Tautan-tautan Akses

'Senyap', Film soal Pembantaian 1965, Menangkan 5 Penghargaan Internasional


Adi Rukun (kiri) dan sutradara Joshua Oppenheimer dalam sesi foto untuk film 'The Look of Silence' di Venesia, Italia (28/8).

Adi Rukun (kiri) dan sutradara Joshua Oppenheimer dalam sesi foto untuk film 'The Look of Silence' di Venesia, Italia (28/8).

Film 'Senyap' atau 'The Look of Silence' adalah kelanjutan dari dokumenter sebelumnya Jagal atau The Act of Killing arahan sutradara AS Joshua Oppenheimer dan ko-sutradara anonim asal Indonesia.

Film Senyap atau 'The Look of Silence' mengenai pembantaian massal 1965 di Sumatera Utara, memenangkan lima Penghargaan dalam Festival Film Internasional Venesia ke 71 di Italia akhir Agustus.

Film dokumenter ini bercerita mengenai seorang laki-laki yang mencari tahu pembunuh kakaknya.

40 tahun lebih telah berlalu, Adi Rukun dan ibunya yang sudah lansia masih memendam kepedihan dari tragedi pembantaian massal tahun 1965 di Indonesia. Kakak Adi adalah salah seorang korban pembantaian di Sumatera Utara.

Adi, yang baru lahir dua tahun setelah peristiwa itu, menjalani kehidupannya dengan tanda tanya besar; bagaimana kakaknya dibunuh dan siapa pelakunya?

Jawabannya terkuak dalam film dokumenter 'The Look of Silence' atau Senyap yang diputar perdana dalam Festival Film Internasional Venesia.

Film ini mengikuti perjalanan Adi yang menemui pelaku pembunuh kakaknya, bukan untuk balas dendam, namun untuk mencari pemahaman.

Berbicara kepada VOA lewat telepon dari Kanada di sela-sela Festival Film Internasional Toronto, Adi menjelaskan alasan keterlibatannya dalam film ini.


“Ini bukan hanya masalah saya pribadi, tetapi menyangkut jutaan rakyat Indonesia yang selama ini selalu seperti itu keadaannya. Sesuatu yang sangat buruk akan tidak baik bila dibiarkan terus menerus. Seperti halnya di sekolah masih memberikan pelajaran yang negatif tentang orang-orang yang dianggap komunis. Jadi sepertinya naïf apabila kita mengetahui hal yang sangat buruk, kita biarkan begitu saja tanpa kita berusaha berbuat sesuatu hal agar semuanya menuju lebih baik lagi,” papar Adi Rukun.

Khawatir akan ancaman atau intimidasi yang mungkin terjadi kepada dirinya dengan perilisan film kontroversial ini, Adi mengaku kepada VOA untuk sementara ini dia memilih untuk tinggal di luar negeri. Namun dia membantah mencari suaka ke negara lain.

“Sepertinya belum. Kita masih lihat bagaimana sikap pemerintah Indonesia. Dan tujuan saya juga bukan untuk menjelek-jelekkan pemerintah Indonesia. Saya sangat mencintai Indonesia karena saya lahir, dibesarkan, dan semuanya ada di Indonesia. Jadi saya tidak mungkin keluar begitu saja tanpa sebab yang memang sangat urgent,” tambah Adi.

Sementara keluarganya, yang sebelumnya tinggal di Sumatera Utara, telah pindah ke tempat lain yang dinilai lebih aman. Sebelumnya, mereka tinggal tidak jauh dari para pelaku pembantaian 1965, dan pernah mengalami ancaman serta intimidasi, seperti yang terekam dalam film tersebut.

Senyap atau The Look of Silence adalah kelanjutan dari dokumenter sebelumnya Jagal atau The Act of Killing arahan sutradara AS Joshua Oppenheimer dan ko-sutradara anonim asal Indonesia.

Film Senyap mengambil perspektif keluarga korban sementara Jagal mengambil perspektif para pelaku pembantaian.

Usai premier di Venesia, film ini juga diputar dalam Festival Film Telluride dan Festival Film Toronto.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG