Tautan-tautan Akses

Sentimen Anti-Gay Ancam Upaya Akhiri Epidemi AIDS di Indonesia


Penyalaan lilin untuk memperingati Hari AIDS Sedunia di Surabaya, 1 Desember 2015. (AP/Trisnadi)

Penyalaan lilin untuk memperingati Hari AIDS Sedunia di Surabaya, 1 Desember 2015. (AP/Trisnadi)

Upaya-upaya untuk menjangkau kelompok ini, yang menghadapi pertumbuhan penyebaran HIV tercepat, semakin sulit karena meningkatnya stigma sosial.

Meningkatnya sentimen anti-gay di Indonesia dapat menghambat upaya untuk melawan infeksi HIV yang menyebar cepat di antara salah satu kelompok yang paling berisiko, mengancam tidak tercapainya target negara ini untuk mengakhiri epidemi AIDS pada 2030, menurut seorang pejabat.

Meskipun tingkat infeksi baru telah merosot secara global, Indonesia adalah salah satu negara yang menghadapi peningkatan penyebaran penyakit tersebut di antara laki-laki gay dan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (MSM) dalam 10 tahun terakhir.

Prevalensi HIV di antara kelompok tersebut melonjak menjadi 25,8 persen tahun 2015 dari 5,4 persen tahun 2007, menurut Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

"Terkait jumlah, MSM adalah (kelompok) dengan pertumbuhan tercepat," ujar Sekretaris KPA Kemal Siregar kepada Thomson Reuters Foundation.

Asia-Pasifik merupakan wilayah dengan jumlah tertinggi kedua orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di dunia. India, Indonesia dan China mencakup sekitar tiga perempat dari infeksi baru tahun 2015, menurut badan AIDS PBB UNAIDS.

Afrika Selatan memiliki jumlah tertinggi ODHA di dunia.

UNAIDS memperkirakan ada sekitar 690.000 ODHA di Indonesia. Kemal mengatakan sekarang ini ada "ketidakpastian" mengenai target mengakhiri epidemi AIDS di Indonesia tahun 2030, karena upaya-upaya untuk menjangkau kelompok MSM, yang ia gambarkan sebagai "populasi tersembunyi", telah semakin sulit akibat meningkatnya stigma sosial.

Hal ini menyusul serangan terhdap komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) tahun ini.

Situasi ini juga diperburuk oleh penurunan dana bantuan asing karena pertumbuhan ekonomi Indonesia dan penarikan donor internasional. Dana eksternal merupakan sumber daya penting dalam upaya pencegahan penyebaran HIV.

"Jika pendanaan tidak ada, sangat sulit mencapai kelompok ini karena pendanaan pemerintah sebagian besar untuk perawatan, pengobatan, bukan untuk pencegahan," ujar Kemal.

Komunitas LGBT telah lama ditolerir di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah perkotaan, namun serangan tiba-tiba muncul Januari setelah seorang menteri mengatakan komunitas ini dilarang dari kampus-kampus universitas.

Serangan-serangan terhadap komunitas LGBT kemudian meningkat, dengan para menteri dan pemimpin agama mengecam homoseksualitas, yang memicu kecaman dari kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Pemerintah mengatakan bulan Agustus "tidak ada ruang" untuk gerakan LGBT di Indonesia.

Kemal Siregar dari KPA mengatakan pihaknya telah mengintensifkan upaya untuk menjangkau kelompok MSM ini dan berencana mendirikan klinik-klinik ramah MSM di luar 10 kota yang sekarang memilikinya.

"Mereka harus tahu komunitas ini, harus mengurangi stigma ini dan memiliki kemampuan komunikasi untuk berkomunikasi dengan kelompok ini," ujar Kemal.

Sejak kasus HIV pertama dilaporkan di Indonesia tahun 1987, 13.449 orang telah meninggal karena penyakit terkait virus ini, menurut data terbaru bulan Maret dari Kementerian Kesehatan. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG