Tautan-tautan Akses

Siswi Chibok Ungkapkan Peristiwa Penculikan Boko Haram di Washington


Patience Bulus, salah seorang siswi Chibok menceritakan pengalamannya lolos dari penculikan militan Nigeria, Boko Haram, dalam acara di kantor VOA, Washington DC Selasa 14/4 (foto: VOA/Eva Mazrieva).

Patience Bulus, salah seorang siswi Chibok menceritakan pengalamannya lolos dari penculikan militan Nigeria, Boko Haram, dalam acara di kantor VOA, Washington DC Selasa 14/4 (foto: VOA/Eva Mazrieva).

Hari Selasa, 14 April 2015, tepat satu tahun penculikan 276 siswi sekolah dari sebuah asrama di Chibok – Nigeria.

Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan dan membawa mereka yang berhasil menyelamatkan diri ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan.

Ketika 276 siswi diculik Boko Haram tanggal 14 April 2014, matahari belum terbit di Chibok – Nigeria. Dengan menggunakan puluhan truk, militan-militan Boko Haram datang, menodongkan senjata dan menggiring gadis-gadis kecil berusia 14 hingga 18 tahun ke dalam truk-truk dan membawa mereka entah kemana. Sedikitnya 56 siswi berhasil melarikan diri dengan melompat dari truk-truk itu dan bersembunyi di hutan.

“Mereka menculik kami dan membakar seluruh sekolah. Mereka menggiring kami ke kendaraan-kendaraan yang mereka bawa”.

Berkat bantuan sebuah LSM yang menggagas program “Education After Escape”, sebagian siswi yang berhasil selamat itu dibawa ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan dalam suasana aman.

Salah seorang di antaranya adalah Patience Bulus yang ikut hadir dalam diskusi yang diselenggarakan oleh VOA di Washington DC hari Selasa (14/4).

Air mata tampak meleleh di pipinya ketika video rangkuman berita tentang penculikan siswi-siswi di Chibok diputar, termasuk petikan pernyataan pemimpin Boko Haram – Abu Bakar Shekau di depan siswi-siswi yang mereka culik. Ia pun belum bisa bicara banyak tentang apa yang dialaminya.

Seakan menyuarakan isi hati Patience Bulus, anggota faksi Demokrat dari negara bagian Florida – Frederica S. Wilson dengan berapi-api menyatakan dunia seharusnya jangan melupakan siswi-siswi Chibok ini.

“Kita seharusnya tidak melupakan siswi-siswi ini, dan dengan tidak melupakan mereka, berarti kita tidak melupakan Nigeria, kita tidak melupakan Boko Haram, kita tidak melupakan kekejaman dan penderitaan yang terjadi di Nigeria. Kita juga harus menekan pemerintah Nigeria. Kita harus menyampaikan pada mereka harapan kita. Kita membutuhkan seluruh kekuatan internasional – termasuk dari Presiden Amerika Barack Obama – yang telah mengeluarkan pernyataan kepada Muhammadu Buhari ketika ia terpilih pekan lalu. Saya juga sedang mendorong dikeluarkannya pernyatan yang lebih keras dari Kongres, karena Buhari memiliki kewajiban dan tanggungjawab untuk melindungi rakyat Nigeria,” ujar Frederica.

Frederica Wilson juga menyoroti bergabungnya Boko Haram dengan ISIS baru-baru ini, yang disebutnya sebagai “gabungan kekuatan dari neraka”, dan harus diwaspadai oleh Amerika dan negara-negara lain di dunia.

“Ini adalah gabungan kekuatan dari neraka. Ini merupakan sesuatu yang harus diwaspadai oleh Amerika dan seluruh dunia, karena ketika ISIS dan Boko Haram bersatu, mereka akan melakukan rekrutmen – termasuk dari Amerika – dan ketika kembali nantinya, mereka sudah menjadi teroris dan bisa meledakkan bom di mana saja. Jadi kita seharusnya hati-hati,” tambahnya.

Satu tahun setelah penculikan 276 siswi di Chibok – Nigeria itu belum pernah ada kabar tentang keberadaan mereka sekarang ini. Amerika telah mengirim 80 tentara ke Chad untuk membantu melacak siswi-siswi itu. Demikian pula dengan negara-negara tetangga Nigeria.

Kampanye besar-besaran juga dilakukan melalui media sosial untuk menekan pemerintah Nigeria dan pihak-pihak berwenang guna membantu pembebasan mereka. Ibu Negara Amerika Michelle Obama ikut memberi dukungan kepada Oby Ezekwesili yang menggagas kampanye itu dengan menggunakan tanda pagar #BringBackOurGirls.Langkah ini diikuti jutaan orang di seluruh dunia. Tetapi siswi-siswi itu masih belum ditemukan.

Presiden baru Nigeria – Muhammadu Buhari – berjanji akan melakukan upaya apapun untuk menemukan mereka.

Amnesty International mengatakan sebenarnya selain ke-276 siswi Chibok itu, sudah lebih dari dua ribu perempuan dan anak perempuan diculik Boko Haram sejak tahun 2014. Mereka tidak sekedar dilarang bersekolah, tetapi juga dipaksa kawin dengan anggota kelompok teroris itu, dijadikan perisai manusia atau dilatih menjadi penyerang bunuh diri.

Fenomena ini juga terjadi di Kenya dan beberapa negara di benua Afrika lainnya. Sedikitnya 147 mahasiswa Garissa University College di Kenya tewas ketika kelompok militan Al Shabab menyerang kampus universitas itu awal April lalu.

Anggota faksi Demokrat dari negara bagian California – Karen Bass mengatakan kita semua harus melakukan sesuatu untuk memperjuangkan hak orang memperoleh pendidikan.

“Saya kira melihat apa yang terjadi di Kenya beberapa saat lalu – demikian pula insiden penculikan siswi-siswi di Nigeria oleh Boko Haram – menunjukkan bahwa kita harus melakukan apapun yang bisa untuk memperjuangkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan. Pembantaian di kampus di Kenya hanya menciptakan kemarahan dunia dan kita harus memastikan agar Al Shabab – dan Boko Haram tidak mengulanginya lagi,” kata Karen.

Guna mendorong perhatian masyarakat akan isu penculikan siswi-siswi Chibok-Nigeria ini, sejumlah anggota Kongres Amerika akan melangsungkan pertemuan terbuka dengan masyarakat di depan gedung Kongres hari Rabu siang (15/4).

XS
SM
MD
LG