Tautan-tautan Akses

Serba-Serbi Berlebaran di Amerika

  • Wita Sholhead

Melakukan shalat Ied dengan warga muslim lain dari beragam latar belakang budaya menciptakan rasa kebersamaan di kalangan Muslim AS (foto: dok.).

Melakukan shalat Ied dengan warga muslim lain dari beragam latar belakang budaya menciptakan rasa kebersamaan di kalangan Muslim AS (foto: dok.).

Muslim di Amerika, sebagaimana Muslim di belahan dunia lainnya, bersiap-siap menyambut lebaran yang tentu saja dirayakan dengan tradisi Amerika yang unik.

Salah satu ciri khas berlebaran di Amerika adalah merayakan Idul Fitri dengan Muslim dari beragam latar belakang ras dan budaya. Zainib Ahmad, misalnya, yang berimigrasi dari Pakistan 13 tahun lalu, sambil menunggu tibanya saat untuk melakukan shalat Ied, mengagumi keanekaragaman orang-orang yang duduk bersila di sekitarnya dan yang sedang memasuki masjid.

Ia mengamati orang-orang Arab berjubah panjang yang terlihat datang bercampur baur dengan orang-orang Asia selatan, orang Somalia yang duduk bercakap-cakap dengan orang Palestina yang mengenakan pakaian tradisional, dan orang-orang yang mengenakan jas dan dasi, yang nampaknya siap kembali bekerja setelah shalat Ied.

Orang-orang Amerika berkulit hitam dan putih juga tidak luput dari pengamatannya. Ia merasa bersyukur bisa merasakan kebersamaan yang sesungguhnya di tengah keragaman ras dan budaya dalam berlebaran; hal yang tidak pernah dirasakannya ketika masih tinggal di negara asalnya.

Perbedaan lain yang juga terasa adalah perayaan lebaran itu sendiri. Segera setelah shalat Ied dan khutbah usai jemaah yang hadir biasanya dipersilakan langsung menuju bagian lain ruangan di dalam masjid untuk mencicipi aneka hidangan khas lebaran manca negara sumbangan para ibu. Jamuan makan ini bukan saja memberi jemaah kesempatan untuk bisa langsung merayakan lebaran, tetapi juga bisa langsung berhalal bihalal, khususnya bagi yang harus kembali ke tempat kerja setelah shalat Ied.

Kembali bekerja usai shalat Ied banyak dilakukan Muslim Amerika, karen Idul Fitri bukan merupakan hari libur nasional. Jadi, untuk merayakan lebaran, Muslim harus mengatur sendiri libur lebaran bagi anak-anak dan meminta cuti dari tempat kerja. Bahkan untuk mengundang orang berlebaran, terutama apabila lebaran jatuh pada hari kerja, banyak keluarga Muslim menggeser acara itu ke akhir pekan.

Bagi yang bisa menikmati perayaan lebaran sepanjang hari, biasanya pergi mengajak keluarga ke Taman Hiburan “Six Flags Great Adventures” seperti yang dilakukan Meera Norris, Muslim asal Mesir yang tinggal di New York.

Diorganisir oleh Islamic Circle of North America (ICNA), taman hiburan yang ada di seluruh Amerika itu setiap Idul Fitri dicadangkan sehari penuh khusus bagi para keluarga Muslim. Dengan rabat sebesar 50 persen untuk setiap karcis masuk, selain bisa menikmati berbagai atraksi dan pertunjukan, orang bisa membeli aneka makanan halal di tempat itu yang hanya ada pada hari lebaran.

Namun, kekhasan paling menonjol yang membedakan lebaran di Amerika dengan di di negara-negara lain di mana Muslim merupakan kelompok minoritas adalah ucapan khusus selamat berlebaran yang disampaikan oleh presiden Amerika kepada seluruh warga Muslim Amerika.

Tradisi ini pertama kali dilakukan Presiden George HW Bush dan kemudian dilanjutkan oleh Presiden Bill Clinton, Presiden George W. Bush, dan kini Presiden Barack Obama. Berbicara kepada harian Washington File, Imam Mohamed Magid, pimpinan All Dulees Area Muslim Society (ADAMS) di Sterling, Virginia mengatakan, ucapan selamat Idul Fitri yang khusus disampaikan presiden Amerika membuat Muslim merasa hari besar mereka sebagai bagian dari hari libur besar Amerika.

XS
SM
MD
LG