semakin sering menerima informasi dari situs-situs berita sosial yang didorong pembaca seperti BuzzFeed.com atau Reddit, yang mengatakan dikunjungi 70 juta orang bulan lalu.

Surat kabar harus memprioritaskan “pembangunan hubungan yang lebih kuat dengan publik yang dilayani,” ujar Jarvis.

Sementara itu, banyak pasar media cetak di negara-negara Asia melonjak seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya populasi yang senang membaca dan aspirasional.

Pertumbuhan pasar itu terjadi terutama di China, India dan Indonesia. Di Burma, melonggarnya sensor juga telah mengubah sektor media, dengan munculnya surat-surat kabar milik swasta.

Di Kalkuta, surat kabar Ebela yang diluncurkan pada 2012 untuk kaum muda sekarng terjual 300.000 kopi per hari. (AFP/Aidan Jones)
XS
SM
MD
LG