Tautan-tautan Akses

Sofyan Djalil: Kenaikan Harga BBM Bersubsidi Putus Mata Rantai Pemain Migas

  • Iris Gera

Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil. (VOA/Iris Gera)

Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil. (VOA/Iris Gera)

Menteri Koordinator bidang Perekonomian tersebut mengatakan penetapan harga BBM bersubsidi yang terlampau rendah membuat harga minyak mudah dipermainkan.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bertujuan mempersempit ruang gerak para pemain sektor minyak dan gas, yang selama ini memanfaatkan harga-harga BBM yang rendah.

“Selama ini akibat harga (BBM bersubsidi dan tak bersusidi) terlalu beda, banyak sekali (minyak) impor yang kemudian di ekspor kembali, diselundupkan, masuk lagi, jadi siklusnya begitu saja. Mereka impor dengan harga mahal, sampai ke sini kemudian di re-export lagi dengan harga murah, nanti diimpor lagi, gitu lho," ujarnya pada wartawan, Rabu (26/11) di Jakarta.

Sofyan Djalil menambahkan pemerintah juga akan berupaya meningkatkan produksi minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Menurut catatan pemerintah, ketidakseimbangan antara kemampuan produksi dan kebutuhan minyak nasional membuat Indonesia harus impor minyak dengan nilai mencapai sekitar Rp 1,7 trilyun per hari.

“Sekarang ini produksi minyak kita cuma 800 ribu, kita konsumsi 1,6 juta. Baru bisa kita kurangi kalau sekarang dimudahkan untuk eksplorasi minyak baru. Nah itu yang akan dimudahkan oleh Menteri ESDM," ujarnya.

"Potensi kita itu masih banyak di laut dalam, misalnya di laut Sulawesi sampai 3,5 kilometer di bawah laut sana itu lho. Jadi perlu waktu dan perlu modal besar. Selama kita tidak meningkatkan produksi dalam negeri, ya tidak bisa."

Pada kesempatan berbeda, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said mengatakan, selama ini ada kelompok yang tidak ingin pemerintah menekan anggaran subsidi, diantaranya para importir minyak yang didukung oleh pihak lain seperti anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau pejabat pemerintah.

“Para pengimpor minyak itu akan selalu berusaha agar pemerintah menjaga subsidi, karena dengan itu kita disibukkan dengan hal-hal yang sifatnya jangka pendek, kemudian lupa menyiapkan diri untuk yang jangka panjang, misalnya infrastruktur migas," ujarnya.

"Kenapa sih kilang nggak dibangun-bangun , itu sebenarnya sesuatu yang logis, uangnya ada. Buktinya ratusan triliun kita keluar tetapi kenapa tidak dibangun. Saya punya dugaan kuat bahwa ada proses yang mempengaruhi luar biasa buat pengambil keputusan dari bawah sampai ke atas untuk tidak memutuskan kilang dibangun. Di periode ini kita musti bangun kilang."

Pemerintah terus mencari calon investor yang berminat bekerjasama dengan pemerintah membangun kilang minyak. Sebuah kilang minyak butuh anggaran sekitar US$9 miliar dengan kapasitas 300 ribu barrel per hari, dan kilang minyak mampu bekerja hingga 30 tahun ke depan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG