Tautan-tautan Akses

Orkestra Remaja, Sarana Ekspresi Musik Bakat-bakat Muda

  • Editor: Rauf Prasodjo

Para anggota orkestra sedang berlatih untuk sebuah pementasan.

Para anggota orkestra sedang berlatih untuk sebuah pementasan.

Matthew Martz membentuk kelompok Student Symphonic Orchestra saat ia masih duduk di bangku SMA. Tujuan Matt cukup sederhana, yaitu mengumpulkan teman-temannya sebayanya yang sama-sama gemar bermain musik.

Anda hobi bermain musik? Atau punya mimpi untuk bisa bermain musik dalam sebuah kelompok orkestra? Bagaimana jika Anda membentuk kelompok musik bersama teman-teman anda? Itulah yang dilakukan oleh Matthew Martz, yang membentuk kelompok nirlaba Student Symphonic Orchestra di daerah Washington, DC, sejak ia masih duduk di bangku SMA. Tujuan dari kelompok orkestra ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi para musisi muda yang ingin mengeksplorasi bakat mereka.

Kelompok yang baru aja merayakan ulang tahunnya yang pertama ini, awalnya hanya beranggotakan 12 orang. Mahasiswi Michelle Bui adalah salah satunya. “Saya bergabung dalam orkestra ini karena Matt adalah teman baik saya. Alasan berikutnya adalah hobinya bermain biola,” ujar Michelle.

Satu hal juga yang dia suka dari kelompok ini adalah, ia dan anggota orkestra lainnya bisa memilih sendiri lagu-lagu yang ingin dimainkan. Michelle mengatakan, “Orkestra kami telah memainkan berbagai jenis musik, mulai dari musik pop, musik-musik dari pentas Broadway, Phantom of the Opera. Kami juga memainkan musik-musik garapan komposer John Williams yang pernah menciptakan musik untuk film-film seperti Indiana Jones, Star Wars, dan Superman. Selain itu kami juga memainkan musik-musik klasik.

Selain Michelle Bui, ada juga Lizzie Culberston yang baru saja bergabung dalam kelompok orkestra ini tahun lalu. Lizzie adalah pemain alat musik tiup French horn. “French horn bisa mengeluarkan suara yang berbeda-beda. Mulai dari suara yang terdengar sangat halus, hingga yang sangat keras,” kata Lizzie.

Saat ini Student Symphonic Orchestra beranggotakan lebih dari 30 murid. Salah satu anggota yang terbaru adalah pemain biola berumur 16 tahun, Nicholas Black. Ia bergabung di orkestra ini setelah membaca artikel mengenai Student Symphonic Orchestra ini di surat kabar di kotanya. Nicholas bilang, “Saya suka dengan kelompok orkestra ini, karena musik-musik yang dimainkan lebih menantang dibandingkan dengan musik yang biasa saya mainkan di kelompok orkestra sekolahnya. Selain lebih rumit dan sulit, alat musik yang dimainkan lebih beragam, termasuk alat musik tiup. Sedangkan kalau di sekolah saya, alat musik yang dimainkan hanyalah alat musik dawai.”

Salah satu anggota termuda di kelompok orkestra ini bernama Kanika Sahi, pemain alat musik oboe, yang baru berumur 13 tahun. “Melalui Student Symphonic Orchestra ini, saya bisa belajar menjadi musisi yang lebih baik lagi. Selain itu saya juga belajar berbagai macam teknik dalam bermusik," ujar si cilik Kanika.

Matt Martz, pendiri yang juga adalah konduktor dari Student Symphonic Orchestra ini berpendapat, “Dengan adanya para musisi dari berbagai umur dan juga kemampuan yang berbeda bukanlah suatu masalah. Mereka yang sudah lebih berpengalaman di bidang musik bisa membantu para musisi yang masih baru.”

Saat ini, Matt yang sudah duduk di bangku kuliah, tengah mengambil jurusan musik. Setiap akhir pekan ia tetap menyempatkan diri untuk latihan bersama orkestranya.“Dengan latihan bersama, saya bisa menambah kemampuan saya dalam mengajarkan musik, terutama kepada para remaja,” kata Matt.

Setiap pentas, Student Symphonic Orchestra biasanya tidak pernah menarik biaya. Walaupun begitu, mereka tetap menerima donasi sebagai biaya untuk membeli buku not musik. Kata Matt, “Waktu konser pertama kali, kami berhasil mengumpulkan 1.100 dolar. Untuk konser yang terakhir, kami berhasil mengumpulkan uang lebih banyak lagi, yaitu sekitar 1.500 dolar.“

Matt berharap orkestranya ini bisa terus berkembang, untuk menarik lebih banyak lagi musisi berbakat yang bisa memainkan berbagai jenis musik.

XS
SM
MD
LG