Tautan-tautan Akses

Semakin Banyak Kota di China Batasi Penjualan Otomotif


Seorang pria menggunakan masker di jalanan Beijing akibat pencemaran udara yang parah, Mei 2013. (Foto: Dok)

Seorang pria menggunakan masker di jalanan Beijing akibat pencemaran udara yang parah, Mei 2013. (Foto: Dok)

Kelompok industri mengatakan semakin banyak kota di China yang menerapkan kebijakan pembatasan penjualan kendaraan bermotor.

Delapan kota lagi di China, pasar otomotif terbesar di dunia, akan mengumumkan kebijakan pembatasan pembelian kendaraan bermotor baru, menurut pejabat asosiasi pembuat otomotif, seiring upaya pemerintah pusat mengontrol polusi udara.

Shi Jianhua, deputi sekretaris jenderal Asosiasi Produsen Otomotif China (CAAM), tidak memberikan detil mengenai langkah-langkah tersebut dan belum ada pernyataan dari pemerintah.

Namun kelompok industri tersebut memperingatkan bahwa rencana pembatasan tersebut dapat mengurangi jumlah penjualan kendaraan sebesar 400.000 unit, atau 2 persen dari penjualan domestik tahunan pada 2012.

“Kita tidak dapat sekedar mengadopsi kebijakan pembatasan karena dapat mengurangi permintaan,” ujar Shi pada sebuah jumpa pers, Rabu (10/7).

“Ini tidak baik bagi pertumbuhan industri otomotif China yang sehat atau pembentukan masyarakat otomotif yang harmonis.”

Pada Juni, penjualan mobil Jerman mencapai 26 persen dari total penjualan di China, diikuti oleh kendaraan China sebesar 25 persen, Jepang 18 persen dan mobil Amerika 16 persen, menurut data CAAM.

Empat kota di China -- Beijing, Shanghai, Guiyang dan Guangzhou – telah membatasi kendaraan di jalanan dengan menggunakan sistem lelang dan lotere untuk menjual plat nomor kendaraan yang terbatas.

Pembatasan baru ini sepertinya akan mempengaruhi kota-kota utama lainnya seperti Chengdu, Chongqing dan Wuhan, menurut Shi.

Sejumlah analis mengatakan prediksi CAAM mengenai dampak pembatasan tersebut sepertinya berlebihan dan dimaksudkan untuk melobi pemerintah melawan perubahan tersebut.

“Saya kira delapan kota tersebut tidak akan tiba-tiba memberlakukan pembatasan pada waktu yang sama, terutama ketika ekonomi China menghadapi tekanan dan pemerintah pusat mendorong konsumsi domestik,” ujar Wu Wenzhao, analis di Sinolink Securities.

Kepemimpinan baru China di bawah Presiden Xi Jinping telah membuat perbaikan kualitas hidup warga China merupakan prioritas kebijakan, namun polusi udara yang parah telah membuatnya menjadi contoh kendala yang dihadapi Beijing.

Bulan lalu, Dewan Negara, atau kabinet China, menyetujui serangkaian langkah untuk melawan polusi udara, termasuk mempercepat pemasangan alat pengontrol polusi pada kilang-kilang minyak kecil berbahan bakar batu bara, dan pembatasan pertumbuhan industri pengkonsumsi energi tinggi seperti baja, semen, aluminum dan kaca.

Pemerintah memiliki janji-janji serupa dalam lebih dari 10 tahun terakhir, namun penegakannya seringkali kurang, terutama di tingkat lokal.

Kota-kota di China termasuk yang paling tercemar di seluruh dunia, dan awan kabut asap di daerah China bagian timur, terlihat dari orbit, mudah ditemui di Internet.
Pencemaran udara di China didorong banyak faktor, terutama kebergantungan negara pada pembangkit listrik tenaga batu bara, namun polusi telah diperburuk oleh budaya yang menjadikan mobil sebagai simbol status.

Pembatasan yang mungkin dari pembelian kendaraan baru datang pada saat pembuat otomotif menghadapi pertumbuhan yang kurang bergairah di pasar yang terimbas perlambatan ekonomi dan kenaikan harga bahan bakar.

Seorang eksekutit produsen otomotif di Beijing mengatakan pembatasan yang terburu-buru seperti ini bukan hal yang baru di China namun ia mengakui tidak semua perusahaan siap menghadapinya.

“Beberapa dari kita sedang giat membuka pabrik,” ujar eksekutif yang menolak disebutkan namanya.

General Motors mengatakan pada April akan menambah empat pabrik lagi dalam tiga tahun mendatang di China untuk meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 5 juta kendaraan tahun ini.

“Ada risiko besar bila perusahaan tidak menambah kapasitas manufaktur di China dengan langkah penuh perhitungan,” ujar eksekutif tersebut. (Reuters/Fang Yan dan Norihiko Shirouzu)
XS
SM
MD
LG