Tautan-tautan Akses

Singapura Adakan Pemilu Parlemen Hari Jumat

  • Ron Corben

Mantan Deputi PM Singapura Wong Kan Seng berbicara pada kampanye akhir Partai Aksi Rakyat di Singapura (foto: dok).

Mantan Deputi PM Singapura Wong Kan Seng berbicara pada kampanye akhir Partai Aksi Rakyat di Singapura (foto: dok).

Para pemilih di Singapura minggu ini akan menuju TPS-TPS untuk memilih anggota parlemen, sementara Partai Aksi Rakyat (PAP) diperkirakan menang lagi seperti dalam lebih separuh abad terakhir.

Sebanyak 89 kursi parlemen akan diperebutkan untuk pertama kalinya sejak Singapura merdeka tahun 1965 sehingga ini akan menjadi ujian popularitas bagi partai berkuasa itu.

Menjelang pemilu parlemen Singapura hari Jumat (11/9), Partai Buruh yang beroposisi berharap merebut lebih banyak dari tujuh kursi saat ini dengan memanfaatkan ketidakpuasan pemilih terhadap pemerintah.

Dalam banyak kampanye, pemimpin partai itu Low Thai Khiang berbicara bagaimana partai berkuasa telah gagal mengatasi kesenjangan sosial dan meminta dukungan lebih besar bagi oposisi di parlemen.

“Partai Buruh yakin akan pentingnya perwakilan yang berimbang dalam era berikutnya di Singapura. Kami ingin memberdayakan rakyat Singapura agar berperan dalam mencapai kebahagiaan, kemakmuran dan kemajuan bagi negara ini,” kata Low Thai Khiang.

Partai Aksi Rakyat (PAP) telah menang dalam setiap pemilu sejak kemerdekaan Singapura tahun 1965. Antara tahun 1968 hingga 1984, pihak oposisi bahkan tidak memenangkan satupun kursi parlemen.

Tetapi dalam pemilu 2011, partai berkuasa terkejut karena perolehan suaranya merosot ke 60 persen. Itu adalah angka terendah sejak mereka berkuasa tahun 1959.

Para pemimpin PAP berargumen wewenang mereka dalam menentukan kebijakan akan melemah jika kehilangan mayoritas parlemen. Belum jelas apakah pesan tersebut akan disambut para pemilih yang mulai cemas akan kemampuan pemerintah menyediakan layanan publik, kebijakan imigrasi dan menjamin kesehatan ekonomi negara mereka.

Daniel Martin, ekonom senior pada lembaga riset Capital Economics, yakin partai berkuasa telah berusaha menanggapi kritik dari para pemilih.

“Yang terjadi dalam lima tahun ini adalah para pemilih semakin kritis terhadap pemerintah dan perolehan suara bagi pemerintah dalam pemilu terus berkurang. Sudah ada reaksi dari pemerintah, terutama terkait keluhan tentang imigrasi,” tutur Daniel.

Bill Case, pakar politik pada Universitas Hong Kong, yakin partai berkuasa akan kembali menang. Tetapi, di negara dimana rakyat wajib memberikan suara, pemilu minggu ini akan menjadi indikasi penting tentang penilaian rakyat terhadap kepemimpinan PAP.

Ada 10 partai yang bersaing dalam pemilu hari Jumat ini dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Singapura, ke-89 kursi parlemen diperebutkan.

XS
SM
MD
LG