Tautan-tautan Akses

Seorang Penyiar TV Terkemuka Turki Dipukuli di Istanbul

  • Dorian Jones

Ahmet Hakan, penyiar TV dan kolumnis terkemuka untuk suratkabar Turki 'Hurriyet' (foto: dok).

Ahmet Hakan, penyiar TV dan kolumnis terkemuka untuk suratkabar Turki 'Hurriyet' (foto: dok).

Ahmet Hakan, seorang penyiar TV dan kolumnis terkemuka untuk suratkabar Hurriyet, dikabarkan cedera patah hidung dan tulang rusuk setelah diserang empat orang di luar rumahnya di Istanbul, Kamis (1/10) dini hari.

Serangan terhadap Ahmet Hakan, yang sering mendapat ancaman karena mengecam partai yang berkuasa, terjadi di tengah meluasnya kekhawatiran tentang kebebasan pers menjelang pemilu bulan depan.

Ahmet Hakan, penulis untuk suratkabar Hurriyet, dikabarkan cedera patah hidung dan tulang rusuk setelah diserang empat orang Kamis (1/10) dini hari. Kedutaan besar Amerika dan Inggris merilis pesan Twitter yang menyebut serangan itu sebagai serangan terhadap kebebasan pers.

Sedat Ergin, editor harian Hurriyet, hari Kamis menduga serangan itu bermotif politik.

Ergin mengatakan Hakan sering mendapat ancaman secara terbuka dan sempat meminta perlindungan polisi. Kata Ergin, serangan tersebut sepertinya terencana.

Polisi telah menahan empat orang terkait insiden itu.

Hurriyet adalah satu dari segelintir organisasi media yang masih kritis terhadap partai AK yang berkuasa.

Seorang pejabat senior AK mengatakan partainya menentang serangan itu, tetapi banyak pemimpin partai telah sering mengecam Hurriyet terutama Hakan.

Bulan lalu, wakil ketua parlemen Abdurraham Boynukalin terlibat dalam protes bercampur kekerasan dengan suratkabar itu. Ia mengancam secara implisit editor Hurriyet dan juga Hakan.

Cem Kucuk, kolumnis terkemuka sebuah harian pro-pemerintah, baru-baru ini menulis bahwa Hakan bisa “dipukul dengan mudah bagaikan lalat.”

Analis politik Cengiz Aktar dari Universitas Suleyman Sah di Istanbul mengatakan serangan atas Hakan itu adalah bagian dari meningkatnya tekanan terhadap media menjelang pemilu tanggal 1 November.

“Ada banyak kasus lain wartawan yang diadili karena secara terbuka mengkritik pemerintah. Jadi tidak ada orang yang kebal dan kita menghadapi bulan Oktober yang sulit. Kita mungkin akan melihat lebih banyak aksi kekerasan terhadap tokoh-tokoh publik,” ujar Aktar.

Amerika dan Uni Eropa terus menyuarakan keprihatinan mengenai kebebasan media di Turki. Kelompok media Reporters Without Borders mengatakan penyensoran di negara itu terus meningkat dan itu berbahaya. [th/ii]

XS
SM
MD
LG