Tautan-tautan Akses

Studi Humaniora Semakin Tidak Populer di Amerika

  • Faiza Elmasry

Mahasiswa di Amerika kini lebih tertarik pada jurusan ilmu sains, teknik dan matematika karena bisa menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan humaniora (foto: dok).

Mahasiswa di Amerika kini lebih tertarik pada jurusan ilmu sains, teknik dan matematika karena bisa menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan humaniora (foto: dok).

Karena jurusan ilmu sains, teknologi, teknik dan matematika lebih menarik perhatian dan bisa menghasilkan lebih banyak uang, banyak universitas di Amerika mengalami kesulitan dengan menurunnya pendaftaran pada jurusan humaniora, dan menjadikan kelas-kelas itu sasaran empuk bagi pemotongan anggaran.

Tim Clark duduk pada tahun terakhir di Amherst College, sekolah humaniora di Massachusetts. Ia pernah mempelajari bahasa Latin, Yunani dan arkeologi. Ia mengatakan berkat kelas itu, ia menjadi orang yang berbeda dibanding 4 tahun lalu.

"Perguruan tinggi humaniora mengajarkan saya bagaimana menjadi seorang pemikir yang kritis dan menganalisis sesuatu," ujarnya.

Namun, Clark mengatakan, banyak orang tidak melihat manfaat belajar ilmu humaniora.

Carolyn Martin adalah rektor Amherst College. Dalam pekerjaan sebelumnya sebagai penasehat di Universitas Wisconsin-Madison, Martin mengatakan merasa tertekan untuk mempertahankan pentingnya humaniora. Tahun ini ia menjabat di komisi Akademi Seni dan Sains Amerika yang mempelajari masalah ini.

"Humaniora adalah seni yang integratif. Tanpa bidang ilmu itu, sains dan teknologi akan terasa hampa. Pertanyaan mengenai bagaimana menempatkan teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi pertanyaan yang mendesak tanpa adanya studi mengenai budaya,” papar Martin.

Tetapi, tidak semua orang merasa seperti itu. Pada bulan Oktober 2011, misalnya, Gubernur Florida mengatakan uang pajak Negara bagian Florida harus dialokasikan untuk memperkuat studi sains dan teknologi tinggi, bukannya "mendidik lebih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan dalam antropologi."

Mengingat pemerintah negara bagian mengendalikan hampir dua-pertiga dari semua pendanaan pendidikan tinggi bagi perguruan tinggi negeri dan universitas, kebijakan mereka terhadap humaniora dapat mempengaruhi masa depan bidang ilmu humaniora.

Travis Reindl, juru bicara Asosiasi Gubernur Amerika, mengatakan agar tetap relevan dan menghindari pemotongan anggaran, pembelajaran humaniora perlu dibenahi.

"Contohnya, dapatkah kita menciptakan kemitraan antar universitas agar kita dapat memasuki fakultas mereka dan berbagi kursus dan program tertentu? Ujarnya.

Komisaris Pendidikan Tinggi Massachusets, Richard Freeland, memiliki saran lain. Ia mendesak mahasiswa yang mempelajari humaniora agar memperluas minat mereka.

"Mahasiswa bisa mengambil serangkaian kursus dalam bidang bisnis, sains, kesehatan atau keguruan dan pada waktu yang sama tetap memiliki ruang dalam kurikulum untuk mengeksplorasi sebagian minat humaniora mereka," sarannya.

Ia menambahkan, lulusan humaniora dapat menerapkan pengetahuan mereka dalam bidang lain yang lebih teknis.

"Contohnya, dalam dunia yang semakin global, keterampilan bahasa sangat penting dalam bidang-bidang seperti bisnis, teknik, ilmu kesehatan, dan lain-lain," tambahnya.

Menemukan aplikasi yang praktis, katanya, dapat membantu humaniora bertahan dari bermunculannya teknologi baru dan membuktikan bahwa belajar tentang etika, nilai-nilai dan pemikiran kritis masih tetap relevan pada abad 21.

XS
SM
MD
LG