Tautan-tautan Akses

Sindikat Jual Beli Kunci Jawaban UN Terbongkar di Karanganyar

  • Yudha Satriawan

Barang bukti berupa lembaran indikasi kunci jawaban Ujian Nasional di Polres Karanganyar (Foto: VOA/Yudha)

Barang bukti berupa lembaran indikasi kunci jawaban Ujian Nasional di Polres Karanganyar (Foto: VOA/Yudha)

Polres Karanganyar terus membongkar sindikat jual beli indikasi kunci jawaban Ujian Naisonal yang melibatkan siswa, guru, hingga kepala sekolah berbagai daerah di Jawa tengah.

Tiga orang berpenutup kepala menunduk sambil menjawab pertanyaan yang diajukan petugas penyidik Polres Karanganyar di kantor polisi setempat. Ketiganya adalah kepala sekolah dan guru sekolah di Boyolali dan Demak yang terlibat jual beli lembaran indikasi kunci jawaban Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK yang baru saja berakhir dua pekan lalu. Kasus ini menjadi catatan hitam bagi sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Salah seorang pelaku Kepala sekolah SMA di Boyolali berinisial S, mengaku ikut karena jaringan guru dan kepala sekolah yang terlibat dalam kasus ini adalah teman akrab yang juga Kepala Sekolah di Boyolali.

“Saya tidak mendistribusikan lembaran kunci jawaban UN, saya hanya diminta teman, mencarikan peminat, saya hanya menghubungkan saja..karena saya diminta teman akrab saya itu yang juga kepala sekolah,” jawab S, kepala sekolah sindikat jual beli kunci jawaban UN.

Polisi terus mencerca dengan melemparkan pertanyaan demi pertanyaan kepada para pelaku di jaringan tersebut yang diperiksa. Asal muasal lembaran indikasi kunci jawaban UN diperoleh, motif pelaku, bayaran yang diterima, hingga korban yang sudah membeli kunci jawaban UN tersebut.

Juru bicara Polres Karanganyar, AKP Agus Sulistianto, mengatakan keterlibatan jaringan ini mayoritas adalah kepala sekolah dan guru di Boyolali dan Demak. Mereka mengaku hanya sebagai perantara.

“Berdasarkan keterangan yang saya terima dan saya dapat langsung dari pelaku, jaringan mereka pernah menjual lembaran kunci jawaban UN tahun lalu, tahun 2013. Mereka mengaku tingkat akurasi kebenaran lembaran kunci jawaban UN tahun lalu lebih dari 80 persen. Mereka memang sengaja tidak 100 persen benar, untuk menghindari indikasi kuat pembocoran kunci jawaban UN," kata Polres Karanganyar, AKP Agus Sulistianto.

Di lembaran tersebut, menurut Agus Sulistianto, ada jawaban yang sengaja dikosongkan, tidak semua terisi jawaban. "Itu yang tahun lalu. Kalau yang tahun ini, belum tahu akurasi kebenarannya, masih kita tunggu respon resmi dari Kementerian Pendidikan. Kita sudah ajukan surat kok," lanjutnya.

Agus Sulistianto menambahkan pihaknya belum mengetahui siapa pelaku utama di balik sindikat jual beli lembaran kunci jawaban UN ini. Para korban, siswa di Karanganyar, memesan kunci jawaban UN dari Boyolali.

Polres Karanganyar pun berkoordinasi kepolisian daerah lain dengan temuan kasus dugaan bocoran lembar kunci jawaban Ujian Nasional, antara lain di Purworejo Jawa Tengah dan Surabaya Jawa timur. Polisi terus memburu pelaku utama atau aktor intelektual di balik sindikat jual beli indikasi kunci Jawaban Ujian Nasional ini.

Sebagaimana diketahui, Polres Karanganyar menangkap basah sejumlah siswa sekolah negeri di Karanganyar saat membeli lembaran kunci jawaban UN tingkat SMA/MA/SMK.
Polisi menyita ratusan lembar dugaan kunci jawaban sejumlah mata pelajaran dalam UN dan uang senilai 12 juta rupiah. Kunci jawaban mata pelajaran dalam UN tersebut mencakup mata pelajaran yaitu Kimia, Sosiologi, Matematika IPS, Matematika IPA, dan sebagainya. Lembaran kunci jawaban untuk setiap mata pelajaran dijual dengan harga 7 juta rupiah. Jaringan pelaku ini beroperasi di Karanganyar, Boyolali, Solo, dan Sragen.
XS
SM
MD
LG