Tautan-tautan Akses

AS

Senat AS akan Lakukan Voting Soal Pengawasan Senjata Api

  • Michael Bowman

Senator Cory Booker (utusan New Jersey dari Partai Demokrat), dalam konferensi pers di Gedung Capitol, Washington (16/6).

Senator Cory Booker (utusan New Jersey dari Partai Demokrat), dalam konferensi pers di Gedung Capitol, Washington (16/6).

Para anggota Demokrat menguasai podium Senat selama 15 jam, menuntut dilakukannya voting legislasi mengenai penanggulangan kekerasan dengan senjata api yang telah lama terhenti.

Sepekan setelah penembakan massal di sebuah klub malam kaum gay di Orlando, Florida, Senat Amerika diperkirakan akan melakukan voting mengenai beberapa proposal untuk mencegah penjualan senjata api kepada tersangka teroris dan meluaskan pemeriksaan terhadap orang-orang yang membeli senjata api di Amerika Serikat.

Wartawan VOA Michael Bowman melaporkan, belum jelas apakah legislasi mengenai pengawasan senjata api itu dapat lolos di Kongres, di mana mayoritas anggota Fraksi Republik menyatakan terorisme yang diilhami ISIS adalah penyebab penembakan di Orlando itu.

Lonceng-lonceng gereja berdentang di Orlando tepat satu pekan setelah Omar Mateen melakukan penembakan di klub malam Pulse. Siang harinya, keluarga-keluarga yang berduka memakamkan para korban.

“Kita belum berbuat apapun. Sama sekali belum. Saya sudah muak dengan pembantaian orang-orang tak berdosa yang terus berlangsung, dan saya muak dengan tak adanya tindakan apapun dari Senat,” kata Senator Chris Murphy.

Para anggota Demokrat menguasai podium Senat selama 15 jam, menuntut dilakukannya voting legislasi mengenai penanggulangan kekerasan dengan senjata api yang telah lama terhenti.

“Cukup. Cukup. Cukup. Kita tidak dapat terus bersikap biasa-biasa saja di lembaga ini,” kata Senator Cory Booker.

Fraksi Republik menegaskan fokus mengenai pengawasan senjata api telah salah kaprah. “Kita memerlukan strategi untuk mengalahkan ISIS, yang menjadi inspirasi bagi serangan-serangan di dalam negeri ini,” kata Senator John Cornyn dari fraksi Republik.

Tetapi fraksi Republik setuju untuk mengadakan pemungutan suara pada hari Senin (20/6).

“Kami menerima komitmen dari fraksi Republik untuk mengadakan voting mengenai dua legislasi: satu yang memperluas jumlah pemeriksaan latar belakang yang dilakukan, dan ke-dua, legislasi yang membuat teroris dikeluarkan dari daftar orang-orang yang dapat membeli senjata api,” imbuh Senator Chris Murphy.

Senat juga diperkirakan akan melakukan voting mengenai legislasi alternatif dari fraksi Republik yang menguraikan hak-hak pemilik senjata api.

“Kita tidak menghendaki teroris dapat ke toko senjata dan membeli senjata. Dan kita tidak ingin hak-hak Amendemen Ke-dua seorang warganegara yang tak bersalah dan taat hukum ditolak karena ia keliru masuk daftar teroris. Ini bukan perkara sulit,” kata Senator Pat Toomey dari partai Republik.

Senat kemungkinan besar tidak akan mengambil tindakan mengenai pengawasan senjata api, apa lagi DPR.

“Apakah membahas Amendemen II adalah cara menghentikan terorisme? Tidak, itu bukan cara menghentikan terorisme,” kata Ketua DPR Paul Ryan, anggota partai Republik.

Pandangan itu serupa dengan yang dikemukakan pelobi terbesar hak-hak kepemilikan senjata api di Amerika, National Rifle Association (NRA).

“Pernyataan bahwa semakin banyak pengawasan senjata akan mencegah jihadis yang mengira ia akan mati syahid dengan membunuh orang-orang tak berdosa benar-benar tidak menyentuh keseriusan masalah yang kita hadapi,” kata Chris Cox dari NRA dalam acara "ABC This Week".

Pekan lalu di Orlando, presiden memohon agar perpecahan politik diatasi. “Saya merangkul anggota keluarga dan orang tua yang berduka. Dan mereka bertanya, mengapa hal ini terus terjadi? Dan mereka memohon kita berbuat lebih banyak untuk menghentikan pembantaian ini. Mereka tidak peduli mengenai politik,” kata Presiden Barack Obama.

Fraksi Demokrat dan Republik sama-sama khawatir serangan Orlando bukan menjadi penembakan massal terakhir di Amerika. Sementara ini, dalam hal itulah kedua partai sependapat. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG