Tautan-tautan Akses

Siswa di AS Gunakan Film untuk Lawan Bullying


Para remaja di sekolah di Maryland melawan "bullying" dengan kreativitas.

Para remaja di sekolah di Maryland melawan "bullying" dengan kreativitas.

Para remaja di sekolah di Maryland melawan "bullying" dengan kreativitas. Selama dua tahun berturut-turut, para siswa di kelas ilmu kesehatan Mathew Parsons di Sherwood High School menulis dan memproduksi film tentang masalah global yang dihadapi oleh kaum muda.

Anya Mudryakova, Savannah Suser dan Diane Trieu yang merupakan teman satu kelas dan sahabat, membuat film dokumenter.

Siswa berusia 16 tahun tersebut baru memulai proyek mereka tahun ini yang belum diberi judul.

Ada dua pilihan untuk judul proyek mereka, yaitu “Bullies are their own Bullies” and “Be Your Own Ally,” ujar Anya, “karena proyek ini lebih fokus pada bullying internal, bagaimana kamu melihat dirimu sendiri atau bagaimana kamu mem-bully diri sendiri tanpa sadar, karena kami ingin menyampaikan pesan, kamu harus bersikap baik pada dirimu sendiri.”

Anya, yang mengambil gambar video dan sekaligus menjadi editor, senang tentang proyek tersebut karena dia ingin meningkatkan kesadaran tentang masalah itu.

Bullying semakin tidak terlihat, dan hal itu semakin menjadi masalah,” ujarnya. "Orang-orang menemukan metode dan cara baru untuk mem-bully orang lain tanpa terlibat masalah dan hal ini membawa dampak yang jauh lebih buruk.”

Korban bully melawan

Anya telah membuat video dan mengunggahnya di YouTube sejak ia berusia 10 tahun. Ia di-bully karena itu.

“Saya menerima banyak (pesan) penuh kebencian tentang video saya seperti, ‘Oh, video yang kamu buat, tolol,’ ‘Kamu aneh,’ ‘Kenapa kamu membuat video ini?,’” ujarnya. "Tapi, ketika saya masuk SMA saya mulai menerimanya dengan lapang dada.”

Hobinya kemudian membawa hasil. Sekolahnya memilih video yang dibuatnya bersama temannya tahun lalu sebagai video yang dikirim oleh SMA Sherwood ke program Great American No Bull Challenge, kontes global anti-bullying untuk para remaja. Video yang diberi judul "One" tersebut menjadi salah satu finalis.

Film feature tersebut mengeklporasi bagaimana perasaan korban bullying.

Diane yang memerankan karakter utama, mengatakan, “Karakter ini di-bully oleh semua teman sekelasnya. Pokoknya semua orang memusuhinya. Dia tidak punya siapa-siapa. Tapi kalau ceritanya diganti dan ada seseorang yang mau membantunya, ia pasti tidak akan bunuh diri."

Lakukan sesuatu yang berbeda dan hentikan bullying

Pesan film One jelas, ujar Savannah.

“Satu orang bisa membuat perbedaan. Ada beberapa orang yang bilang, ‘video ini membuat saya menangis.’ Ini menunjukkan bahwa orang-orang bisa berbuat sesuatu.”

Berdasarkan pengalamannya, Savannah yakin bullying adalah masalah besar khususnya di antara remaja perempuan.

“Entahlah, anak perempuan mengerikan," ujarnya, setelah berusaha mencari kata yang tepat. "Kami suka menggangu atau mengomentari anak perempuan lainnya; ‘Saya tidak suka caranya berpakaian, ’Saya tidak suka rambutnya, ada sesuatu yang salah tentang dia.”

Jadilah solusi

Mathew Parsons, seorang guru, yakin bahwa bullying adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh para guru.

“Saya pikir ini adalah masalah yang terkait dengan dinamika sosial," ujarnya. “Di manapun di dunia ini, atau budaya apapun, pasti akan menemukan dinamika antar remaja yang sama. Jadi ini masalah di manapun. Masalah ini terus berlangsung dan tidak banyak solusinya. Dan sekarang dengan Internet dan media sosial, cyber bullying telah menjadi masalah juga.”

Mathew, yang memberikan masukan-masukan pada produser film muda di kelasnya, mengatakan tidak banyak yang bisa dilakukan oleh para guru untuk mengatasi masalah ini, tapi para remaja sendiri bisa menjadi solusi.

“Kalau kami, sebagai guru atau administrasi, berbicara dengan siswa tentang sesuatu hal, mereka menganggap kami menguliahi mereka," ujarnya. “Karya temannya, apalagi kalau melihat dampak emosionalnya, lebih berpengaruh di antara siswa tersebut. Mereka lebih bisa merasakannya dan mengerti konsekuensinya dan dampak dari perbuatan mereka.”

Rasa bahwa mereka bisa membuat perbedaan memberikan rasa antusias pada Anya, Savannah dan Diane, dan mereka berharap video mereka tahun ini akan menjadi pemenang.

XS
SM
MD
LG