Tautan-tautan Akses

Seruan Mogok Nasional Gagal Raih Dukungan Luas di Pantai Gading


Para pendukung Presiden terpilih Alassane Ouattara melakukan unjuk rasa sambil membawa poster anti-Gbagbo di Abidjan.

Para pendukung Presiden terpilih Alassane Ouattara melakukan unjuk rasa sambil membawa poster anti-Gbagbo di Abidjan.

Pemenang pilpres Alassane Ouattara menyerukan mogok nasional tersebut untuk meningkatkan tekanan bagi Presiden Gbagbo.

Di Pantai Gading, seruan mogok nasional untuk menentang Presiden Laurent Gbagbo, gagal meraih partisipasi luas, sementara mediator regional untuk menyelesaikan krisis pasca-pemilu di negara itu melanjutkan pembicaraan di Abidjan. Pemenang pemilihan presiden yang didukung PBB, Alassane Ouattara, menyerukan kepada warga Pantai Gading untuk melakukan mogok nasional hari Selasa untuk meningkatkan tekanan terhadap Presiden Laurent Gbagbo, yang menolak mundur menyusul pemilihan presiden bulan November.

Para saksi di ibukota, Abidjan, mengatakan banyak orang agaknya bekerja seperti biasa hari Selasa dan orang-orang yang ikut mogok hanya terpusat di lingkungan-lingkungan yang pro-Ouattara.

Gbagbo tidak bergeming meskipun sanksi-sanksi internasional semakin memuncak. Dana-dana diblokir, tekanan diplomatik dan ancaman intervensi militer regional juga meningkat.

Mediator Uni Afrika dan Perdana Menteri Kenya, Raila Odinga, tiba di Abidjan hari Senin dan bertemu dengan kedua pemimpin tersebut.

Setelah pertemuannya dengan Gbagbo, Odinga mengatakan ada kemungkinan kedua pesaing itu bisa bertemu hari Selasa. Odinga mengatakan, "Kami telah mengusulkan pertemuan yang telah disepakati akan berlangsung besok ... Ini, tentu saja, tergantung dari apakah syarat-syarat tertentu bisa dipenuhi."

PM Kenya, Raila Odinga (kanan) saat bertemu Laurent Gbagbo di Abidjan, 17 Januari 2011. Odinga sedang mengusahakan pertemuan antara Gbagbo dan Ouattara.

PM Kenya, Raila Odinga (kanan) saat bertemu Laurent Gbagbo di Abidjan, 17 Januari 2011. Odinga sedang mengusahakan pertemuan antara Gbagbo dan Ouattara.

Kelompok Ouattara mengatakan, bagaimanapun, Gbagbo harus mundur sebelum pertemuan tatap muka dapat berlangsung.

Ouattara, yang masih tinggal di sebuah hotel di Abidjan di bawah perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB, mengatakan kepada VOA bahwa ia yakin Gbagbo tidak serius tentang mediasi internasional dan berusaha mengulur-ulur waktu.

Menurut Ouattara, "Dengan mengulur-ulur waktu ia bisa mengimpor senjata, amunisi, dan merekrut tentara bayaran dan milisi agar ia dapat terus membunuhi warga Pantai Gading. Dia pikir ini bagus untuk dirinya, tapi sangat buruk bagi Pantai Gading dan warganya."

Namun pemerintah Gbagbo mengatakan justru para bekas pemberontak pemberontak yang mendukung Ouattaralah yang menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional.

Kantor HAM PBB mengatakan kekerasan pasca pemilu telah menewaskan sedikitnya 247 orang di Pantai Gading.

Perdana Menteri Kenya Odinga tetap berada di Abidjan, di mana ia bertemu dengan para diplomat dan duta besar yang mewakili para anggota Dewan Keamanan PBB hari Selasa dengan harapan bisa mendorong perundingan lebih maju.

XS
SM
MD
LG