Tautan-tautan Akses

AS

Polisi Chicago Mengaku Tak Bersalah atas Penembakan Remaja Kulit Hitam


Polisi Chicago Jason Van Dyke, tengah, meninggalkan ruang pengadilan bersama pengacaranya, Daniel Herbert, di Leighton Criminal Court Building in Chicago, Jumat, 18 Desember 2015.

Polisi Chicago Jason Van Dyke, tengah, meninggalkan ruang pengadilan bersama pengacaranya, Daniel Herbert, di Leighton Criminal Court Building in Chicago, Jumat, 18 Desember 2015.

Seorang polisi kulit putih di Chicago yang menembak seorang remaja kulit hitam sebanyak 16 kali, mengaku tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan yang disampaikan, sementara Walikota Chicago Rahm Emanuel mempersingkat liburannya setelah dua penembakan fatal lagi yang dilakukan polisi.

Jason Van Dyke menyampaikan pengakuan tidak bersalah itu hari Selasa (29/12) di pengadilan Cook County, Chicago, di mana ia dituntut dengan enam pasal pembunuhan terkait penembakan Laquan McDonald yang berusia 17 tahun pada 2014 lalu.

Dikeluarkannya video yang diambil dari bagian dalam mobil polisi, yang menunjukkan penembakan itu, meningkatkan ketegangan di kota Chicago bulan lalu dan menimbulkan aksi demonstrasi selama beberapa minggu yang memicu pengunduran diri kepala polisi Chicago Garry McCarthy.

Video itu menunjukkan McDonalds berlari kecil mendekati polisi tersebut, kemudian berjalan menjauh ketika ia ditembak sebanyak 16 kali, banyak peluru bahkan ditembakkan ke tubuhnya ketika ia sudah jatuh ke tanah.

Dalam perkembangan lainnya, hari Sabtu lalu (26/12) polisi menembak seorang mahasiswa berusia 19 tahun dan seorang ibu lima anak berusia 55 tahun. Kedua korban juga warga Amerika keturunan Afrika. Ras beberapa polisi yang terlibat dalam penembakan hari Sabtu, yang oleh polisi disebut sebagai “gangguan domestik” itu, belum diungkapkan.

Kepolisian Chicago mengatakan ketika beberapa polisi tiba di lokasi kejadian hari Sabtu, mereka “berhadapan dengan orang yang agresif, sehinga membuat polisi melepaskan tembakan yang melukai dua individu.”

Pernyataan polisi mengatakan perempuan yang diketahui bernama Bettie Jones, “secara tidak sengaja terkena tembakan dan meninggal dengan tragis.”

Meskipun polisi hanya memberikan sedikit informasi tentang penembakan itu, sebuah laporan di suratkabar the Chicago Tribune mengatakan Quintonio LeGrier sebelumnya mengancam ayahnya dengan tongkat bisbol yang terbuat dari logam ketika polisi akhirnya dipanggil ke lokasi. Suratkabar itu mengatakan LeGrier dan Jones, tetangga yang tinggal di bagian bawah gedung apartemen itu, secara bersamaan sedang berada di pintu depan gedung. Suratkabar itu mengutip pernyataan ibu LeGrier, Janet Cooksey, yang mengatakan keluarga itu diberitahu bahwa putranya ditembak sebanyak tujuh kali.

Cooksey mengatakan kepada suratkabar itu, putranya “tidak memiliki senjata api. Ia hanya memiliki tongkat bisbol.” Ditambahkannya “satu atau dua tembakan mungkin sudah merobohkan putranya.”

Cooksey mengatakan “Anda memanggil polisi, Anda berupaya mendapatkan pertolongan, tetapi Anda malah kehilangan orang yang dicintai. Bagaimana mereka sesungguhnya dilatih? Hanya untuk membunuh? Putra saya seorang mahasiswa berprestasi. Ia berada di sini selama libur Natal dan kini kami kehilangan dirinya.”

The Chicago Sun Times melaporkan ayah LeGrier, Antonio, hari Senin (28/12) telah mengajukan gugatan “wrongful death” atau gugatan hukum terhadap tindakan aparat terhadap warga sipil yang menimbulkan kematian, kepada pemerintah kota Chicago.

Juru bicara kantor walikota Chicago, Kelley Quinn, dalam pernyataan hari Senin mengatakan walikota Rahm Emmanuel telah mempersingkat liburan keluarga dengan istri dan ketiga anaknya di Kuba, untuk “melanjutkan upaya memulihkan akuntabilitas dan kepercayaan pada Kepolisian Chicago.” Ditambahkannya walikota itu telah melakukan kontak terus menerus dengan kepala polisi sementara, John Escalante.

Departemen Kehakiman Amerika sedang menyelidiki tindak-tanduk aparat polisi Chicago.

Emmanuel mengatakan tidak bisa menerima perlakuan berbeda yang dilakukan beberapa polisi Chicago terhadap warga Amerika keturunan Afrika dan warga kulit putih, khususnya terhadap remaja, dan menyesalkan orang tua warga Amerika keturunan Afrika yang mengatakan kepada anak-anak mereka supaya waspada terhadap polisi. [em/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG