Tautan-tautan Akses

Solo, Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Terjun Payung Militer

  • Yudha Satriawan

Upacara pembukaan kejuaraan dunia terjun payung militer di stadion Manahan, Solo, 19 September 2014 (Foto:VOA/Yudha)

Upacara pembukaan kejuaraan dunia terjun payung militer di stadion Manahan, Solo, 19 September 2014 (Foto:VOA/Yudha)

Kejuaraan dunia terjun payung militer di Solo resmi dimulai hari ini, Jumat (19/9). Ratusan peserta dari berbagai negara siap berkompetisi.

Pukulan Gong dari Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, menandai dimulainya secara resmi kejuaraan dunia terjun payung militer di Solo, Jumat siang (19/9). Menjadi tuan rumah pelaksanaan kejuaraan bergengsi bagi militer dunia ini, menurut Jenderal Moeldoko, merupakan kebanggaan bagi Indonesia.

“Kami semua sangat bangga wakil resmi CISM, para delegasi dan peserta World Military Parachuting Championship atau kejuaraan dunia terjun payung militer ke-38 bisa hadir di Solo, Indonesia ini. Kegiatan yang digelar ini merupakan manifestasi kami untuk ikut serta dalam memajukan perdamaian dunia. Saya memandang hal ini sangat penting bagian dari tugas saya sebagai prajurit militer, yang profesional, dan harus menjadi bagian integral dari komunitas militer dunia," kata Panglima TNI, Jenderal Moeldoko.

Sementara itu, Sekjen Dewan Olahraga Militer Dunia, Rinnete Hulme, mengatakan Perdamaian dan persahabatan tetap menjadi point penting bagi kejuaran dunia ini.

“Dewan Olahraga Militer Internasional, CISM, mencegah agar negara-negara anggota ini tidak terlibat dalam pertikaian atau suasana konflik di internal negaranya maupun konflik antar negara. Melalui olahraga militer ini kami dari CISM, mendukung perdamaian di dunia," kata Rinnete Hulme.

Ungkapan senada juga dilontarkan Ketua Panitia Penyelenggara kejuaraan dunia terjuna payung militer di Solo, Brigjen Endang Sodik. Menurut Sodik, sejumlah negara yang sedang bersengketa ikut dalam kejuaraan dunia ini.

“Konteks event ini kan friendship and profesionalism. Persahabatan, perdamaian dunia. Ini menjadi ajang bagaimana kita membangun komunikasi, perdamaian dunia, persahabatan antar negara. Silakan Korea Utara dan Korea Selatan bersengketa di negaranya, berantem. Tapi di kejuaraan ini, harus tetap bersahabat, berkompetisi dalam olahraga terjun payung ini. Silakan Lebanon dan Suriah berkonflik di negaranya, tapi di sini tidak boleh ribut, tidak boleh konflik," kata Brigjen Endang Sodik.

"Dalam konteks olahraga ini kita coba pertemukan mereka, untuk membangun persahabatan, perdamaian. Bagaimana menjadi bagian menciptakan perdamaian dunia," lanjut Sodik.

Salah seorang peserta dari Australia, John Grisinger, mengatakan dirnya bersama tim militer Australi baru pertama kali datang ke Solo. Menurut John, kejuaraan dunia terjun payung militer di Solo ini akan mempererat hubungan Indonesia-Australia.

“Kami dari Australia mengirimkan satu tim untuk ambil bagian dalam kejuaraan dunia ini. Kami sangat senang bisa ikut kejuaraan ini di Indonesia yang terkenal dan sebagai tuan rumah dalam kegiatan ini. Target tim kami, mendarat dengan selamat," kata John Grisinger.

"Bagi tim kami, ikut serta dalam kejuaraan ini semakin mempererat hubungan Indonesia-Australia. Semoga kami bisa memberikan yang terbaik dalam kompetisi yang baik ini,” lanjutnya.

Kejuaraan dunia terjun payung militer di Solo akan berlangsung hingga 28 September mendatang. Lokasi pertandingan dibagi dalam empat lokasi di Solo yaitu Kompleks Manahan, Lapangan sebelah selatan Kraton Kasunanan, Pangkalan Udara TNI AU Adi Soemarmo, dan Stadion Sriwedari.

Kejuaraan dunia ini mempertandingkan tiga kategori lomba yaitu Akurasi pendaratan, Free Style, dan Sky Diving. Kejuaraan sebelumnya, tahun 2013 lalu, digelar di China. Kejuaraan dunia tahun 2015 akan digelar di Korea Selatan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG