Tautan-tautan Akses

10 Tahun Berlalu, Ke Mana Perginya Puing-puing Akibat Tsunami?


Para penyintas di tengah puing-puing akibat tsunami di Banda Aceh, 31 Desember 2004.

Para penyintas di tengah puing-puing akibat tsunami di Banda Aceh, 31 Desember 2004.

Tsunami meninggalkan sekitar 10 juta meter kubik sampah dan puing-puing, sebagian besar dibuang ke laut dan dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Mobil, kapal nelayan, rumah-rumah, seluruh desa. Tsunami 2004 meninggalkan gunungan puing-puing di Banda Aceh sampai sejauh 6 kilometer.

Beberapa masih ada sekarang, didaur ulang menjadi bahan baku jalan, bangunan dan meubel. Beberapa lainnya dibakar, menciptakan bahaya lingkungan hidup. Dan sebagian besar lainnya dibuang ke laut.

Sepuluh tahun setelah gelombang raksasa mengepung kota berpenduduk empat juta orang itu sehari setelah Natal, Banda Aceh hampir pulih kembali. Gunungan sampah telah hilang, dan sulit membayangkan kerusakan yang waktu itu menyumbat sungai-sungai, memblokir jalan-jalan dan mencabut pepohonan sampai ke akar-akarnya.

Tumpukan-tumpukan tak berujung dari logam, potongan kayu dan patahan beton telah hilang kecuali beberapa yang tersebar sebagai pengingat untuk turis dan warga lokal.

Namun pihak berwenang masih khawatir dengan risiko kesehatan dan lingkungan akibat puing-puing yang tercemar minyak, asbestos dan limbah medis yang sekarang ada di dasar laut lepas pantai Aceh dan di 32 tempat sampah tak resmi di sekitar kota.

"Pembuangan sampah yang tidak aman akan mengakibatkan kerusakan lingkungan pada jangka panjang," ujar Kuntoro Mangkusubroto, mantan kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Nias, yang memimpin upaya pembersihan masif dan dibubarkan pada 2009 setelah pekerjaannya dianggap selesai.

Banda Aceh merupakan kota yang paling parah terkena bencana tersebut. Tsunami meninggalkan sekitar 10 juta meter kubik sampah dan puing-puing, sebagian besar dibuang ke laut, menurut Kuntoro. Jika semua dimampatkan dalam lapangan seluas satu hektar, akan tercipta menara sampah setinggi 1.000 meter.

Membersihkan kota itu merupakan tugas yang besar dan seringkali membuat kewalahan.

Kapal yang tersapu ombak sampai ke daratan pada tsunami 2004.

Kapal yang tersapu ombak sampai ke daratan pada tsunami 2004.

Selama berminggu-minggu, puing-puing berserakan di jalan, dan petugas penyelamat mengambil mayat-mayat dari bawah rumah dan di dalam kolam, ujar Abdul Mutalib Ahmad, yang bekerja di tempat pembuangan sampah satu-satunya di Aceh dan menyaksikan tsunami dari atas bangunan berlantai tiga.

"Puing-puing ada di mana-mana," ujarnya. "Kami kira kami menghadapi masalah kesehatan umum yang parah dengan adanya sampah yang masif itu."

Pada awalnya, banyak penyintas membakar kayu dan sampah lainnya. Namun pihak berwenang mencegah mereka melakukan hal itu karena mencemari udara dan dapat membuat mereka terpapar racun yang bisa mengganggu pernafasan.

Beberapa sampah ditutupi minyak atau zat kimia, membuatnya mudah terbakar dan berbahaya, dan setidaknya dalam satu kasus, api menyebar tanpa kendali di wilayah yang luas.

Saat jalan-jalan utama dibersihkan, truk-truk mulai membawa ton-ton sampah itu ke tempat pembuangan setiap hari untuk setidaknya setahun, menurut Abdul.

Namun sejumlah sampah tanpa bisa dihindari dibuang di sembarang lokasi di seluruh kota. Mereka masih mengandung minyak yang bocor dari tong dan bahan baku rumah yang dilapisi asbestos.

Sampah-sampah berbahaya yang ditemukan diantara puing-puing dikubur di daerah yang ditandai secara terpisah di dalam tempat pembuangan sampah, menurut Tomi Soetjipto, juru bicara Program PBB untuk Pembangunan (PBB), yang mengawasi sebagian besar pembersihan itu. Dan hampir 50 ton obat kadaluarsa, beberapa didonasikan setelah tsunami, ada di gudang menunggu pembuangan secara aman.

Tiga bulan setelah tsunami, UNDP memulai program daur ulang senilai US$40,5 juta yang mempekerjakan 400.000 pekerja sementara untuk mengambil kayu dan batu dari puing-puing dan menggunakannya untuk membangun kembali jalan dan rumah serta untuk membuat meubel.

Sampah yang didaur ulang itu telah digunakan untuk membangun kembali 100 kilometer jalan dan membuat 12.000 unit meubel kayu, menurut Kuntoro.

Proyek Pengelolaan Sampah Pemulihan Tsunami dari UNDP membersihkan sekitar 1 juta meter kubik puing-puing dari Banda Aceh, yang cukup untuk mengisi 400 kolam renang ukuran Olimpade. Program itu juga melatih sekitar 1.300 pegawai pemerintah dalam mengawasi program tersebut.

Sekitar 67.000 metrik ton bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya, seperti gelas, plastik dan kardus diambil dari tempat-tempat pembuangan sampah dan dijual di pasar-pasar lokal.

Pihak berwenang mengatakan pembersihan itu dimungkinkan hanya oleh bantuan komunitas internasional.

"Akhirnya, sampah-sampah tsunami dapat dibersihkan. Untuk pekerjaan besar seperti itu, dunia tidak meninggalkan kita untuk menghadapinya sendirian," ujar Kuntoro. (AP)

XS
SM
MD
LG