Tautan-tautan Akses

Fast-a-thon Sosialisasikan Islam Pasca 11 September

  • Wita Sholhead

Kegiatan Fast-a-thon pertama kali berlangsung di University of Tennessee ini.

Kegiatan Fast-a-thon pertama kali berlangsung di University of Tennessee ini.

Peristiwa 11 September memicu sekelompok mahasiswa Muslim di Tennessee untuk memulai kegiatan yang memberikan pemahaman akan rasa lapar di bulan puasa dan tentang agama Islam.

Fast-a-thon pertama kali diselenggarakan Asosiasi Pelajar Muslim University of Tennessee tahun 2001 setelah peristiwa 11 September. Kegiatan sosial ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai rasanya lapar, sekaligus Islam. Kini, lebih dari 300 kampus di seluruh Amerika menggelar kegiatan Fast-a-thon.

Asosiasi Pelajar Muslim di berbagai universitas mengajak mahasiswa non-Muslim berpuasa sehari penuh, seperti halnya yang dilakukan para warga Muslim. Untuk setiap mahasiswa yang berpuasa, berbagai perusahaan lokal kemudian menyumbang sejumlah uang untuk disumbangkan lagi ke berbagai organisasi nirlaba atas nama mahasiswa. Hidangan sahur dan berbuka disiapkan keluarga-keluarga Muslim bagi para warga non-Muslim yang ikut berpuasa.

Di berbagai kampus, banyak mahasiswa non-Muslim ikut berpuasa sehari karena ingin tahu tentang Islam. Banyak yang juga tertarik karena aspek sosial kegiatan tersebut, seperti Sasha Botos, mahasiswa University of Washington di Seattle.

“Kita hidup berlimpah di sini, banyak orang tidak seberuntung kita. Jadi, mudah bagi kita menyumbangkan sedikit dari apa yang kita nikmati untuk membantu orang lain,” kata Botos.

University of Illinois at Chichago, salah satu kampus lain di Amerika yang mengadakan fast-a-thon.

University of Illinois at Chichago, salah satu kampus lain di Amerika yang mengadakan fast-a-thon.

Asosiasi Pelajar Muslim di berbagai kampus menyumbangkan dana yang diperoleh dari Fast-a-thon kepada berbagai tempat penyediaan pangan cuma-cuma yang memberi makanan dan pakaian kepada gelandangan dan pengangguran, atau kepada berbagai organisasi nirlaba, seperti Islamic Relief, yang memasok pangan, air minum dan tenda kepada korban gempa Haiti, dan Harlem Children Zone yang membantu anak-anak kembali ke bangku sekolah di wilayah New York.

Setelah mengalami puasa sehari penuh, banyak mahasiswa non-Muslim mengatakan mendapat pemahaman baru tentang Islam dan lebih bertoleransi.

Tidak dapat dipungkiri, setelah peristiwa 11 September perasaan anti-Islam meningkat. Untuk itulah umat Islam Amerika perlu menepis pandangan keliru kebanyakan warga Amerika mengenai Islam.

Mahasiswa Muslim, Hassan Hatim mengatakan Fast-a-thon dapat membantu mengatasi masalah itu.

“Dunia Barat adalah tempat terbaik untuk mengubah pandangan apapun, baik atau buruk. Di sini ada berbagai sumber informasi serta dukungan, dan orang Barat terbuka untuk mendengar. Apa yang kita lakukan di sini akan bergema ke seluruh dunia. Itu adalah tanggung jawab kami,” jelas Hatim.

Hatim mengatakan universitas adalah tempat mencari kebenaran. Menurutnya, umat Islam sendirilah yang harus menyampaikan kebenaran tentang Islam.

XS
SM
MD
LG