Tautan-tautan Akses

Asia Pimpin Pemulihan Ekonomi Global

  • Yuni Salim

Menurut IMF, pemulihan di Asia lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya konsumsi domestik dan bukan karena faktor ekspor.

Menurut IMF, pemulihan di Asia lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya konsumsi domestik dan bukan karena faktor ekspor.

Menurut IMF, Asia memimpin pemulihan krisis finansial global. Dalam Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank dunia tahun ini, IMF meramalkan pertumbuhan ekonomi di Asia akan terus membaik. Perekonomian Indonesia menurut IMF akan tumbuh sebesar enam persen tahun ini.

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia baru mengadakan Pertemuan Musim Semi di Washington dari tanggal 24-25 April 2010. Dalam pertemuan tersebut, IMF mengatakan negara-negara Asia kini memimpin dalam pemulihan krisis finansial global. Bahkan, menurut IMF, terdapat sejumlah negara di kawasan ini yang telah kembali ke kondisi sebelum krisis.

Direktur IMF untuk Asia Pasifik Anoop Singh mengatakan banyak negara Asia terlihat relatif lebih tangguh dalam menghadapi krisis ekonomi yang melanda dunia. Singh mengatakan ini merupakan pertama kalinya kontribusi Asia terlihat lebih besar dibandingkan wilayah-wilayah lainnya dalam mengangkat dunia dari resesi.

Menurut IMF, pemulihan di Asia lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya konsumsi domestik dan bukan karena faktor ekspor. Pemulihan ekonomi yang baik dapat dilihat terutama di Tiongkok, India, dan Indonesia. IMF mengatakan pertumbuhan di Asia tahun ini diperkirakan mencapai sekitar tujuh persen. Indonesia sendiri, menurut IMF, akan mencapai pertumbuhan ekonomi enam persen.

Angka ini lebih besar dibandingkan perkiraan pemerintah Indonesia saat ini, yang menunjukkan sikap dunia yang cukup optimistis terhadap Indonesia.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan tersebut. Menurutnya dalam Spring Meeting kali ini, perekonomian Indonesia dinilai sangat baik.

Satu kekhawatiran bagi negara-negara berkembang yang dikemukakan IMF adalah likuiditas dunia yang tinggi akibat berbagai program stimulus negara-negara maju. Apabila dana yang sering kali hanya bersifat jangka pendek ini mengalir ke negara-negara seperti Indonesia, maka dikhawatirkan akan terjadi sebuah "gelembung ekonomi” yang suatu ketika akan pecah dan dapat menghasilkan resesi lagi.

Menteri Keungan Indonesia, Sri Mulyani yang juga hadir dalam pertemuan ini, mengatakan perilaku negara-negara maju pasca-krisis ini akan mempengaruhi kebijikan moneter Indonesia dalam menghadapi masuknya lebih banyak dana tersebut.

“Sikap Indonesia yang sama dengan sikap negara-negara emerging (berkembang), kita akan melihat exit policy (kebijakan pemulihan) dari negara-negara besar terutama Amerika yang sangat kita perhatikan dari sisi pengaruhnya terhadap ekonomi global, harus dilakukan secara terencana dan bertahap,” ujar Sri Mulyani.

XS
SM
MD
LG