Tautan-tautan Akses

Sikap Hati-hati Sambut Gencatan Senjata di Suriah


Menlu AS John Kerry (kiri) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov mengumumkan kesepakatan gencatan senjata di Suriah setelah pertemuan di Jenewa, Swiss hari Sabtu (10/9) pagi.

Menlu AS John Kerry (kiri) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov mengumumkan kesepakatan gencatan senjata di Suriah setelah pertemuan di Jenewa, Swiss hari Sabtu (10/9) pagi.

Kesepakatan gencatan senjata di Suriah diumumkan bersama oleh Menlu AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov di Jenewa, Swiss hari Sabtu (10/9) pagi.

Suriah mengatakan pemerintah Damaskus Presiden Bashar al-Assad telah menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Rusia, sekutu al-Assad, dengan Amerika.

"Sebuah gencatan pertempuran akan dimulai di Aleppo demi alasan kemanusiaan," kata kantor berita Suriah.

Beberapa jam kemudian, kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Lebanon, yang setia berjuang bersama al-Assad, mengatakan juga akan menghormati gencatan senjata itu, sambil bertekad untuk mempertahankan diri jika diserang.

Turki, yang mengirim pasukan militernya ke konflik antar berbagai pihak akhir bulan lalu itu, juga mengumumkan dukungan terhadap gencatan senjata yang dimulai saat matahari terbenam hari Senin (11/9).

Kesepakatan gencatan senjata itu diumumkan bersama-sama oleh Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Jenewa Sabtu (10/9) pagi.

Pasukan oposisi Suriah juga mengatakan mereka menyambut baik kesepakatan itu. Namun, karena mereka merasa baik pasukan Rusia maupun pemerintah Suriah tidak mematuhi rencana gencatan senjata sebelumnya, maka mereka ragu-ragu bahwa gencatan senjata ini dapat dipertahankan.

Pengaruh Moskow terhadap Damaskus "adalah satu-satunya cara yang dapat membuat rezim mematuhi gencatan senjata tersebut," menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Bassma Kodmani dari Komisi Tinggi Negosiasi Oposisi Suriah. [zb]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG