Tautan-tautan Akses

Serah Terima 4 WNI Sandera Abu Sayyaf di Perairan Perbatasan Filipina-Indonesia


Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nassir di kantor Kemenlu RI Pejambon Jakarta Kamis 12 Mei 2016. (Foto: VOA/Andylala).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nassir di kantor Kemenlu RI Pejambon Jakarta Kamis 12 Mei 2016. (Foto: VOA/Andylala).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha Nassir mengatakan empat WNI yang sebelumnya disandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf akan tiba di Jakarta, Jumat (13/5) dan langsung diserahkan ke pihak keluarga.

Pemerintah Filipina dan Indonesia berhasil menyelamatkan empat warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Nassir di kantor Kemenlu RI Pejambon Jakarta, Kamis (12/5) menjelaskan proses pemulangan tersebut masih berlangsung. Menurut rencananya, keempat WNI tersebut akan tiba di Jakarta, Jumat (13/5).

"Penyerahterimaan dilakukan di tengah laut, di antara kedua laut Indonesia dan Filipina. Mereka dibawa ke Tarakan dengan kapal KRI kita, dan dari situ dibawa ke Jakarta. Kemungkinan besar akan mendarat di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Tapi kita masih lihat jarak antara perjalanan menuju Tarakan. Siang atau malam ini, bisa juga besok (Jumat, 13/5)," jelasnya.

Arrmanatha Nassir menambahkan, Kementerian Luar Negeri mempersilakan pihak keluarga menjemput keempatnya di kantor Kemlu setiba mereka di Jakarta.

"Ini bagian dari proses perlindungan warga negara Indonesia. Kita serahkan serah terima kepada pihak keluarga di kantor Kementerian Luar Negeri Pejambon, Jakarta," lanjutnya.


Arrmanatha Nassir memastikan, pembebasan korban sandera ini merupakan salah satu bentuk konkret dari kerjasama Trilateral antara Indonesia, Filipina dan Malaysia.

"Ini adalah salah satu kerjasama kongkritnya, ya. Salah satu yang disepakati adalah patroli bersama. Itu akan dikembangkan di dalam aturan kesepakatan bersama (Standard Operational Procedure - SOP) yang lebih detail. Saat ini sudah ada patrol yang memungkinkan kapal Indonesia berada di sekitar laut Filipina untuk menerima empat WNI yang dibebaskan," imbuh Arrmanatha Nassir.

Meski aturan kesepakatan bersama untuk operasi militer gabungan masih dalam pembahasan, namun menurut Arrmanatha Nassir, komunikasi intens antar menteri luar negeri dan Panglima militer tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Filipina terus berjalan terkait isu pengamanan bersama wilayah laut.

"Komunikasi lebih diintensifkan ya, baik di antara menteri luar negeri dan antara panglima angkatan bersenjata. Itu dalam konteks hotlinenya. Selain itu dalam konteks patroli bersama, itu nanti akan didetailkan atau dikembangkan SOP yang saat ini sedang disused pihak militer Indonesia, Filipina dan Malaysia," kata Arrmanatha Nassir.

Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/5) mengatakan, keberhasilan pembebasan empat anak buah kapal warga negara Indonesia (WNI) itu karena kerja sama yang baik antara Pemerintah Indonesia dan Filipina.

"Alhamdulillah akhirnya empat ABK WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata sudah dapat dibebaskan. Dan pembebasan sandera ini berhasil dilakukan melalui kerjasama yang baik antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Filipina. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Filipina yang telah memberikan kerjasama yang sangat baik dalam dua kali pembebasan WNI kita," kata Presiden Jokowi.

Keempat WNI itu merupakan anak buah kapal (ABK) dari Kapal Tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi. Kapal mereka dibajak saat melintas di perairan sekembali dari Filipina menuju Tarakan, Kalimantan Timur. [aw/lt]

XS
SM
MD
LG