Tautan-tautan Akses

Setelah 'Eat, Pray, Love,' Bali Ingin Tarik Lebih Banyak Film


'Eat, Pray, Love' menjadi film Hollywood budget besar pertama yang mengambil setting di Bali. Bali Film Center dan pemerintah Bali ingin menarik berbagai studio untuk syuting di Bali.

Film "Eat, Pray, Love" adalah kisah nyata perjalanan Elizabeth Gilbert, perempuan Amerika yang mencari ketenangan spiritual dan keseimbangan hidup di Italia, India dan Indonesia.

Inilah untuk pertama kalinya, sebuah film Hollywood bernilai milyaran dolar, dengan bintang sekaliber Julia Roberts dan Javier Bardem, mengambil setting di Indonesia, tepatnya Bali. Deborah Gabinetti dari Bali Film Center, organisasi yang sejak tahun 2002, aktif mempromosikan Indonesia sebagai lokasi syuting film layar lebar, menilai ini terobosan berarti.

Aktris Christine Hakim yang memerankan tokoh Wayan,juga datang dari Indonesia untuk menghadiri pemutaran perdana film ini di New York.

Aktris Christine Hakim yang memerankan tokoh Wayan,juga datang dari Indonesia untuk menghadiri pemutaran perdana film ini di New York.

"Dengan film ini, kita membuktikan kita bisa melakukan sesuatu sekaliber ini. Indonesia sangat luas, sangat tidak tersentuh, jadi ini sangat menarik," ujar Gabinetti.

Upaya Bali Film Center mendapat dukungan dari Pemda Bali, serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, yang optimis fillm ini akan mendongkrak kembali pamor Indonesia di mata dunia, yang sempat turun akibat serangkaian serangan terorisme.

"Kita harapkan film ini dapat memacu produser-produser lain untuk membuat film di Indonesia," ujar Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Namun, menurut Deborah, untuk mampu bersaing dalam industri film internasional, tak cukup hanya dnegan membuka tangan selebar-lebarnya. Untuk setting negara tropis, Indonesia sering kalah bersaing dengan lokasi lain, yang sudah mempunyai program insentif khusus untuk industri perfilman.

"Fiji dan Thailand memiliki program insentif yang bagus sekali. Ini sesuatu yang dicari semua studio, tak hanya dari Amerika, tapi juga dari seluruh dunia. Baik dalam potongan pajak, atau tambahan dana, hibah dan lain-lain," jelas Gabinetti.

Menurut Christine Hakim, yang juga hadir pada malam premier "Eat, Pray, Love" di Siegfeld Theater, New York, pelaku industri film Indonesia bisa belajar dari sistem dan etos kerja insan perfilman Hollywood.

"Seorang profesional, sekaliber Julia Roberts, memang harus disiplin pada dirinya. Bukan hanya Julia saya lihat, yang lainpun, kru-krunya juga seperti itu. Tidak ada orang yang tidak berkepentingan berada dalam set, tidak ada becanda cekikikan. Semua hanya fokus pada job description masing-masing," kata Christine. Ia menambahkan bahwa sebetulnya Indonesia memiliki banyak pembuat film dan aktor-aktor yang potensial.

Selain potensi pengembangan industri perfilman tanah air, film ini diharapkan akan menggairahkan kembali industri pariwisata. Malah menurut pengamat, kini yang sedang menjadi trend di kalangan warga Amerika adalah wisata spiritual, dan salah satu tujuan wisata spiritual yang mereka nanti-nantikan adalah Bali.

Kedua pemain pendukung "Eat, Pray, Love" mengaku sangat terkesan dengan Bali, dan bahkan ingin pindah ke sana, setelah enam minggu syuting di Pulau Dewata tersebut.

"Saya suka pantainya, tapi Ubud juga cantik dengan sawah-sawahnya. Kita juga pergi arung jeram," ujar TJ Power, pemeran Leon.

Sementara itu, Arlene Tur, pemeran Armenia sangat terkesan dengan masakan Indonesia. "Saya suka sekali nasi goreng dengan telur di pagi hari. Itu sarapan saya setiap pagi. Enak sekali," kenang Arlene.

Di Indonesia, film "Eat, Pray, Love" baru akan mulai diputar pertengahan Oktober, sejalan dengan berlangsungnya Balinale, festival film internasional yang dikelola Bali Film Center.

XS
SM
MD
LG