Tautan-tautan Akses

Siapkah Brazil Jadi Tuan Rumah Olimpiade?

  • Carolyn Presutti

Petugas bersiap menyemprotkan insektisida di stadion panah Sambodrome di Rio de Janeiro, Brazil, Januari 2016.

Petugas bersiap menyemprotkan insektisida di stadion panah Sambodrome di Rio de Janeiro, Brazil, Januari 2016.

Dengan masalah Zika, pencemaran air dan kekacauan politik, banyak pihak ragu Brazil dapat menyelenggarakan Olimpiade dengan mulus.

Seorang petugas mengamati permukaan air. Jaring yang ia pegang menangkap pembungkus permen dan seekor ikan mati. Lebih ke tengah sedikit, sebuah kulkas mengapung.

Begitulah situasi di Teluk Guanabara di Rio de Janeiro, yang segera akan menjadi lokasi pertandingan antara pelaut terbaik di dunia dalam cabang olahraga layar Olimpiade. Namun teluk itu sangat tercemar, bahkan oleh kotoran manusia dari sistem pembuangan kota yang tidak memadai, sehingga para pejabat kesehatan khawatir siapa pun yang bersentuhan dengan air di sana berisiko terkena infeksi.

Brasil sedang berada dalam keadaan kacau di beberapa lini, tidak hanya kualitas air.

Olimpiade 2016 kurang dari tiga bulan lagi. Namun para atlet tidak mendominasi berita, dikalahkan serangga kecil. Para ahli memperingatkan tentang Zika, virus yang disebarkan oleh nyamuk, yang telah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai darurat kesehatan global.

Zika dapat menyebabkan gejala ringan pada orang dewasa, namun dikaitkan dengan kecacatan lahir parah yaitu mikrosefalus, dimana otak bayi tidak berkembang secara penuh, sehingga kepalanya lebih kecil dari seharusnya.

Zika juga tersebar lewat hubungan seks yang tidak aman. Oleh karenanya, sebuah perusahaan farmasi Australia memasok tim Olimpiade negaranya dengan kondom. Tim Korea Selatan akan memakai kaos dan celana lengan panjang yang telah dibubuhi bahan kimia untuk mengusir nyamuk. Tim Amerika akan memakai celana pendek putih Ralph Lauren, seolah-olah mengejek nyamuk dengan kaki mereka.

Pemerintah Brazil telah mengambil langkah tersendiri. Lebih dari 200.000 personel militer dimobilisasi dan akan bergabung dengan sektor swasta dan tenaga sukarela untuk membersihkan tempat-tempat nyamuk berkembang biak.

Kisruh Politik

Seorang mahasiswi Brazil bergabung dengan para perempuan lainnya dalam salah satu dari banyak demonstrasi di kota terbesar Brazil, Sao Paolo. Ia mengeluhkan penjabat presiden Michel Temer. Mantan wakil presiden itu mengambil alih kepresidenan untuk enam bulan ke depan sementara Presiden Dilma Rousseff menghadapi persidangan atas dugaan korupsi.

Para demonstran memegang spanduk-spanduk bertuliskan 'Kudeta' dalam Bahasa Portugis, dalam protes pro-pemerintahan di Rio de Janeiro, Brazil (10/5).

Para demonstran memegang spanduk-spanduk bertuliskan 'Kudeta' dalam Bahasa Portugis, dalam protes pro-pemerintahan di Rio de Janeiro, Brazil (10/5).

Namun Temer langsung dikritik karena mengumumkan kabinet yang seluruh anggotanya pria dan berkulit putih. Ini untuk pertama kalinya Brazil tidak memiliki perempuan di kabinet sejak tahun 1970an.

"Ia merepresentasikan semua hal yang konservatif," ujar mahasiswi tersebut. "Pemerintahan tanpa kehadiran perempuan, tanpa perempuan kulit hitam, tanpa orang suku asli, tanpa siapa pun yang merepresentasikan kami, kami tidak merasa terwakili sama sekali."

Spanduk-spanduk di sekitarnya bertuliskan kalimat-kalimat dalam Bahasa Portugis yang berarti, "Ya, perempuan bisa!" dan "Temer Turun."

Para demonstran di wilayah lain wakil presiden itu merencanakan kudeta.

Temer telah berjanji untuk menyatukan negara itu setelah perpecahan berbulan-bulan mengenai sidang pemakzulan Presiden. Ia berencana melakukan pemangkasan anggaran untuk mengeluarkan negara dari resesi dan ia minta waktu pada rakyat.

"Saya tidak bisa melakukan keajaiban dalam dua tahun," ujarnya. Pemilihan presiden berikutnya adalah tahun 2018.

Dalam pembicaraan lewat telepon hari Selasa (17/5), Temer meyakinkan Presiden Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach, bahwa Olimpiade akan berlangsung di Rio tanpa masalah. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG