Tautan-tautan Akses

Skema Bank Desa Berdayakan Perempuan Malawi


Perempuan-perempuan di Mpandhula, Malawi. (Foto: Dok)

Perempuan-perempuan di Mpandhula, Malawi. (Foto: Dok)

Pihak LSM mengatakan inisiatif perbankan desa memungkinkan warga Malawi lebih mandiri secara ekonomi lewat program simpan pinjam.

Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Malawi yang fokus pada pemberdayaan perempuan, Center for Alternatives for Victimized Women and Children, telah bekerja untuk membantu perempuan miskin, janda dan teraniaya untuk menjadi mandiri secara ekonomi melalui program simpan pinjam di pedesaan.

Menurut pihak LSM tersebut, inisiatif yang dikenal dengan perbankan desa itu telah mendorong para perempuan membentuk kelompok beranggotakan antara 15 dan 25 orang untuk mengumpulkan sejumlah uang tiap minggu untuk membeli saham.

"Kami mendorong setiap anggota dalam kelompok untuk meminjam uang (untuk memulai usaha pilihannya). Tidak perlu ada jaminan karena mereka saling mengenal dan kami bahkan tidak memberlakukan bunga," jelas Hlazulani Malumbo Ziba, fasilitator LSM di distrik Chiradzulu di selatan, salah satu lokasi pelaksanaan proyek.

"Mereka memutuskan sendiri jenis persentase bunga yang harus dibayar tiap anggota setelah meminjam uang," ujarnya.

Ziba mengatakan bunga yang dibayar kemudian ditambahkan ke jumlah uang yang diterima masing-masing anggota saat pembagian uang, yang disimpan sepanjang tahun.

"Kami mengatakan bahwa bunga harus dimiliki setiap anggota yang meminjam karena kami ingin mereka berpartisipasi dalam meminjam, karena lewat pinjaman itulah jumlah uang akan meningkat pada akhirnya," ujarnya.

Menurut Ziba, lebih dari 5.000 perempuan dari 81 desa telah mendapat manfaat dari program yang dimulai 2010 ini.

Eunice Victory adalah koordinator proyek simpan pinjam di daerah sekitar desa Chingoli. Janda beranak dua, Victory mengatakan ia bergabung dengan program tersebut pada 2011 karena hidup dalam kemiskinan setelah ditinggal mati suaminya, dan tidak dapat membayar uang sekolah anak-anak.

"Hari pertama saya bergabung dengan kelompok ini saya meminjam sekitar MK10.000 (US$26) yang saya gunakan untuk memulai usaha menjual gorengan karena awalnya saya tidak memiliki aktivitas," jelasnya.

"Sekarang, saya dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup saya, dan bisa membangun rumah."

Ia juga mengatakan lewat program ini ia dapat membayar uang sekolah kedua putrinya, salah satunya sedang kuliah kedokteran.

Maxwell Kaliati, manajer program untuk kantor pusat di Blantyre mengatakan, salah satu tantangan adalah menyimpan uang dengan aman, terutama sejak dikumpulkan, karena tidak disimpan di bank-bank komersial.

"Meski demikian, kami mendorong orang-orang bahwa saat mereka menyimpan, mereka sebaiknya segera meminjam. Ada ketakutan uang itu dicuri. Meski kami belum melihat ada kasus perampokan, namun itu merupakan tantangan," ujar Kaliati.

Ia menambahkan bahwa untuk mengatasi kendala-kendala yang ada, mereka bertemu dengan polisi dari daerah sekitar untuk menjalin hubungan dan menghindari pencuri. (VOA/Lameck Masani)
XS
SM
MD
LG