Tautan-tautan Akses

Solo: Hukum Berat Pelaku Kasus Angeline

  • Yudha Satriawan

Wakil Walikota Solo menuliskan ungkapan duka cita di aksi Pray For Angeline di ajang Car Free day Solo, Minggu pagi. (VOA/Yudha Satriawan)

Wakil Walikota Solo menuliskan ungkapan duka cita di aksi Pray For Angeline di ajang Car Free day Solo, Minggu pagi. (VOA/Yudha Satriawan)

Aksi solidaritas untuk bocah adopsi korban pembunuhan di Bali terus berlangsung di Solo. Pemkot Solo menegaskan kasus ini menjadi evaluasi bagi kota layak anak di Indonesia, termasuk Solo.

Sebuah poster bergambar foto seorang anak terpasang di Ajang Car Free Day Solo, Minggu pagi (14/6). Di antara poster anak tersebut juga turut dipajang sebuah karangan bunga, sejumlah boneka, dan tulisan SOLODARITAS, PRAY FOR ANGELINE.

Alas plastik berwarna putih tampak penuh berisi ratusan tanda tangan dan ungkapan warga pada anak korban adopsi yang dibunuh itu maupun kecaman dan desakan hukuman berat untuk pelaku kekerasan pada anak. Untaian doa dan simpati dilakukan para warga.

Salah sorang warga, Dini Wulandari, mengaku ikut tandatangan mendukung hukuman berat, hukuman mati, untuk para pelaku kekerasan yang dialami anak-anak. Menurut Dini, pemerintah harus serius menangani dan mengusut tuntas kasus kekerasan yang dialami anak-anak.

“Saya sebagai warga biasa, melihat ada anak, diadopsi, dibunuh dengan keji, sangat miris melihatnya. Saya ikut tanda tangan di aksi ini sebagai bentuk ungkapan duka cita sekaligus mendesak pemerintah memberi hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku. Jangan biarkan pelaku kekerasan dan kejahatan pada anak ini dibiarkan bebas, hukum berat, hukuman mati, biar jera dan tidak ada lagi pelaku kekerasan pada anak dan anak biasa menikmati hidup yang aman dan nyaman,” kata Dini.

Sementara itu, Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo, tanpa ragu langsung menuliskan ungkapan keprihatinannya pada kasus Angeline. Menurut Purnomo, kasus yang dialami Angeline bisa menjadi evaluasi pemerintah dalam menyikapi program kota layak anak, termasuk yang saat ini disandang kota Solo.

“Saya sangat prihatin dengan kasus Angeline yang terjadi di Bali. Itu mungkin baru satu kasus saja, masih banyak anak-anak mengalami kasus seperti Angeline. Ini menjadi satu hikmah, pelajaran dan pengalaman berharga bagi pemerintah baik usat hingga daerah serta para orang tua untuk bersama-sama memberi perhatian pada anak-anak. Jangan hanya infrastruktur ramah anak saja yang diurusi, tetapi juga bagaimana peran orang tua, lingkungan sekolah, hingga pemerintah memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Ini catatan penting bagi kami di pemkot Solo yang selama ini menyandang menuju kota ramah anak. Semoga kasus seperti Angeline dan kasus yang dialami anak-anak tidak terjadi di Solo,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, seorang anak berumur 8 tahun, Angeline, ditemukan tewas dan dikubur di belakang rumah orang tua angkatnya di Bali. Hampir sebulan bocah ini dikabarkan hilang dari rumah. Polisi, Komisi Perlindungan Anak, hingga menteri terkait mendatangi rumah orang tua angkatnya dan mencari keberadaan bocah ini. Polisi kemudian menemukan gundukan tanah di belakang rumah orang tua angkat korban dan menggali berisi mayat bocah tersebut masih berselimut dan memeluk boneka. Jasad bocah ini diotopsi dan ditemukan berbagai tanda kekerasan fisik dan dugaan perkosaan. Kasus ini menjadi sorotan berbagai media sosial dan media massa. Angeline diadopsi orang tua angkatnya karena saat kelahirannya orang tua kandung tidak memiliki biaya persalinan.

Selama ini Denpasar atau Propinsi Bali menjadi salah satu dari 34 kota, 40 kabupaten, 11 propinsi layak anak yang dicanangkan pemerintah hingga tahun 2015 ini.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG