Tautan-tautan Akses

AS

Strategi untuk Tingkatkan Prospek Penderita HIV

  • Art Chimes

Edward Machtinger (tengah), Kepala Program Perempuan Pengidap HIV di Universitas California berbicara dengan seorang pasien, Vicki Blake (kiri) - (foto: UCSF).

Edward Machtinger (tengah), Kepala Program Perempuan Pengidap HIV di Universitas California berbicara dengan seorang pasien, Vicki Blake (kiri) - (foto: UCSF).

Dua penelitian di Amerika menganjurkan strategi baru untuk meningkatkan prospek bagi penderita HIV.

Edward Machtinger, Kepala Program Perempuan Pengidap HIV di Universitas California di San Francisco, mengatakan bahwa meskipun ada layanan kesehatan yang baik, banyak perempuan dalam program itu tidak mengalami kehidupan yang nyaman.

Sebagian dari mereka tinggal bersama pasangan yang suka menganiaya, atau mereka terus menggunakan obat-obat terlarang. Yang lainnya tidak minum obat mereka.

Berdasarkan wawancara mendalam dengan pasien-pasien di kliniknya, digabung dengan data dari catatan kesehatan mereka, Machtinger mendapati bahwa mereka menghadapi risiko tertentu jika mengalami berbagai peristiwa traumatis baru, khususnya penganiayaan fisik dan seksual.

“Kami mendapati bahwa trauma baru secara mengejutkan sangat terkait dengan kegagalan perawatan serta situasi yang berisiko menularkan lebih jauh lagi virus HIV ke pasangan mereka,” papar Machtinger.

Untuk mengetahui apakah kelompok kecil pasiennya yang berjumlah kurang dari 100 orang itu memiliki karakteristik tersebut, Machtinger juga meninjau 29 penelitian terdahulu. Dengan melakukan meta-analisis, yakni mengombinasikan data secara matematis, ia mendapati bahwa peristiwa traumatis dan gangguan stres pasca-trauma atau PTSD, jauh lebih banyak terjadi di kalangan perempuan pengidap HIV daripada kaum perempuan pada umumnya.

“Sebagai contoh, lebih dari 60 persen perempuan pengidap HIV melaporkan tentang penganiayaan seksual secara terus menerus. Ini jauh lebih tinggi, lima kali lipat, daripada 12 persen yang melaporkan penganiayaan semacam itu pada populasi perempuan secara umum,” papar Machtinger lagi..

Penelitian ini terbatas pada perempuan di Amerika Serikat. Para ilmuwan umumnya tidak suka meramalkan kemungkinan di luar data mereka, tetapi Machtinger mengatakan tidak ada alasan untuk percaya bahwa kaitan antara trauma dan HIV tidak berlaku di manapun AIDS menjadi epidemi, apapun jenis kelamin maupun tempat tinggal mereka.

“Dengan kata lain, saya percaya bahwa trauma adalah kunci bagi epidemi HIV, bukan hanya di negara ini, melainkan di setiap negara,” katamya.

Machtinger mengatakan bahwa mereka kini memusatkan perhatian pada pencegahan trauma dan pemulihannya dalam program Perempuan Pengidap HIV di San Francisco.

“Trauma seyogyanya menjadi komponen inti perawatan perempuan pengidap HIV, selain mengukur kadar CD-4, kandungan virus HIV dalam darah, dan membantu kaum perempuan minum obat mereka,” katanya lebih lanjut.

Machtinger menambahkan bahwa perawatan HIV/AIDS yang juga menangani trauma fisik dan emosi pasien dapat menjadi lebih efektif dan jauh lebih murah daripada program-program perawatan konvensional.

Hasil penelitian Edward Machtinger dari Universitas California di San Francisco mengenai trauma dan dampaknya bagi perempuan dengan HIV/AIDS diterbitkan di jurnal AIDS and Behavior.
XS
SM
MD
LG