Tautan-tautan Akses

Singapura, Australia Akan Tingkatkan Hubungan Intelijen


Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen bersama Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel dalam sebuah pertemuan Mei 2014.

Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen bersama Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel dalam sebuah pertemuan Mei 2014.

Menteri Luar Negeri Australia mengatakan pemerintahnya juga sedang membahas isu ekstremisme dengan para mitra di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Australia dan Singapura berjanji pada Jumat (22/8) untuk meningkatkan kerjasama intelijen dalam menghadapi meningkatnya ketakutan akan ancaman yang diberikan oleh para warga negara ekstremis yang kembali ke negara masing-masing.

Para menteri dari kedua negara memperingatkan meningkatnya risiko yang diberikan oleh kembalinya orang-orang yang bertempur yang mengalami proses radikalisasi dan telah mengembangkan kemampuan-kemampuan canggih untuk melakukan serangan-serangan teror.

"Dalam konteks anti-terorisme dan anti-radikalisasi ini... kami merasa kami dapat bertukar lebih banyak informasi karena ancaman-ancaman ini jika terjadi akan mempengaruhi semua warga negara dari semua ras dan agama," ujar Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen dalam konferensi pers gabungan dengan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop.

Para pejabat pemerintah Australia senior yang dipimpin Bishop ada di Singapura untuk pertemuan-pertemuan bilateral.

Bishop mengatakan Canberra "juga sedang membahas dengan para mitra di Indonesia, Malaysia, dan Filipina karena ini bukanlah isu yang terisolasi."

"Jika orang-orang yang disebut pejuang asing ini kembali ke Australia, kembali ke wilayah kita, maka mereka menampilkan ancaman," ujarnya.

"Mereka adalah para ekstremis yang berpengalaman dan semakin keras yang telah mengalami sejumlah peristiwa dan aktivitas-aktivitas teroris di luar negeri," tambahnya.

Asisten Menteri Pertahanan Australia Stuart Robert mengatakan pembagian informasi yang lebih meningkat dengan Singapura akan mencakup "wilayah-wilayah terorisme, ekstremisme, pejuang asing dan pertumbuhan ekstremisme dalam negeri."

Amerika Serikat dan Australia bulan ini sepakat untuk membawa isu mengenai para pejuang asing ekstremis dalam kelompok teror Negara Islam ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kelompok tersebut telah menyerbu wilayah-wilayah Suriah dan Irak dan telah mendeklarasikan kekalifahan di tempat-tempat tersebut.

Sebanyak 150 warga Australia disebut-sebut telah bertempur bersama kelompok tersebut di luar negeri, termasuk sedikitnya satu pria asal Sydney dan putranya yang masih kecil yang telah berpose dalam foto memegang kepala terpenggal.

Pemerintahan Perdana Menteri Tony Abbott memperkeras undang-undang untuk lebih menyulitkan warga yang pergi dari Australia untuk berperang di Timur Tengah, dan lebih mudah untuk menahan mereka saat mereka kembali.

Singapura pada Juli mengatakan mengetahui ada dua warga Singapura yang saat ini bertempur di Suriah bersama keluarga-keluarga mereka.

Pihak-pihak berwenang pada Oktober 2012 telah menahan seorang pria yang berupaya pergi ke Suriah untuk bergabung dengan para ekstremis, sementara dua lagi telah dibatasi ruang geraknya menyusul upaya-upaya mereka untuk mengontak kelompok-kelompok militan.

Malaysia telah menangkap 19 militan yang terinspirasi Negara Islam yang diduga telah merencanakan pengeboman klub, tempat disko dan pembuatan bir di Malaysia. (AFP)

XS
SM
MD
LG