Tautan-tautan Akses

AS

Senat AS Ajukan RUU Reformasi Program Pemantauan

  • Michael Bowman

Pemimpin Mayoritas Senat Partai Republik, Mitch McConnell mengakui kekalahan atas kegagalan memperpanjang program pemantauan pemerintah AS (foto: dok).

Pemimpin Mayoritas Senat Partai Republik, Mitch McConnell mengakui kekalahan atas kegagalan memperpanjang program pemantauan pemerintah AS (foto: dok).

Senat Amerika hari Senin (1/6) telah mengajukan rancangan undang-undang untuk mereformasi program pemantauan dalam negeri pemerintah.

Senat Amerika mengadakan pemungutan suara dengan hasil 77 banding 17 , untuk memulai perdebatan tentang Rancangan Undang-Undang yang akan mengharuskan perusahaan-perusahaan telekomunikasi, bukannya Badan Keamanan Nasional Amerika (NSA), untuk mengumpulkan dan menyimpan catatan telepon warga Amerika dalam usaha melawan teroris.

Hampir seminggu setelah gagal dalam pemungutan suara Senat, USA Freedom Act digunakan sebagai pilihan terakhir Kongres untuk melanjutkan pengumpulan rekaman telepon secara besar-besaran, meskipun oleh perusahaan swasta, dan bukannya oleh pemerintah.

Pada hari Minggu (31/5) tengah malam, program pemantauan oleh badan keamanan nasional amerika atau NSA menjadi tidak berfungsi, dua tahun setelah diungkapkan oleh bekas kontraktor NSA Edward Snowden, yang hingga kini masih menjadi buron.

Selama berminggu-minggu, Pemimpin Mayoritas Senat Partai Republik Mitch McConnell berusaha keras untuk memperpanjang sementara program pemantauan NSA itu - tetapi gagal.

Hari Minggu, ia mengakui kekalahan, dengan mengatakan USA Freedom Act lebih baik, daripada tidak ada sama sekali catatan telepon yang dikumpulkan.

"Membiarkan program pemantauan itu habis masa berlakunya tanpa berusaha menggantinya, dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang, dan canggih, sama sekali tidak bisa diterima,” ungkap McConnell.

Senat akan memperdebatkan RUU itu sampai Selasa. Kalau bisa lolos tanpa perubahan, RUU itu akan diajukan ke Gedung Putih untuk ditandatangani Presiden Obama. RUU ini mendapat dukungan Presiden Obama. ini adalah kemenangan besar bagi Senator Patrick Leahy dari Partai Demokrat, yang ikut merumuskan RUU itu.

"The USA Freedom Act tahun 2015 merupakan kompromi bipartisan yang disusun dengan hati-hati, melindungi privasi orang Amerika dan juga membuat negara ini aman," kata Leahy.

Untuk sebagian orang, RUU tidak cukup melindungi kebebasan warga Amerika. Senator Rand Paul dari Partai Republik, yang baru-baru ini berbicara selama lebih dari 10 jam mengenai masalah itu, mengatakan pengumpulan besar-besaran rekaman telepon oleh badan apapun merupakan ancaman bagi hak privasi perorangan.

"Kita tidak mengumpulkan informasi mengenai mata-mata. Kita tidak mengumpulkan informasi teroris. Kita mengumpulkan rekaman telpon semua warga Amerika untuk selama-lamanya. Apakah kita akan menyerahkan begitu saja kebebasan kita?," ujar Rand Paul.

Pendukung dari program yang sudah kadaluarsa itu mengatakan, program itu telah banyak dikecam oleh para pengritik yang ingin mengobarkan kemarahan masyarakat atas pengintaian yang dilakukan pemerintah. Bulan lalu, sebuah pengadilan banding pemerintah federal memutuskan bahwa program pemantauan yang dilakukan NSA itu ilegal. Dengan habis masa berlakunya, berarti tidak diperlukan sidang dengar keterangan mengenai kasus itu di Mahkamah Agung.

XS
SM
MD
LG