Tautan-tautan Akses

Skotlandia Incar Kemerdekaan, Rakyat Inggris Resah


Warga Edinburgh, Skotlandia, berargumen mengenai referendum pemisahan diri dari Inggris (8/9). (Reuters/Russell Cheyne)

Warga Edinburgh, Skotlandia, berargumen mengenai referendum pemisahan diri dari Inggris (8/9). (Reuters/Russell Cheyne)

Goldman Sachs memperingatkan bahwa meski tak ada alasan Skotlandia yang merdeka tidak akan sejahtera dalam jangka panjang, "dalam jangka pendek sampai menengah, konsekuensinya akan sangat negatif."

Gavin Jones hanya perlu melihat-lihat rak di toko kelontong miliknya di perbatasan Inggris dengan Skotlandia untuk melihat bahwa ia akan mengalami masalah besar jika Skotlandia mendeklarasikan kemerdekaan minggu depan.

Ada boneka beruang teddy dalam rok kotak-kotak Campbell dan roti dari Skotlandia, di atas rak selai merah yang dibuat di Inggris. Setelah kemerdekaan, barang-barang dari Skotlandia akan mendapat pajak impor, dan para pelanggan sepertinya akan membayar dalam dua mata uang yang berbeda.

Bisnis di Berwick-upon-Tweed, kota paling utara di Inggris, akan terpukul biaya transaksi bank.

"Jika Skotlandia memilih merdeka, konsep kami mengenai lokal akan berubah. Ada batas-batas yang dipasang," ujarnya.

Warga Berwick tidak merasa sebagai orang Inggris atau Skotlandia. Tidak heran karena tempat ini telah berganti kepemilikan 13 kali selama berabad-abad. Namun warga di Berwick (dibaca berik) dapat menghadapi perubahan dramatis akibat referendum 18 September.

Dalam hal itu, mereka sama dengan rakyat Inggris lainnya. Meski pemungutan suara itu dapat mengubah keseimbangan kekuasaan dalam politik Inggris, meningkatkan kemungkinan bahwa Britania Raya akan meninggalkan Uni Eropa dan melemahkan ekonomi dan mata uang negara, rakyat Inggris, Wales dan Irlandia Utara tidak memiliki hak atas hasil tersebut. Hanya warga Skotlandia yang dapat memberikan suara.

Partai Buruh di Inggris yang kekiri-kirian akan menjadi korban politik terbesar dari kemerdekaan Skotlandia karena banyak pemilihnya untuk parlemen berasal dari Skotlandia.

Skotlandia juga dikenal sangat pro-Uni Eropa, jadi kemerdekaannya akan sangat berpengaruh pada referendum yang dijanjikan Perdana Menteri David Cameron, mengenai apakah Inggris akan meninggalkan Uni Eropa atau tidak.

Konsekuensi meninggalkan Uni Eropa sangat besar bagi Inggris. Perusahaan-perusahaan multinasional yang memiliki kantor pusat UE di London mungkin akan pindah, membawa serta uang dan lapangan pekerjaan dengan mereka.

"Ini waktu yang sangat penting bagi Inggris," ujar Patrick Dunleavy, profesor ilmu politik di London School of Economics.

"Britania Raya telah bersatu selama 300 tahun dan ada di Uni Eropa sejak 1973. Dua referendum ini, serta pemilihan umum yang tak lama lagi, satu di antara yang lain, kita akan menghadapi lima tahun kekacauan konstitusional."

Kehilangan Skotlandia juga dapat melukai Inggris akibat ketidakpastian finansial yang akan terjadi dalam 18 bulan ke depan, periode yang diperlukan untuk menghapus hubungan antara Skotlandia dengan Inggris.

Bank investasi Goldman Sachs minggu lalu memperingatkan bahwa meski tak ada alasan Skotlandia yang merdeka tidak akan sejahtera dalam jangka panjang, "dalam jangka pendek sampai menengah, konsekuensinya akan sangat negatif."

Gavin Jones di Berwick khawatir karena kemerdekaan Skotlandia, menurutnya, "menambah kompleksitas dan biaya, tanpa ada penghasilan tambahan."

"Kami warga Berwick, bukan warga Inggris atau Skotlandia." (AP)

XS
SM
MD
LG