Tautan-tautan Akses

Sektor Kelapa Sawit Malaysia Kekurangan Tenaga Kerja


Perkebunan kelapa sawit Felda Sahabat di Lahad Datu, negara bagian Sabah, Malaysia. (Foto: Dok)

Perkebunan kelapa sawit Felda Sahabat di Lahad Datu, negara bagian Sabah, Malaysia. (Foto: Dok)

Tenaga kerja asal Indonesia sekarang ini lebih suka bekerja di tanah air dibandingkan dengan di Malaysia.

Berkurangnya jumlah pekerja Indonesia yang mendaftar bekerja di sektor kelapa sawit di Malaysia memperburuk kekurangan tenaga kerja yang menurut para pemain industri sangat mempengaruhi penghasilan ekspor di negara kedua penghasil terbesar minyak kelapa sawit di dunia itu.

Malaysia dan Indonesia mencakup 85 persen produk kelapa sawit global, yang dipakai dalam makanan mulai dari margarin sampai biskuit dan mie instan -- dan ledakan ekonomi Indonesia juga memberi ancaman jangka panjang terhadap hasil kelapa sawit seiring berkurangnya pekerja di desa akibat urbanisasi.

Malaysia telah lama bergantung pada pekerja perkebunan dari Indonesia untuk memanen kelapa sawit dari pohon yang bisa mencapai 20 meter, pekerjaan yang sulit digantikan oleh mesin.

Namun jumlah warga Indonesia yang mau meninggalkan rumah dan keluarga untuk melakukan pekerjaan berat itu menurun karena peningkatan upah dan urbanisasi yang pesat. Para pencari kerja asal Indonesia untuk sektor kelapa sawit di Indonesia turun menjadi 38.000 pada 2013 dari lebih dari 120.000 pada masing-masing dua tahun sebelumnya, menurut data dari kedutaan besar Indonesia di Kuala Lumpur.

Para pejabat industri dan analis memperkirakan bahwa para penanam kehilangan 5-10 persen panennya setiap tahun karena kekurangan tenaga kerja, mengurangi total pendapatan ekspor Malaysia sekitar US$766 juta setiap tahun.

Pada 2013, ekspor kelapa sawit Malaysia jatuh menjadi $13,85 miliar, atau terendah sejak 2010, dari $16,2 miliar setahun sebelumnya. Kelapa sawit mencakup sekitar 6 persen dari total ekspor negara itu.

Pemilik perkebunan saat ini menghadapi pilihan antara membayar lebih untuk pekerja baru dan mempertahankan pekerja lama, mengikis lagi margin keuntungan yang sudah tipis, atau mengurangi putaran panen dan membiarkan buah membusuk.

Dari 550.000 pekerja perkebunan Indonesia di Malaysia saat ini, 95 persen dari mereka bekerja di industri kelapa sawit. Sebanyak 80 persen pekerja kelapa sawit di Malaysia adalah orang Indonesia, dan sisanya India.

Pemilik perkebunan menyenangi pekerja Indonesia karena dianggap pekerja keras, memiliki pengalaman sebelumnya di perkebunan kelapa sawit, dan memiliki bahasa yang mirip.

Seorang pekerja perkebunan mendapat sekitar $280 per bulan di Malaysia, lebih tinggi daripada di Indonesia. Namun pekerja asing di Malaysia harus membayar lebih banyak untuk pajak dan utilitas.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia, rata-rata 6 persen per tahun telah membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor pertanian dan memperkecil kesenjangan gaji antara dua negara. Upah minimum juga telah naik. (Reuters/Anuradha Raghu)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG