Tautan-tautan Akses

Setelah Brexit, Menyusul Nexit?


Perayaan kembang api 1 Januari 2002 di balai kota dengan tulisan "Euro adalah milik kita" di Maastricht, bagian selatan Belanda, kota dimana ide tentang penyatuan mata uang Uni Eropa disepakati dan disusun berdasarkan Perjanjian Maastricht pada bulan Februari 1992.

Perayaan kembang api 1 Januari 2002 di balai kota dengan tulisan "Euro adalah milik kita" di Maastricht, bagian selatan Belanda, kota dimana ide tentang penyatuan mata uang Uni Eropa disepakati dan disusun berdasarkan Perjanjian Maastricht pada bulan Februari 1992.

Setelah Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, Brussels khawatir anggota lain, seperti Belanda, mungkin meninggalkan blok itu. Di Belanda, seperti di Inggris, ada kekhawatiran besar mengenai imigrasi dan kedaulatan. Tapi para pendukung Uni Eropa menunjukkan peran penting blok itu sebagai pasar tunggal bagi kemakmuran Belanda.

Maastricht berada di wilayah selatan Belanda di mana perahu dan sepeda adalah alat transportasi terbaik untuk berkeliling.

Nama kota itu dikaitkan dengan perjanjian tahun 1992 yang menciptakan Uni Eropa modern, serikat politik dan keuangan yang kuat.

Tapi sekarang Maastricht menjadi kawasan Belanda yang paling menentang meningkatnya wewenang Uni Eropa

Jajak pendapat terbaru menunjukkan setengah pemilih Belanda ingin agar referendum tentang keanggotaan Uni Eropa diadakan.

Laurence Stassen, mantan anggota parlemen Eropa mengatakan, "Sebagai satu bangsa satu negara, kita harus memiliki perbatasan kita sendiri, pengadilan kita sendiri, dan membuat undang-undang kita sendiri dan bukan oleh orang-orang di Brussels atau Uni Eropa".

Stassen adalah mantan anggota Partai Kebebasan berhaluan ekstrim kanan yang dipimpin oleh Geert Wilders, yang saat ini tampak populer di berbagai jajak pendapat. Wilders telah berkampanye untuk menentang apa yang disebutnya Islamisasi Eropa dan telah menuntut agar Belanda, seperti Inggris, melakukan pemungutan suara mengenai keanggotaan Uni Eropa.

Stassen mengatakan bahwa Brexit semata-mata tentang memulihkan kedaulatan. Meskipun demikian, ada banyak kekhawatiran tentang imigrasi.

Di Rotterdam, terdapat pelabuhan terbesar Eropa yang menangani 465 juta ton kargo setiap tahunnya dan menghubungkan negara-negara yang memiliki perekonomian besar di kawasan utara Eropa dengan seluruh dunia.

Sjaak Poppe, juru bicara pelabuhan Rotterdam mengemukakan, "Sebagian besar kemakmuran, baik di Belanda maupun di Eropa, yang kita peroleh secara keseluruhan selama dekade terakhir bergantung pada perdagangan bebas dan pergerakan barang dan orang."

Di Rotterdam, pilihan untuk keluar dari Uni Eropa dipandang sebagai bencana ekonomi. Poppe menambahkan, "Dengan Eropa, kita 500 juta orang, zona perdagangan terbesar, pasar terbesar dengan sendirinya. Dan Belanda sebagai negara hanya 16 juta orang."

Para pendukung Uni Eropa kecewa atas pilihan rakyat Inggris untuk keluar.

Profesor Fabian Amtenbrink dari Universitas Erasmus di Rotterdam mengatakan bahwa Inggris adalah mitra dagang utama bagi Belanda. Ada ikatan bersejarah yang kuat.

Tetapi ada kekhawatiran umum tentang Uni Eropa di seluruh Eropa. Amtenbrink menambahkan, "Sentimen paling mendasar adalah Brussels terlalu banyak mengatur. Dan cerita dari sisi lain adalah bahwa proses pengambilan keputusan Uni Eropa tidak mencerminkan keinginanan warganya."

Hukum Belanda membuat referendum tentang keanggotaan Uni Eropa tidak mungkin dilaksanakan untuk saat ini. Tapi dengan pemilihan umum dijadwalkan pada bulan Maret tahun depan, semangat seperti Brexit bisa dirasakan pertama kali di Belanda, salah satu anggota pendiri serikat itu. [as/ab]

XS
SM
MD
LG